Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Malam itu, suasana Gedung Manunggal Makassar terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni pelantikan Pengurus Pusat IAPIM—Ikatan Alumni Pesantren IMMIM—yang digelar pada Jumat, 16 Januari 2026, tetapi sebuah perjumpaan dengan ingatan, canda, dan takdir yang berkelok pelan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membuka sambutannya dengan sebuah kisah personal yang sederhana, namun sarat makna. Kisah tentang pertengkaran kecil—namun menentukan—antara ayah dan ibunya di masa lalu.
“Ada satu kisah lama yang kembali mengetuk ingatan saya malam ini,” ujarnya. Ayahnya ingin ia masuk Pesantren IMMIM. Ibunya menolak. Alasannya singkat, tapi dalam: ia adalah satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga.

Keputusan itu, sebagaimana banyak keputusan orang tua lainnya, akhirnya membentuk jalur hidup yang berbeda. Munafri tak pernah menjadi santri IMMIM.
Ia tak pernah tidur di asrama, tak pernah merapikan sandal di serambi masjid pesantren, tak pernah merasakan pagi-pagi yang dimulai dengan lonceng dan doa.
Namun kisah tentang IMMIM tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Setiap Ramadhan, santri-santri Pesantren IMMIM datang mengisi mimbar-mimbar masjid, termasuk masjid dekat rumahnya. Munafri kecil kerap ikut ayahnya berjamaah dan mendengarkan ceramah para santri itu.
Di sela-sela khutbah, sang ayah akan berbisik pelan, “Seandainya kamu dulu masuk Pesantren IMMIM, pasti kamu juga sudah ceramah di mimbar itu.”
Kalimat itu, menurut Munafri, sering diulang. Setengah bercanda, setengah sesal. Sebuah harapan yang selalu berhenti di udara, seperti doa yang belum sempat disempurnakan.
Canda dan nostalgia itu mengalir ringan, disambut senyum dan tawa hadirin. Namun di balik kelucuan, ada refleksi tentang jalan hidup yang tak selalu lurus, dan tentang takdir yang bekerja dengan caranya sendiri.
“Dan malam ini,” lanjutnya, “entah bagaimana cara Tuhan menata takdir, saya berdiri—bukan sebagai santri IMMIM, bukan pula sebagai kiai pesantren—tetapi berceramah di hadapan para alumni IMMIM.”
Gedung Manunggal pun kembali riuh oleh tawa dan tepuk tangan. Munafri menutup kisahnya dengan satu kalimat pamungkas yang jenaka sekaligus penuh kehangatan, “Seandainya waktu itu saya masuk Pesantren IMMIM, mungkin saat ini saya yang dilantik jadi Ketua IAPIM.”
Sambutan itu berakhir dengan senyum bangga sang wali kota, disertai gemuruh tawa para alumni.
Malam itu, pelantikan bukan hanya tentang struktur organisasi, tetapi juga tentang perjalanan hidup, ingatan keluarga, dan cara takdir mempertemukan seseorang dengan pesantren—meski tak pernah secara formal menjadi santrinya.
Di sanalah canda berubah menjadi refleksi, dan nostalgia menjelma pengingat bahwa setiap jalan hidup, sejauh apa pun berbelok, selalu memiliki makna yang sedang disusun diam-diam oleh waktu.









