PELAKITA.ID – Di sebuah kafe yang berada tepat di pinggir jalan, suara kendaraan lalu lalang sesekali menyusup ke ruang diskusi.
Sore itu, Sabtu (24/1/2026), riuh jalan tak mampu meredam khidmatnya peluncuran dan bedah buku Suara Sunyi di Lembah Hati. Justru, di tengah kebisingan itulah suara-suara perempuan menemukan ruangnya.
Kegiatan yang digelar oleh Komunitas Literasi Perempuan Makassar (KLPM) bekerjasama dengan Penerbit Jariah Publishing di Ngunjuk Kopi, Gowa, ini menjadi penanda peluncuran buku antologi kedua komunitas tersebut.
Acara berlangsung pukul 16.00–18.00 WITA dan dihadiri oleh komunitas literasi, mahasiswa, penulis lokal, serta masyarakat umum—dengan mayoritas peserta adalah kaum perempuan.
Buku Suara Sunyi di Lembah Hati memuat tulisan sembilan penulis perempuan dengan genre self-improvement dan tulisan lebih banyak membahas tema kesehatan mental.
Karya-karya di dalamnya lahir dari pengalaman personal, refleksi batin, serta pergulatan hidup yang selama ini kerap terbungkam dalam diam.
Ketua Komunitas Literasi Perempuan Makassar sekaligus salah satu penulis buku, Andi Ulfa Wulandari, menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan.
“Suara Sunyi di Lembah Hati tidak hanya sekadar buku antologi, tetapi juga merupakan cerminan dari semangat dan perjuangan perempuan dari berbagai latar belakang yang ingin suaranya didengar dan dihargai.
Melalui karya-karya yang dituangkan dalam buku ini, para penulis perempuan menyuarakan pengalaman dan harapan mereka yang selama ini sering tersembunyi dalam keheningan,” ungkap Andi Ulfa, yang juga dosen Filsafat di UIN Alauddin Makassar itu.
Acara dipandu oleh Nurul Qalbi Ansar, penulis sekaligus anggota KLPM, yang membuka kegiatan dengan suasana hangat dan dialogis.
Dua pembicara hadir membedah buku, yakni Nurkhalishah, S.Sos., M.Pd, aktivis dan pegiat literasi, serta M. Galang Pratama, Owner Jariah Publishing selaku penerbit buku.
Dalam pemaparannya, para pembicara menyoroti pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk menulis, berbagi pengalaman, dan membangun keberanian bersuara melalui karya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta secara aktif.
Sejumlah penulis yang karyanya termuat dalam buku turut hadir, di antaranya Sitti Nurliani Khanazahrah, Nur Rakhmi Said, Kirani, dan Rosmayasari.
Kehadiran para penulis memperkuat nuansa apresiatif dan kebersamaan dalam acara tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program unggulan KLPM, yakni OYOB (One Year One Book)—sebuah gerakan menulis yang mendorong setiap anggota dan perempuan di masyarakat untuk menghasilkan minimal satu karya tulis setiap tahun.
Program ini dirancang sebagai upaya kolektif memperkuat budaya literasi melalui semangat kolaborasi dan keberagaman.
Meski suasana kafe sesekali dipenuhi kebisingan kendaraan, peserta tetap menyimak dengan penuh perhatian. Diskusi, pembacaan puisi, hingga sesi bertanya berlangsung tertib dan bermakna.
Acara ditutup dengan foto bersama dan pemberian suvenir, menandai berakhirnya sebuah pertemuan yang sederhana namun sarat makna.
Di tengah hiruk-pikuk jalan, Suara Sunyi di Lembah Hati justru berbicara lantang—tentang perempuan, keberanian, dan literasi sebagai jalan pulang bagi suara-suara yang selama ini terpendam.
___
Laporan: Muh Galang Pratama, tugas jurnalisme warga









