Pada 2017, UEA mendukung pembentukan Southern Transitional Council (STC), sebuah entitas politik-militer yang memperjuangkan otonomi—bahkan kemerdekaan—Yaman selatan. Ini jelas bertentangan dengan prioritas Saudi yang menginginkan Yaman tetap bersatu.
PELAKITA.ID – Latar Belakang Konflik Yaman (Pra-2015 bermula dari transisi politik yang rapuh pasca-Arab Spring.
Negara ini terjerumus ke dalam perang saudara pada 2014–2015, ketika kelompok Houthi—sebuah gerakan bersenjata Syiah Zaidi yang didukung secara politik dan logistik oleh Iran—merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional, dipimpin Presiden Abd-Rabbuh Mansur Hadi, melarikan diri ke luar negeri.
Runtuhnya pemerintahan ini mendorong Arab Saudi dan sekutunya untuk melakukan intervensi militer pada 2015, dengan tujuan memulihkan pemerintahan Hadi dan menahan apa yang dipersepsikan Riyadh sebagai ekspansi pengaruh Iran di perbatasan selatannya.

Aliansi Saudi–UEA dan Intervensi Awal (2015–2018)
Pada Maret 2015, Arab Saudi meluncurkan koalisi militer yang mencakup Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan negara lain untuk melawan Houthi. Tujuan resmi koalisi adalah mengembalikan pemerintahan Hadi dan menghadang kelompok yang dianggap bersekutu dengan Iran.
Pembagian Peran
Meski bersatu secara formal, strategi Saudi dan UEA sejak awal tidak sepenuhnya sejalan:
-
Arab Saudi berfokus pada konfrontasi langsung dengan Houthi dan pemulihan pemerintahan pusat Yaman.
-
UEA mengadopsi pendekatan yang lebih luas: selain memerangi Houthi, UEA membangun pasukan keamanan lokal di selatan dan menanamkan pengaruh jangka panjang melalui kelompok-kelompok proksi.
Kelompok proksi UEA antara lain Security Belt Forces dan Hadrami Elite Forces, yang kemudian menjadi fondasi ambisi politik selatan Yaman.
Operasi-operasi Kunci Awal
-
2015–2016: Pasukan koalisi, terutama UEA, membantu mengusir Houthi dari Aden dan Abyan. Pada April 2016, UEA memimpin operasi merebut Mukalla dari Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP).
-
2018: UEA mengerahkan pasukan di Pulau Socotra yang strategis. Langkah ini kemudian dibatalkan melalui mediasi Saudi, namun menandai mulai munculnya ketegangan kepentingan antara kedua negara.
Operasi-operasi ini memperkuat pengaruh UEA di Yaman selatan, meski secara resmi tetap berada dalam kerangka koalisi pimpinan Saudi.
Munculnya Dewan Transisi Selatan (STC) (2017–2019)
Pada 2017, UEA mendukung pembentukan Southern Transitional Council (STC), sebuah entitas politik-militer yang memperjuangkan otonomi—bahkan kemerdekaan—Yaman selatan. Ini jelas bertentangan dengan prioritas Saudi yang menginginkan Yaman tetap bersatu.
Seiring waktu, STC menjadi mitra utama UEA di Yaman, khususnya setelah UEA mulai mengurangi keterlibatan militernya secara langsung.
-
2019: UEA secara resmi menarik sebagian besar pasukan daratnya dari Yaman, dengan alasan peninjauan ulang strategi dan perbedaan pandangan dengan Riyadh. Namun, dukungan terhadap STC tetap berlanjut melalui pelatihan, pendanaan, dan kehadiran pasukan khusus terbatas.
Dalam periode 2015–2019, kota Aden menjadi titik panas konflik internal, di mana pasukan pemerintah yang didukung Saudi berulang kali bentrok dengan STC yang didukung UEA. Ini memperlihatkan secara terang keretakan dalam koalisi anti-Houthi.

Upaya-upaya Politik dan Kebuntuan (2020–2024)
Perjanjian Riyadh (2019) berusaha mengintegrasikan STC ke dalam pemerintahan persatuan Yaman, memberikan jatah kursi kabinet dan mengatur penarikan pasukan. Namun implementasinya berulang kali gagal, dan ketegangan tetap membara.
Saudi berupaya menjaga kesatuan negara Yaman melalui proses politik, sementara UEA terus mendukung agenda otonomi selatan. Situasi ini memperumit konflik dan memperpanjang fragmentasi kekuasaan.
Pada saat yang sama, medan perang relatif stagnan, sementara krisis kemanusiaan Yaman memburuk drastis—ditandai kelaparan, pengungsian massal, dan runtuhnya infrastruktur dasar.
Keretakan Terbuka Saudi–UEA (2025–2026)
Ofensif STC dan Penguasaan Wilayah
Pada Desember 2025, STC yang didukung UEA melancarkan ofensif militer cepat di Yaman selatan, yang oleh sejumlah analis disebut sebagai Operation Promising Future. Dalam waktu singkat, STC berhasil menguasai:
-
Provinsi Hadramaut (wilayah dengan cadangan minyak darat terbesar Yaman),
-
Provinsi Mahra,
-
Kota-kota strategis seperti Aden dan Mukalla, beserta pelabuhan dan infrastruktur penting.
Keberhasilan ini secara de facto memberi STC kendali atas wilayah bekas Yaman Selatan, sebuah capaian simbolik dan strategis yang berlawanan dengan kepentingan Saudi.
Respons Arab Saudi
Arab Saudi memandang ekspansi STC sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya karena:
-
Melemahkan pemerintahan Yaman yang didukung Riyadh,
-
Berpotensi melahirkan negara selatan yang independen di perbatasannya,
-
Menggeser keseimbangan pengaruh dari Saudi ke UEA.
Sebagai respons, jet tempur Saudi menyerang posisi-posisi yang terkait STC dan sebuah pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA di Pelabuhan Mukalla. Ini menandai salah satu konfrontasi langsung paling serius antara kepentingan Saudi dan UEA sejak perang dimulai.
Saudi juga menuntut penarikan penuh pasukan UEA dari Yaman, sehingga ketegangan bilateral meningkat tajam.
Penarikan UEA
Pada 30 Desember 2025, UEA mengumumkan penarikan penuh unit kontra-terorisme yang tersisa di Yaman, dengan menyatakan langkah tersebut bersifat sukarela dan strategis, setelah keterlibatan terbatas pasca-2019.
Dorongan Politik STC
Bersamaan dengan itu, STC mendeklarasikan rencana masa transisi dua tahun menuju kemerdekaan Yaman Selatan, menghidupkan kembali realitas politik sebelum penyatuan Yaman pada 1990.
Langkah ini semakin memperlebar jurang antara Riyadh dan Abu Dhabi: Saudi tetap mendukung Yaman yang bersatu, sementara proksi utama UEA mendorong pemisahan.
Implikasi Regional
Perbedaan Saudi–UEA di Yaman mencerminkan kompetisi geopolitik yang lebih luas:
-
Arab Saudi memprioritaskan penahanan pengaruh Iran melalui Houthi dan pembentukan negara tetangga yang bersatu dan bersahabat.
-
UEA berfokus pada kemitraan lokal, kontrol pelabuhan, jalur perdagangan, dan kedalaman strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden.
Akibatnya, koalisi anti-Houthi terfragmentasi, sementara penderitaan kemanusiaan rakyat Yaman terus berlanjut.
Kesimpulan
Kisah sebenarnya di balik keterlibatan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman adalah cerita tentang aliansi yang berubah menjadi persaingan:
-
Keduanya masuk perang pada 2015 melawan Houthi.
-
UEA membangun jaringan proksi lokal, terutama STC.
-
Saudi tetap berpegang pada agenda kesatuan Yaman.
-
Sejak 2019, UEA mengurangi pasukan tempur tetapi mempertahankan pengaruh.
-
Pada akhir 2025, ekspansi STC memicu serangan langsung Saudi dan krisis diplomatik.
-
Penarikan UEA dan dorongan kemerdekaan selatan menandai babak baru fragmentasi Yaman.
Pada akhirnya, perang Yaman tidak hanya mencerminkan konflik domestik, tetapi juga pertarungan visi antara dua kekuatan Teluk yang kini tidak lagi berjalan seiring dalam menentukan masa depan Yaman.
Referensi
Referensi Peristiwa Terkini (2025–2026)
-
Arab Saudi bersama pemerintah Yaman yang didukung Riyadh berhasil merebut kembali kota Mukalla dari pasukan separatis Southern Transitional Council (STC) yang didukung Uni Emirat Arab. Peristiwa ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap politik dan militer Yaman, sekaligus memperlihatkan keretakan nyata dalam koalisi anti-Houthi.
Sumber: Reuters -
Arab Saudi melancarkan serangan udara intensif terhadap posisi STC di wilayah Hadramout, menyusul deklarasi STC mengenai rencana transisi dua tahun menuju kemerdekaan Yaman Selatan.
Sumber: AP News -
Eskalasi tersebut memperdalam ketegangan antara Arab Saudi dan UEA, karena pembentukan STC di selatan Yaman serta dukungan militer UEA terhadap kelompok tersebut dipandang Riyadh sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas dan keamanan nasional Saudi.
Sumber: The Times
-
Uni Emirat Arab mengumumkan penarikan seluruh unit kontra-terorisme terakhirnya dari Yaman secara “sukarela”, menyusul serangan udara Saudi di Pelabuhan Mukalla yang dipicu tuduhan adanya pengiriman senjata UEA kepada STC.
Sumber: Reuters -
Pemerintah Yaman melalui Presidential Leadership Council (PLC) mencabut pakta pertahanan dengan UEA dan memberikan batas waktu 24 jam bagi penarikan pasukan UEA dari wilayah Yaman. Pemerintah juga menetapkan status darurat selama 90 hari akibat meningkatnya eskalasi konflik.
Sumber: Anadolu Ajansı -
Hadhramaut Tribal Alliance menyatakan dukungan terhadap keputusan pemerintah Yaman dan secara terbuka menyalahkan STC atas meningkatnya kekerasan dan instabilitas di kawasan tersebut.
Sumber: Anadolu Ajansı -
Southern Transitional Council (STC) yang didukung UEA melancarkan ofensif militer besar di Yaman Selatan sejak 2 Desember 2025, dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah bekas Yaman Selatan sebelum penyatuan tahun 1990.
-
STC secara resmi mengumumkan rencana masa transisi dua tahun menuju kemerdekaan, memperkuat narasi politik pemisahan diri dari Yaman Utara dan menjadi pemicu utama eskalasi konflik dengan pemerintah pusat dan Arab Saudi.
Sumber: ABC News









