Mustamin Raga: Jurnalisme Warga Berpijak pada Kesadaran Perubahan Zaman dan Panggilan Moral

  • Whatsapp
Mustamin Raga saat menjelaskan fenomena dan tantangan VUCA (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Lokalatih Jurnalisme Warga bukan sekadar ruang belajar menulis, tetapi juga ruang kesadaran untuk memahami posisi warga di tengah perubahan sosial yang kian cepat.

Hal tersebut ditekankan dalam pertemuan setengah hari bersama puluhan peserta dari beragam latar belakang—mulai dari komunitas RT/RW, pegiat fotografi, hingga perwakilan instansi pemerintah—yang hadir dengan satu minat yang sama: menjadi pewarta warga.

Dalam pengantarnya, narasumber sekaligus fasilitator kegiatan Mustamin Raga yang juga Sekretais Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gowa, menegaskan bahwa amanah kegiatan ini tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan semata. Dari sekitar 30 peserta yang mengikuti lokalatih ini, diharapkan akan lahir pewarta warga yang serius dan berkelanjutan.

“Minat Anda hari ini adalah sinyal positif. Tapi tidak semua akan berlanjut. Yang bertahan adalah mereka yang konsisten dan mau belajar,” ujarnya.

Jurnalisme warga, atau citizen journalism, bertumpu pada apa yang dilihat, disaksikan, dan dialami langsung oleh warga di lingkungannya. Karena itu, ke depan peserta akan didorong melakukan praktik wawancara di wilayah masing-masing.

Tulisan-tulisan tersebut tidak akan berhenti sebagai tugas latihan, melainkan dirangkum, diedit, dan disusun menjadi sebuah buku antologi—sebagai output nyata dari proses belajar ini.

“Ini bukan kegiatan pengisi waktu atau sekadar menggugurkan kewajiban. Ini inisiatif serius yang harus berdampak,” tegasnya.

Memahami Zaman Sebelum Menulis

Sebelum masuk pada teknik menulis jurnalistik, peserta diajak memperluas wawasan tentang konteks zaman yang sedang dihadapi.

Mustamin mengajak peserta merenungkan istilah yang kerap didengar: Industri 4.0. Angka “4.0” bukan sekadar label tren, melainkan penanda fase panjang peradaban manusia.

Peradaban manusia, dijelaskan, dimulai dari fase 1.0—masa berburu dan meramu, ketika manusia bertahan hidup dari kekuatan fisik. Fase 2.0 ditandai dengan kehidupan agraris, manusia mulai menetap dan bercocok tanam.

Fase 3.0 adalah era industri, ditandai oleh mekanisasi, pabrik, dan revolusi industri. Kini, dunia berada di fase 4.0, era digitalisasi, ketika teknologi informasi mengubah hampir seluruh sendi kehidupan.

Namun perubahan tidak berhenti di situ. Dunia hari ini ditandai oleh situasi volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA)—perubahan yang cepat, tidak pasti, kompleks, dan ambigu.

Presiden Joko Widodo pernah mengingatkan bahwa rumus-rumus lama dalam perencanaan sering kali tak lagi relevan karena perubahan terjadi setiap detik. “Orang yang tidak mengikuti perkembangan akan seperti tersesat di hutan, kehilangan arah,” ungkapnya.

Kesadaran inilah yang penting bagi seorang jurnalis warga. Menulis tidak bisa dilepaskan dari pemahaman tentang zaman dan keterkaitan global.

Konflik Rusia–Ukraina, misalnya, bukan hanya urusan dua negara, tetapi berdampak hingga ke meja makan masyarakat Indonesia melalui kenaikan harga gandum dan roti akibat terganggunya rantai pasok global.

Begitu pula peristiwa lokal. Longsor Gunung Bawakaraeng pada 26 Maret silam, misalnya, baru dipahami dampaknya setelah air di rumah-rumah warga terganggu. Jurnalis warga dituntut mampu melihat keterhubungan sebab-akibat, bukan sekadar melaporkan peristiwa di permukaan.

Empati, Objektivitas, dan Godaan Algoritma

Dalam praktik jurnalistik, empati menjadi kunci, tetapi tidak boleh menghilangkan ketegasan dan objektivitas. Seorang pewarta harus peka terhadap penderitaan manusia, namun tetap menjaga jarak dari emosi pribadi dan kepentingan tertentu.

Di era digital, tantangan lain muncul: algoritma. Banyak konten hari ini dibuat bukan demi kebenaran, tetapi demi views dan revenue. Dramatisasi berlebihan, terutama di platform seperti TikTok, sering kali mengorbankan etika jurnalistik demi viralitas.

“Banyak pewarta datang dengan tulisan, tapi sebenarnya sudah menanggalkan independensi jurnalismenya,” kritiknya.

Ketergantungan pada algoritma berisiko menyeret pewarta pada sensasionalisme, kehilangan empati sejati, dan bahkan mengaburkan fakta.

Karena itu, jurnalisme warga harus berdiri di atas prinsip: empati tanpa kehilangan ketegasan, keberpihakan pada kebenaran tanpa tunduk pada kepentingan algoritma.

Menjadi Pewarta Warga yang Bertanggung Jawab

Lokalatih ini menegaskan bahwa menjadi pewarta warga bukan soal siapa yang paling cepat mengunggah berita, melainkan siapa yang paling jujur, reflektif, dan bertanggung jawab dalam menulis realitas sosial di sekitarnya.

Dengan wawasan yang luas, kepekaan sosial, dan etika yang kuat, jurnalisme warga dapat menjadi bagian penting dari perubahan sosial dan lingkungan.

Dari ruang lokalatih inilah diharapkan lahir narasi-narasi warga yang tidak hanya dibaca, tetapi juga berdampak.