Menjadi manusia menuntut kesediaan menunduk di hadapan nurani. Dalam dunia yang sibuk mengejar legitimasi, manusia lebih rindu diakui daripada disadarkan. Maka yang dirayakan adalah status, bukan kedalaman makna.
Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Hari hari terakhir ini di media sosial diramaikan dengan video pendek yang memperlihatkan kegembiraan mereka yang diterima sebagai pegawai PPPK termasuk yang Paruh Waktu. Hampir seragam pernyataannya yakni: “Saya sudah jadi orang.” Tidak ada yang berteriak, “Saya sudah jadi manusia.” Kenapa?
Kalimat itu diucapkan dengan mata berbinar, senyum merekah, dan suara bergetar menahan haru. Ia terdengar sah, wajar, bahkan dianggap puncak pencapaian hidup. Namun justru di sanalah letak kegelisahannya. Sebab ungkapan itu bukan sekadar luapan bahagia, melainkan cermin cara kita memahami diri dan makna hidup. Kita merayakan jadi orang, tetapi lupa merenungi menjadi manusia.
Dalam pandangan sufistik, manusia bukan sekadar makhluk yang hidup dan bekerja. Manusia adalah amanah. Ia diciptakan bukan hanya untuk mengisi dunia, tetapi untuk memantulkan sifat-sifat Ilahi dalam laku keseharian berupa kasih, keadilan, kejujuran, dan kerendahan hati.
Sementara orang adalah identitas sosial. Nama yang diberi masyarakat, status yang dilekatkan sistem, posisi yang bisa datang dan pergi.
Mengapa manusia lebih memilih berseru “saya sudah jadi orang” daripada “saya sudah jadi manusia”?
Karena menjadi orang adalah pengakuan dari luar, sedangkan menjadi manusia adalah pengadilan dari dalam. Menjadi orang cukup dibuktikan dengan SK, jabatan, dan seragam; sementara menjadi manusia menuntut pertanggungjawaban batin. Menjadi orang menghadirkan tepuk tangan sosial.
Menjadi manusia menuntut kesediaan menunduk di hadapan nurani. Dalam dunia yang sibuk mengejar legitimasi, manusia lebih rindu diakui daripada disadarkan. Maka yang dirayakan adalah status, bukan kedalaman makna.
Para sufi sejak lama memperingatkan jebakan ini. Al-Ghazali menyebut jabatan dan kehormatan sebagai hijab halus. Sebuah tirai yang tak terasa menutup mata hati. Jalaluddin Rumi menulis, “Engkau bukan setetes air di lautan, engkau adalah lautan dalam setetes air.” Manusia, dalam pandangan ini, bukan soal posisi, melainkan keluasan jiwa.
Namun dunia modern mengajarkan sebaliknya. Kita dilatih untuk naik, bukan untuk dalam. Untuk terlihat, bukan untuk jujur. Untuk diakui sebagai orang, bukan dibentuk sebagai manusia. Maka tidak aneh jika seseorang bisa menjadi orang terhormat, tetapi kehilangan rasa hormat pada sesamanya. Bisa menjadi pejabat, tetapi asing terhadap penderitaan di sekitarnya.
Ibn ‘Athaillah as-Sakandari pernah mengingatkan, “Amal lahir bisa tampak indah, tetapi amal batinlah yang menentukan nilainya.” Dalam terang hikmah ini, menjadi orang hanyalah amal lahir. Menjadi manusia adalah kerja batin yang panjang, sunyi, dan sering kali menyakitkan ego.
Hakikat kehadiran manusia di dunia, menurut para sufi, adalah untuk menghadirkan Tuhan dalam perilaku, bukan sekadar menyebut nama-Nya dalam jabatan.
Manusia sejati adalah ia yang ketika diberi kuasa justru semakin rendah hati; ketika diberi kehormatan justru semakin takut menyakiti. Manusia yang ketika diberi kedudukan justru semakin sadar bahwa semuanya titipan.
Di titik inilah, krisis hari ini menemukan akarnya. Kita kekurangan manusia yang selesai dengan dirinya. Yang ada adalah orang-orang yang selesai dengan ambisinya. Banyak yang berhasil masuk sistem, tetapi gagal menjaga hati. Banyak yang sah secara administratif, tetapi rapuh secara spiritual.
Padahal, menjadi manusia adalah perjalanan seumur hidup. Ia tidak diumumkan dengan teriakan, tidak diviralkan dengan video pendek. Ia tumbuh pelan dalam laku adil, dalam pelayanan yang tulus, dalam keputusan kecil yang memilih benar meski tak menguntungkan.
Mungkin karena itu tak ada yang berteriak, “Saya sudah jadi manusia.” Sebab manusia sejati tidak merasa perlu mengumumkan dirinya. Ia sibuk memperbaiki diri, takut pada kesombongan, dan sadar bahwa kemanusiaan bukan prestasi, melainkan tanggung jawab.
Menjadi orang adalah peristiwa sosial. Menjadi manusia adalah peristiwa spiritual. Orang lahir dari sistem. Manusia lahir dari kesadaran. Dan peradaban, betapapun canggihnya, tidak akan diselamatkan oleh banyaknya orang sukses—melainkan oleh sedikit manusia yang tetap jujur, adil, dan berbelas kasih di tengah godaan kuasa.
Di sanalah doa para sufi berlabuh: Ya Tuhan, jangan Engkau jadikan kami sekadar orang di mata manusia, tetapi jadikanlah kami manusia di hadapan-Mu.
— Muliadi Saleh : Menulis Makna, Membangun Peradaban.









