Asisten Ekbang Tolitoli Sidak Petani, Membandingkan Praktik Pertanian Padi di Tolitoli

  • Whatsapp
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli H. Rustan Rewa bersama dua petani Tolitoli (dok: Istimewa)

Di tengah hamparan sawah yang basah oleh hujan, seorang pejabat daerah tampak turun langsung ke petakan padi. Bukan untuk seremoni, melainkan untuk memastikan satu hal penting: benih yang ditanam petani benar-benar tumbuh sesuai harapan.

PELAKITA.ID – Hal tersebut itulah yang dilakukan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli H. Rustan Rewa saat mengontrol perkembangan benih padi di kawasan persawahan Pagalung.

“Hari ini saya mengontrol benih Mengkongga. Insyaallah hari Minggu kita akan bandingkan dengan benih M70D,” ujar Rustan sambil menunjuk rumpun padi yang mulai menunjukkan perbedaan fase tumbuh.

Menurutnya, benih M70D yang ditanam berumur sekitar 40 hari, sementara pada umur tanam yang hampir sama, benih lain sudah mulai mengeluarkan bunga.

Pengamatan lapangan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ia menjadi bagian dari upaya serius untuk membandingkan performa varietas benih padi—mulai dari umur tanaman, kecepatan berbunga, hingga potensi produksi.

“Kita mau bandingkan mana yang lebih efektif, dengan pemeliharaan yang sama. Supaya petani bisa menilai langsung hasilnya,” jelasnya.

Di sawah itu, berdiri pula para petani dengan latar belakang yang beragam.

Ada yang berasal dari Sidrap—daerah yang dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan—ada pula petani asal Selayar, wilayah yang sebelumnya lebih identik dengan jeruk dan lahan kering dibanding persawahan.

Bahkan, ada petani dari Jeneponto yang kini bersama-sama mengolah sawah di Tolitoli.

“Coba bayangkan, kita ini sama-sama dari selatan. Ada orang Sidrap, Selayar, Jeneponto. Semua bertemu di sawah,” tuturnya. Bagi Asisten Ekonomi Pembangunan Tolitoli, Rustan Rewa, pertemuan lintas daerah ini bukan sekadar kebetulan, melainkan kekuatan sosial dalam membangun ketahanan pangan.

Ia menegaskan bahwa semangat swasembada pangan tidak boleh berhenti pada target tahun 2025 semata. “Swasembada pangan, khususnya padi dan beras, bukan program sesaat. Ini harus terus berlanjut, terus dijaga,” katanya.

Karena itu, pembandingan varietas seperti Mengkongga dan M70D dianggap penting agar petani memiliki dasar pengetahuan yang kuat dalam memilih benih terbaik.

Kondisi musim hujan yang terus berlangsung juga menjadi perhatian. Dalam situasi seperti ini, menurutnya, kehadiran pemerintah di sawah—bersama petani—menjadi bentuk kepedulian nyata.

“Kami cinta sawah dan sahabat-sahabat tani. Karena itu kami turun langsung, melihat, mendengar, dan belajar bersama,” ujarnya.

Kunjungan sore itu ditutup dengan suasana hangat. Usai salat Asar, ia menyempatkan berbincang santai dengan salah satu petani, Pak Bur.

Percakapan tak hanya soal padi, tetapi juga tentang rencana berhaji. “Istrinya sudah mendaftar haji,” katanya sambil tersenyum, mendoakan agar niat itu kelak terwujud.

Di antara lumpur sawah, rumpun padi, dan obrolan sederhana itulah harapan tentang masa depan pangan dirawat. Dari praktik kecil membandingkan benih, tumbuh keyakinan bahwa swasembada pangan bukan sekadar slogan, melainkan kerja bersama yang terus disemai—musim demi musim.