Di Gerbong Sya’ban Menuju Ramadhan Makna Persiapan, Getaran Jiwa, dan Doa

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (Dok: Istimewa)

Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Sya’ban adalah gerbong sunyi yang sering kita naiki tanpa sadar. Bulan yang tidak semeriah Ramadhan, tidak pula setenang Rajab. Namun justru di sanalah arah perjalanan ditentukan.

Di gerbong inilah niat dirapikan, hati dibereskan, dan jiwa dipersiapkan sebelum memasuki stasiun agung bernama Ramadhan.

Sya’ban bukan bulan biasa. Ia adalah bulan antara—antara harap dan cemas, antara doa dan kesiapan. Nabi Muhammad saw. memberi perhatian khusus pada bulan ini.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal di bulan inilah amal-amal diangkat kepada Allah. Sebuah isyarat halus: sebelum amal digelar di bulan Ramadhan, ia disiapkan dan ditimbang di bulan Sya’ban.

Maka sejatinya, Sya’ban adalah bulan latihan ruhani. Jika Ramadhan adalah ujian besar, Sya’ban adalah masa pemanasan. Puasa mulai dibiasakan, doa mulai diperpanjang,

Al-Qur’an mulai ‘dibuka kembali’ dari rak yang lama tertutup debu kesibukan. Hati yang keras dilunakkan, jiwa yang riuh diajak diam.

Gerakan bulan Sya’ban bukan gerakan fisik, melainkan gerakan batin. Ia mengajak manusia merenung dan tafakkur di tengah zaman yang seakan terus berlari.

Di saat dunia bergerak cepat, Sya’ban menawarkan halte. Berhenti sejenak. Di saat manusia sibuk menyiapkan rencana dan aktivitas,

Sya’ban mengingatkan agar lebih dulu menyiapkan diri. Karena Ramadhan tidak pernah menuntut kesiapan lahir semata, tetapi kesiapan batin.

Dalam tradisi ulama, Sya’ban disebut sebagai bulan para qari, bulan para pencinta Al-Qur’an. Mereka memulai kembali hubungan intim dengan wahyu, agar ketika Ramadhan datang,

Al-Qur’an tidak terasa asing. Sebab Ramadhan bukan waktu berkenalan, melainkan waktu berpelukan dengan kitab suci.

Di gerbong Sya’ban inilah doa yang selalu diucapkan Nabi itu menggema, lintas zaman dan generasi:

“Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya’bān, wa ballighnā Ramadhān.”
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.

Doa sederhana ini, bukan sekadar permohonan umur panjang, melainkan permohonan kelayakan. Sebab tidak semua yang hidup sampai Ramadhan benar-benar “sampai” secara ruhani. Ada yang hadir secara jasad, tetapi tertinggal secara makna.

Sya’ban mengajarkan bahwa Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan proses pemulihan. Maka siapa yang abai di Sya’ban, seringkali tergesa di Ramadhan.

Siapa yang membersihkan hati di Sya’ban, akan lebih khusyuk di Ramadhan. Sebab Ramadhan tidak mengubah manusia secara ajaib dan instan

Ia hanya mempercepat dan memperlancar apa yang telah disiapkan sebelumnya.

Sya’ban adalah undangan lembut untuk kembali ke diri sendiri. Menyapu sudut hati yang kotor oleh dengki, membersihkan niat yang tercampur pamrih, dan menata ulang orientasi hidup yang cenderung mulai tak berada di jalan-Nya. Ia adalah bulan rekonsiliasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Gerbong Sya’ban terus melaju. Ia tidak menunggu siapa pun. Pertanyaannya bukan apakah Ramadhan akan datang—karena ia pasti datang—melainkan dalam keadaan apa kita akan menyambutnya. Dengan hati yang siap, atau jiwa yang masih berantakan.

Jika Ramadhan adalah cahaya, maka Sya’ban adalah jendela. Jika Ramadhan adalah hujan rahmat, maka Sya’ban adalah awan pertanda. Maka jangan biarkan gerbong ini berlalu tanpa makna. Sebab perjalanan spiritual selalu ditentukan oleh cara kita bersiap, bukan sekadar oleh tujuan yang kita tunggu.

____
Muliadi Saleh, “Menulis Makna, Membangun Peradaban”