Dari Tosora ke Panggung Nasional: Jejak Eka Sastra

  • Whatsapp
Eka Sastra (Sumber: AlumniIPBPedia)

PELAKITA.ID – Nama Eka Sastra kerap muncul dalam berbagai ruang: dunia usaha, organisasi kepemudaan, kebijakan publik, hingga politik nasional. Di balik lintasan karier yang beragam itu, ada satu titik awal yang kerap menjadi penanda identitasnya—kampung halaman di Sulawesi Selatan.

Siapa sangka, dia ternyata berasal dari Kampung Tosora Wajo. Bukan dari Jawa Barat sebagaimana banyak disangkakan orang atau publik.

“Keluarganya asal Tosora, Wajo,” kata kawan Jumardi Lanta, asal Soppeng.

Karena alasan itulah penulis sore ini mencari tahu siapa gerangan Eka dan Tosora.

Tosora adalah desa bersejarah di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, yang pada abad ke-15 hingga ke-17 berfungsi sebagai ibu kota Kerajaan Wajo.

Dari tempat inilah sistem pemerintahan Wajo berkembang dengan ciri khas yang egaliter, menempatkan hukum adat (ade’) dan musyawarah di atas kekuasaan raja.

Filosofi “Maradeka to Wajo’e”—orang Wajo adalah orang merdeka—lahir dari tradisi politik yang tumbuh di Tosora, menjadikannya salah satu pusat awal pemikiran kebebasan dan tata kelola kolektif di Sulawesi Selatan. Tosora juga berperan penting dalam penyebaran Islam di Wajo, ditandai dengan berdirinya Masjid Tua Tosora, salah satu masjid tertua di kawasan ini.

Kembali ke Eka, dari selatan Indonesia itulah, perjalanan panjangnya bermula, membentuk cara pandangnya tentang kerja, jejaring, dan pengabdian.

Eka Sastra lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat Bugis-Makassar, sebuah ruang sosial yang sejak lama dikenal keras dalam kerja, kuat dalam ikatan kekerabatan, dan menjunjung tinggi harga diri.

Ketua IKAIE Unhas Eka Sastra, kedua dari kanan, bersama kolega dari Makassar di Warkop Phoenampungan (dok: Hendra Noor Saleh)

Figur nasional

Eka Sastra adalah tokoh nasional asal Wajo yang dikenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pengusaha, akademisi, dan penulis.  Meski lahir di Makassar, akar keluarganya kuat tertanam di Sengkang, Wajo, dari lingkungan keluarga pendidik yang menjunjung tinggi nilai literasi dan semangat juang.

Latar belakang hidup sederhana dan pengalaman berpindah-pindah tempat sejak kecil membentuk karakter pekerja keras serta daya tahan mental yang kuat, menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

Pendidikan menjadi jalur utama pembentukan intelektual Eka Sastra. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Wajo dan Jeneponto, sebelum melanjutkan studi ekonomi di Universitas Hasanuddin.

Perjalanan akademiknya berlanjut hingga meraih gelar magister dan doktor di IPB.

Sejak masa sekolah, ia aktif berorganisasi—dari Pramuka hingga OSIS—yang kemudian menemukan bentuk paling matang dalam HMI, organisasi yang ia sebut sebagai ruang pembentukan ideologis, intelektual, dan jejaring sosialnya.

Dalam HMI, Eka Sastra ditempa oleh dinamika gerakan mahasiswa era Reformasi 1998. Dari proses kaderisasi hingga peran di tingkat nasional, ia menginternalisasi nilai Islam sebagai etika sosial dan politik pembebasan.

Baginya, aktivisme tidak cukup berhenti pada kritik, melainkan harus dilanjutkan dengan penguasaan kompetensi dan pembangunan jaringan. Pandangan ini juga mewarnai refleksinya terhadap gerakan mahasiswa hari ini, yang ia dorong untuk berfokus pada penguatan gagasan berbasis riset, teknologi, dan kebijakan publik.

Di luar dunia aktivisme, Eka Sastra menapaki jalur pengusaha dan politik nasional. Ia aktif di HIPMI dan KADIN, mendirikan holding usaha bernama Maradeka sebagai simbol identitas Bugis-Wajo dan nilai kebebasan. Pengalamannya sebagai anggota DPR RI, staf khusus Kementerian Investasi/BKPM, serta Komisaris Pupuk Kaltim memperkuat konsistensi gagasannya tentang politik kesejahteraan.

Melalui tulisan dan buku-bukunya, Eka Sastra terus menyuarakan pentingnya kemandirian ekonomi, pemerataan pembangunan, dan keberanian generasi muda—khususnya dari daerah—untuk bermimpi besar dan berkontribusi bagi Indonesia.

Inspirasi dari Eka Sastra

Di pembacaan penulis, pengalaman sebagai mahasiswa di Indonesia Timur membuatnya akrab dengan isu-isu pinggiran: keterbatasan akses, ketimpangan investasi, dan pentingnya kehadiran negara di luar Jawa. Dia adalah salah satu aktivis HMI di masanya.

Hasrat memahami persoalan bangsa secara lebih luas kemudian membawanya melanjutkan studi ke Jakarta. Ia memperdalam ilmu politik, menambah dimensi baru dalam cara berpikirnya.

Sejumlah koleganya dari Unhas menyebut jika Eka tumbuh bersama Ilmu Ekonomi yang telah memberinya alat membaca angka dan pasar. Dengan politik, ia bisa membaca kekuasaan dan kebijakan. Perpaduan dua disiplin ini kelak menjadi ciri khas perjalanan hidupnya.

Dunia usaha menjadi salah satu arena awal tempat Eka Sastra menguji gagasan-gagasannya. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan bisnis, membangun dan mengelola usaha di sektor yang beragam.

Bagi Eka, bisnis bukan semata soal keuntungan, tetapi juga tentang keberanian mengambil peluang dan menciptakan nilai.

Pengalaman merantau dari kampung halaman membuatnya memahami bahwa ekonomi tidak tumbuh di ruang hampa—ia selalu terkait dengan jejaring sosial, kepercayaan, dan konteks lokal.

Jejak kampung halaman tetap melekat dalam cara ia berbisnis. Ia terbiasa bekerja lintas daerah, lintas budaya, dan lintas latar belakang. Seperti tradisi pelaut dan perantau Bugis-Makassar, jaringan menjadi modal utama. Dari situlah ia dikenal sebagai sosok yang luwes membangun relasi, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Ia memahami bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat, dan bahwa daerah-daerah di luar Jawa memerlukan perhatian serius agar tidak terus tertinggal.

Meski berkecimpung di pusat kekuasaan, ia tidak sepenuhnya melepaskan identitas kedaerahannya. Kampung halaman tetap menjadi referensi moral—pengingat tentang siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Penulis bertemu terakhir kali saat seminar yang digelar Unhas TV dan Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi ESDM di Kampus Unhas tiga bulan lalu.

Dalam banyak kesempatan, ia menegaskan pentingnya membangun Indonesia secara merata, tidak dengan pendekatan seragam, tetapi dengan memahami kekhasan tiap wilayah.

Ujung kanan, Eka Sastra (dok: Pelakita.ID)

Selain politik dan bisnis, dan setelah tak lagi di Senayan, Eka Sastra semakin aktif dalam organisasi pengusaha muda. Perannya di organisasi ini memperlihatkan satu benang merah: keinginannya mendorong generasi muda agar berani tampil, mandiri, dan berpikir strategis.

Nilai-nilai itu sesungguhnya ia pelajari sejak kecil—dari tradisi merantau dan bekerja keras yang mengakar kuat di tanah kelahirannya.

Kini, Ia tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa ingatan kolektif tentang kampung halaman—tentang kerja keras, keberanian, dan kemampuan beradaptasi.

Kisah hidupnya menunjukkan bahwa asal-usul bukan penghalang, melainkan sumber energi. Kampung halaman tidak ditinggalkan, tetapi dibawa ke mana pun melangkah.

Dari selatan Indonesia, Eka Sastra menapaki jalan panjang di tingkat nasional, sambil terus menyimpan satu keyakinan: sejauh apa pun seseorang pergi, akar selalu menentukan arah pulang.

___
Denun, Sorowako, 30 Januari 2026