PELAKITA.ID – Kegiatan Pengembangan Biopestisida Lokal dari Serai Wangi dan Kulit Bawang Merah dilaksanakan pada Senin–Kamis, 5–15 Januari 2026, bertempat di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Pengembangan biopestisida lokal berbahan dasar serai wangi dan kulit bawang merah menjadi inovasi pertanian yang menjanjikan dalam menjawab tantangan penggunaan pestisida kimia sintetis yang selama ini masih mendominasi praktik budidaya tanaman.
Inovasi ini lahir dari inisiatif masyarakat Desa Timoreng Panua, yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian, dan memiliki potensi besar sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) yang ramah lingkungan.
Serai wangi diketahui mengandung minyak atsiri dengan sifat insektisida alami, sementara kulit bawang merah mengandung senyawa bioaktif yang mampu menghambat perkembangan hama.
Kombinasi kedua bahan tersebut menghasilkan biopestisida nabati yang efektif, aman bagi lingkungan, serta berbiaya rendah sehingga mudah diaplikasikan oleh petani skala kecil.
Pengembangan biopestisida lokal ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek teknis pengendalian hama, tetapi juga menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan limbah pertanian.
Limbah kulit bawang merah yang sebelumnya kurang termanfaatkan diolah melalui proses sederhana menjadi produk bernilai guna tinggi.

Sebagai mahasiswa KKN yang menjadi bagian dalam kegiatan ini, menganggap bahwa braktik ini mendukung sistem pertanian berkelanjutan, sekaligus sejalan dengan upaya pengurangan limbah organik dan penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor pertanian.
Kami juga senang karena sejumlah pihak di desa ikut menjadi peserta seperti Babinkamtibas Kepolisian, Bintara Pembina Desa dan perwakilan pemeritah desa.
Dari sisi lingkungan, penggunaan biopestisida lokal dinilai lebih aman karena tidak meninggalkan residu berbahaya pada tanah maupun hasil panen.
Selain itu, biopestisida ini relatif aman bagi organisme non-target, seperti musuh alami hama dan mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan lahan.
Dengan demikian, penerapannya diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian sekaligus meningkatkan kualitas hasil produksi.
Secara sosial, inovasi ini memberikan dampak yang signifikan bagi petani dan masyarakat Desa Timoreng Panua. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan, petani dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan kemandirian dalam pengendalian hama.
Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan, masyarakat didorong untuk memahami proses pembuatan serta teknik pengaplikasian biopestisida lokal secara tepat agar hasil yang diperoleh tetap optimal. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pertanian yang ramah lingkungan.
Ke depan, pengembangan biopestisida lokal dari serai wangi dan kulit bawang merah ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai produk inovatif berbasis potensi daerah.
Dengan dukungan penelitian lanjutan serta kolaborasi berbagai pihak, inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi pertanian modern yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat lokal.
___
Penulis: Nabila, mahasiswa KKN Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.









