Prof. Sukri Palutturi, Merawat Kota dan Menjaga Kehidupan

  • Whatsapp
Dekan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi saat menjadi 'guest speaker' pada Lokalatih Jurnalisme Warga, Kiat Menjadi Pewarta Warga, Menjadi Bagian dari Perubahan Sosial dan Lingkungan (dok: Pelakita.ID)

Sejalan dengan pandangan Ibnu Khaldun, bahwa “peradaban runtuh bukan karena wabah semata, tetapi karena kegagalan mengelola kehidupan bersama”, Prof. Sukri memposisikan kesehatan sebagai cermin peradaban.

Penulis:
Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Prof. Sukri Palutturi, Lahir di Tanatoa, 29 Mei 1972. Tumbuh dari ruang sederhana yang mengajarkannya satu hal penting bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri.

Kesehatan baginya, bukan urusan rumah sakit semata, bukan hanya dokter dan obat, melainkan hasil dari kebijakan, lingkungan, dan kesediaan negara serta warga untuk saling menjaga.

Cara pandang inilah yang perlahan mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemikir penting dalam kebijakan dan politik kesehatan di Indonesia.

Perjalanan intelektualnya dimulai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas).

Di kampus ini, ia menamatkan pendidikan sarjana dan magister di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Namun dahaga keilmuan mendorongnya melampaui batas geografis.

Ia melanjutkan studi ke Griffith University, Australia, hingga meraih gelar Master of Science in Public Health dan Doktor.

Di sana, perspektifnya tentang healthy settings dan healthy cities mengendap, menguat, dan menemukan bentuknya.

Dari riset-riset itulah Prof. Sukri dikenal sebagai peneliti pertama Kota Sehat di Indonesia. Sebuah kontribusi yang tidak sekadar akademik, tetapi strategis.

Ia membaca kota sebagai ruang hidup yang menentukan nasib kesehatan jutaan orang.

Prof Sukri Palutturi, kiri, bersama penulis pada Lokalatih Jurnalisme Warga yang digelar Pelakita.ID di Perpustakaan Daerah Sungguminasa Gowa (Pelakita.ID)

Tak bisa dilepaskan dari tata ruang, transportasi, kualitas udara, akses air bersih, hingga keadilan sosial.

Sejalan dengan pandangan Ibnu Khaldun, bahwa “peradaban runtuh bukan karena wabah semata, tetapi karena kegagalan mengelola kehidupan bersama”, Prof. Sukri memposisikan kesehatan sebagai cermin peradaban.

Sejak bergabung sebagai dosen tetap FKM Unhas pada 2001, ia menapaki karier akademik dengan konsistensi dan kesetiaan pada proses.

Tahun 2017, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar, menjadikannya salah satu profesor termuda di Universitas Hasanuddin.

Produktivitas akademiknya tercermin dari puluhan publikasi ilmiah dengan ribuan sitasi, yang banyak dijadikan rujukan dalam penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti—mulai dari isu perkotaan, determinan sosial kesehatan, hingga tata kelola sistem kesehatan.

Bagi Prof. Sukri, ilmu tidak berhenti di jurnal. Ia harus turun ke tanah, menjangkau kebijakan, dan menyentuh kehidupan nyata.

Itulah sebabnya ia dipercaya mengemban berbagai posisi strategis: Sekretaris Departemen, Wakil Dekan, hingga akhirnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas periode 2022–2026.

Kepemimpinannya diperkaya dengan keikutsertaan dalam Program Pendidikan Reguler Lemhannas RI tahun 2022, yang menegaskan posisinya sebagai akademisi dengan kesadaran kebangsaan.

Dalam setiap peran, Prof. Sukri memandang kesehatan masyarakat sebagai fondasi pembangunan manusia dan ketahanan bangsa.

Ia memahami bahwa negara yang abai pada kesehatan warganya sedang menyiapkan krisis di masa depan.

Seperti kata Jalaluddin Rumi, “Di mana ada luka, di sanalah cahaya masuk.”

Bagi Prof. Sukri, luka sosial—ketimpangan, kemiskinan, kota yang tak ramah—harus dibaca sebagai pintu masuk kebijakan yang lebih adil.

Melalui riset, kepemimpinan, dan pengabdian, ia terus mendorong lahirnya kebijakan kesehatan yang inklusif, berbasis data, dan berpihak pada masyarakat.

Ia merawat optimisme bahwa kota bisa disembuhkan, sistem bisa dibenahi, dan kesehatan dapat menjadi jalan keadilan sosial.

Prof. Sukri Palutturi adalah pemikir, pengawal dan penjaga. Sebagai pakar yang  berpikir jauh ke depan, Ia meyakini bahwa menjaga kesehatan masyarakat sejatinya adalah menjaga masa depan bangsa.