Saya ingat kala itu, 2017. Duduk bersama beberapa sahabat baru di tepi telaga raksasa bernama Matano. Lalu rahim pengabdian Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat menghadirkan skema PMDM, PKPM, SDGs hingga PKPM Terfokus. Sebuah ontologi tentang makna eksistensial sosial, ekonomi dan ekologis sebuah firm tambang.
PELAKITA.ID – Hampir sedekade kemudian, saya merasa telah hadir kebersamaan indah yang kadang hanya perlu satu bingkai untuk menghidupkan banyak kenangan. Foto di atas.
Di Sorowako—kota kecil yang selalu memberi rasa pulang bagi siapa pun—sebuah momen sederhana menjelma menjadi cermin perjalanan panjang.
Bukan perayaan besar, bukan pula seremoni resmi. Hanya tatap mata, jeda obrolan, dan kesadaran bahwa waktu telah berjalan cukup jauh, meninggalkan jejak yang layak direnungi.
Bekerja bersama, kami belajar bahwa kemajuan hampir tak pernah lahir dari usaha seorang diri.
Ia tumbuh dari percakapan yang jujur, dari kompromi-kompromi kecil yang kadang melelahkan, dari kelelahan yang dibagi rata, dan dari kepercayaan yang tak dibangun dalam sehari.
Dalam ritme kerja yang padat dan hari-hari yang berulang, kami menemukan bahwa keberlanjutan bukan soal siapa paling bersinar, melainkan siapa yang bersedia tetap hadir.
Di situlah persahabatan mengambil peran paling sunyi sekaligus paling menentukan. Persahabatan yang tulus—yang bertumbuh karena kebersamaan, bukan pencitraan—menjadi perekat saat pekerjaan terasa berat dan semangat diuji.
Ia tak menuntut pengakuan, tak menagih pujian. Ia cukup ada. Dan dari keberadaan itulah kami belajar mendengar dengan lebih saksama, berbeda pendapat tanpa saling merusak, serta merayakan keberhasilan yang sejatinya tak pernah sepenuhnya milik satu orang saja.
Waktu, tentu saja, membawa perubahan. Menjadi lebih tua memberi sentuhan kelembutan pada semua hal. Sedih, gembira, galau, baper—semuanya masih datang silih berganti.
Lambat laun, kini kami memahami bahwa waktu itu terbatas, energi perlu dipilih dengan bijak, dan tidak semua hal layak diperdebatkan. Ada kedewasaan yang pelan-pelan mengajarkan: memilih mana yang penting, mana yang bisa dilepaskan.
Relasi, pada akhirnya, terasa jauh lebih berharga daripada tepuk tangan.
Pengakuan boleh datang dan pergi, tetapi persahabatan yang teruji waktu menetap di tempat yang lebih dalam. Harapan pun berubah nada.
Ia tak lagi berteriak lantang, melainkan berbisik pelan—tentang keinginan untuk tetap berguna, tetap berbaik hati, dan tetap terhubung, meski jalan hidup membawa kami ke arah yang tak selalu sama.
Di antara orang-orang yang lalu lalang menunggu BBM, di antara deru mesin yang silih berganti mengantre di SPBU Sorowako, kami menunduk sejenak. Menekuk pandangan ke bumi, mengendapkan pikiran, menyelipkan doa.
Ada harapan sederhana yang menguat di dada: semoga kami bisa terus berjalan bersama orang-orang yang memahami kisah kami—dengan segala kekurangannya.
Terus membangun sesuatu yang bermakna, meski pelan. Terus menua tanpa kehilangan mimpi, melainkan memurnikannya.
Sebab persahabatan sedekade bukan sekadar soal lamanya waktu, melainkan tentang kesediaan untuk tetap saling menjaga, ketika dunia terus berubah.
___
Denun, 31 Januari 2026









