PELAKITA.ID – Sebagai warga Galesong yang hampir tiap pekan melakukan perjalanan dari Poros Malino ke Galesong melewati Jalur Limbung hingga kampung halaman, ada satu realitas yang bermuara pada perbandingan kualitas jalan antara wilayah Bajeng dan Galesong.
Jalan di jalur Bajeng sungguh padat, rata dan kuat, enak dilalui. Sebaliknya, saat masuk Desa Parangmata Galesong, pi maki lihat. Penulis langsung ingat kualitas kepemimpinan Bupati Adnan.
Pembaca sekalian, dua hari lalu, saya berkunjung ke Pepustakaan Daerah Gowa yang indahnya luar biasa. Koleksi buku, interior dan jumlah kursi dan tempat santai membaca tersedia dengan elegan di sana. Penulis juga langsung ingat Bupati Adnan.
Kepemimpinan daerah sebagaimana Bupati atau Wali Kota, sering kali dinilai bukan hanya dari capaian tahunan atau keberhasilan program jangka pendek, tetapi dari warisan kebijakan dan perubahan struktural yang tetap bertahan setelah masa jabatan berakhir.
Dalam konteks Kabupaten Gowa, dua periode kepemimpinan Adnan Purichta Ichsan (2016–2025) meninggalkan jejak penting yang dapat dibaca sebagai legacy pembangunan daerah. Setidaknya terdapat lima warisan utama yang menonjol dan membentuk wajah baru Gowa hari ini.
1. Transformasi Tata Kelola Pemerintahan dan Budaya Birokrasi
Legacy paling fundamental dari Adnan Purichta Ichsan adalah perubahan kultur birokrasi.
Ia dikenal mendorong birokrasi yang lebih disiplin, responsif, dan berbasis kinerja. Penerapan sistem evaluasi kinerja aparatur, penguatan merit system, serta penegakan disiplin ASN menjadi fondasi utama reformasi ini.
Adnan juga memperkenalkan pendekatan kepemimpinan yang menempatkan kepala daerah sebagai role model etika pelayanan publik.
Inspeksi mendadak, kehadiran langsung dalam pelayanan masyarakat, serta keterbukaan terhadap kritik menjadi sinyal kuat bahwa birokrasi tidak lagi berada di menara gading. Perubahan ini bukan sekadar administratif, tetapi menyentuh aspek mental dan sikap aparatur, yang menjadi prasyarat penting bagi pemerintahan modern.
2. Penguatan Layanan Publik Berbasis Digital dan Inovasi
Selama dua periode, Gowa mengalami percepatan dalam digitalisasi layanan publik. Adnan mendorong pemanfaatan teknologi informasi untuk memotong rantai birokrasi yang panjang, meningkatkan transparansi, dan mempercepat pelayanan. Cobamaki lihat betapa nyamannya kantor Mall Pelayanan Publik mereka di samping Jembatan Kembar.
Tidak seperti kabupaten/kota lain yang kesulitan lahan, mereka bahkan dianggap sering bermasalah saat mendirikan mall itu.
Jadi, di bawah Pemerintahan Adnan, berbagai layanan administrasi kependudukan, perizinan, hingga pengaduan masyarakat mulai diarahkan ke sistem digital.
Langkah ini menempatkan Gowa sebagai salah satu daerah yang cukup progresif dalam inovasi pelayanan publik di Sulawesi Selatan.
Lebih dari sekadar penggunaan aplikasi, digitalisasi ini membangun budaya kerja berbasis data dan keputusan yang lebih akuntabel. Legacy ini penting karena membuka jalan bagi pemerintahan daerah yang adaptif terhadap perubahan zaman.
3. Pembangunan Infrastruktur yang Menyentuh Wilayah Pinggiran
Legacy berikutnya adalah pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah pedesaan dan pinggiran.
Selama kepemimpinannya, pembangunan jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, serta sarana kesehatan tidak lagi terpusat di wilayah perkotaan saja. Jalan yang baik di Bajeng Barat itu, yang penulis di depan, adalah contoh legacy nyata. Stabil dan nyaman dilalui.
Saya kira, Adnan memosisikan infrastruktur bukan semata proyek fisik, melainkan alat keadilan sosial.
Akses jalan yang lebih baik membuka peluang ekonomi desa, mempercepat distribusi hasil pertanian, dan memudahkan akses layanan dasar. Pendekatan ini memperkuat konektivitas antarwilayah di Gowa dan mengurangi kesenjangan antara desa dan kota—sebuah legacy yang dampaknya bersifat jangka panjang.
Sebagai warga Tamarunang, kami juga bangga punya jalan bagus sejak dari ruas jalan Malino hingga memutar di Cambaya dan Jembatan Kembar.
4. Pengarusutamaan Pembangunan Sumber Daya Manusia
Pembangunan manusia menjadi salah satu ciri penting kepemimpinan Adnan. Investasi pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pengembangan generasi muda terus didorong sebagai prioritas daerah. Kalau ini, evidennya sungguhlah banyak.
Ada program beasiswa, peningkatan fasilitas sekolah, serta perhatian terhadap layanan kesehatan dasar menunjukkan komitmen terhadap kualitas hidup warga Gowa.
Adnan juga dikenal memberi ruang besar bagi anak muda untuk terlibat dalam pembangunan, baik melalui organisasi kepemudaan, kegiatan kewirausahaan, maupun ruang-ruang kreatif.
Legacy tersebut menciptakan modal sosial dan intelektual yang tidak langsung terlihat dalam angka statistik, tetapi sangat menentukan masa depan daerah.
5. Penguatan Identitas Gowa dan Kepemimpinan Lokal yang Berwibawa
Legacy terakhir, namun tidak kalah penting, adalah penguatan identitas dan kebanggaan lokal Gowa. Coba lihat Lapangan Syekh Yusuf Al Makassari, Masjid Raya Syekh Yusuf, hingga lapangan yang merupakan aktivitas sentral kaum muda dan warga Sungguminasa bahkan asal Makassar di sini.
Tidak bisa dibantan, Adnan mampu memadukan nilai-nilai budaya, sejarah, dan modernitas dalam narasi pembangunan daerah. Gowa tidak hanya diposisikan sebagai daerah penyangga Kota Makassar, tetapi sebagai wilayah dengan identitas, sejarah, dan visi sendiri.
Dalam relasi politik dan pemerintahan lintas level, Adnan juga membangun citra kepemimpinan lokal yang relatif stabil dan berwibawa.
Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dan menarik dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat. Kepemimpinan yang konsisten dan relatif minim gejolak menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan.
Jadi pembaca sekalian, 5 legacy utama Adnan Purichta Ichsan—reformasi birokrasi, digitalisasi layanan publik, pemerataan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, dan penguatan identitas Gowa—menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya berorientasi pada proyek, tetapi pada pembangunan fondasi.
Tentu, setiap kepemimpinan memiliki keterbatasan dan ruang kritik. Namun, jika legacy dimaknai sebagai warisan struktural yang membentuk arah masa depan, maka dua periode Adnan telah meninggalkan jejak signifikan bagi Kabupaten Gowa.
Tantangan berikutnya bagi pemerintahan di Gowa adalah bagaimana kepemimpinan setelahnya mampu merawat, menyempurnakan, dan menyesuaikan legacy ini dengan konteks zaman yang terus berubah, agar Gowa tidak hanya maju hari ini, tetapi juga berkelanjutan di masa depan.
___
Denun, Tamarunang









