PELAKITA.ID — Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag., Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di bidang Pendidikan Islam, menyampaikan hikmah peristiwa Israj Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam sebuah pengajian yang digelar di Masjid Nur Hidayah, Kompleks Griya Prima Tonasa, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Sabtu malam (17/01/2026).
Dalam tausiyahnya, Prof. Hasyim menegaskan bahwa peristiwa Israj Mi’raj bukanlah perjalanan biasa, melainkan perjalanan spiritual luar biasa.
Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Menurut catatan sejarah Islam, sebelum menjalani perjalanan agung tersebut, hati Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu dibersihkan oleh Malaikat Jibril AS. Proses ini menjadi simbol kesiapan spiritual Nabi untuk menerima amanah besar dan bertemu langsung dengan Sang Pencipta.
Prof. Hasyim juga mengingatkan bahwa peristiwa Israj Mi’raj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami berbagai tantangan berat dalam berdakwah. Tantangan tersebut datang tidak hanya dari kalangan masyarakat Quraisy yang memiliki pengaruh besar saat itu, tetapi juga dari lingkungan terdekat.

Dalam fase sulit tersebut, Nabi mendapatkan dukungan kuat dari pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, saudara kandung ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang wafat ketika Nabi masih dalam kandungan ibunya, Siti Aminah.
Salah satu hikmah utama dari peristiwa Israj Mi’raj adalah diperintahkannya shalat lima waktu kepada umat Islam serta pengukuhan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT pada usia 40 tahun.
Lebih jauh, Prof. Hasyim mengaitkan makna Israj Mi’raj dengan tantangan kehidupan di era digital saat ini. Menurutnya, kesadaran spiritual perlu ditanamkan secara kuat kepada generasi milenial dan generasi Z yang sangat bergantung pada perkembangan teknologi dan arus informasi digital.
“Tidak semua informasi yang beredar di media sosial membawa kebenaran. Sebagian justru dapat menyesatkan. Karena itu, kesadaran spiritual menjadi penting agar generasi muda mampu menyaring informasi, sehingga tidak terjebak dalam kesesatan beragama maupun dalam kehidupan sosial,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Masjid Nur Hidayah, H. Ilyas Arif, menyambut baik hikmah Israj Mi’raj yang disampaikan oleh Prof. Hasyim.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting, khususnya bagi jamaah muda dan remaja masjid, untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat keyakinan terhadap peristiwa Israj Mi’raj.
“Peristiwa Israj Mi’raj memang sulit diterima oleh logika manusia, namun jika Allah SWT berkehendak, maka segala sesuatu yang tampak mustahil dapat menjadi kenyataan,” ujarnya.
