PELAKITA.ID – Saya berleha santai usai ibadah pagi, memandangi beberapa pakis yang baru ditanam Mbak Emmy, ketika ponsel di kamar berdering. Saya beranjak meraihnya. Di layar tertera nama kawan, Daeng Rhebaz (Ince Rudy).
“Meninggal Pak Salim, Bung,” katanya, langsung, tanpa kata pengantar.
Informasi itu terasa seperti ledakan—bukan hanya mengagetkan, tetapi juga melemahkan.
Melemaskan, karena kita kehilangan sosok panutan yang konsisten memegang dan mengajarkan nilai kejujuran.
Nilai yang sering dibicarakan, tetapi sangat sedikit yang benar-benar melakoninya.
Karena itu, duka ini bukan hanya milik saya. Ia juga milik banyak orang yang merindukan dan mengagumi nilai integritas.
Indonesia—Sulbar khususnya—tidak memiliki banyak tokoh seperti Pak Salim.
Saya tidak mendukakan jabatan Wakil Gubernur yang ditinggalkannya. Untuk jabatan, kita tidak pernah kekurangan stok.
Saya juga tidak terlalu terpukau oleh pangkat beliau; kita bisa berjumpa dengan orang berpangkat sama kapan saja.
Yang paling mengagumkan dari diri beliau—bagi saya, dan tentu banyak orang—adalah integritasnya.
Dan lebih dari itu, konsistensinya menjalani nilai tersebut, bahkan sejak masih berdinas di kemiliteran.
Kawan Syam (Syamduddin Idris) selalu berapi-api jika mengisahkan sikap beliau semasa bertugas.
Salah satunya, saat melakukan inspeksi,
Pak Salim sengaja memilih waktu kunjungan di luar jam makan.
Alasannya sederhana namun dalam: beliau tidak ingin membebani bawahannya dengan biaya makan, agar mereka tidak terdorong melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Ketika terjun ke dunia politik pun, beliau tetap kukuh. Ia menolak politik uang, meski sadar betul risikonya: kalah.
Bagi beliau, kalah dalam pertarungan politik bukan persoalan, tetapi kalah dari keteguhan prinsip hidup adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Karena itulah, saat kami—kawan Syam, Charles, dan saya—mencalonkan beliau sebagai calon gubernur, kami tidak pernah sekalipun memintanya menyediakan dana.
Bahkan untuk partai pun, beliau tidak dibebani biaya yang lazim dikeluhkan banyak orang.
Pak Salim juga konsisten melakukan pendidikan nilai, terutama di lingkungan keluarga. Ia mendidik anak-anaknya untuk hidup mandiri dan membumi.
Saya menyaksikannya sendiri, ketika dulu Kamil, putranya, datang ke rumah bersama teman-temannya—termasuk ponakan Komjen Pol (Purn) Goris.
Mereka tak sungkan mencuci piring sendiri sehabis makan.
“Itu karena Pak Salim mendidik anak-anaknya hidup mandiri,” kata Syam suatu ketika.
Kini, beliau telah mengakhiri pengembaraannya di bumi fana.
Kiranya beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Sang Pencipta, dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi penghiburan serta kekuatan.
“Sulbar kehilangan tokoh panutan,” kata Daeng Rhebaz, sebelum menutup telepon.
Konsistensi itu sangat mahal.
Pragmatisme selalu menemukan alasan.
——









