PELAKITA.ID – Sirih (ᨒᨙᨀᨚ) dan pinang (ᨑᨄᨚ) pernah menjadi dua tanaman yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Nusantara, khususnya di Sulawesi Selatan. Namun kini, keberadaannya kian jarang terlihat, seolah perlahan menghilang dari ingatan kolektif kita.
Tidak banyak lagi nenek-nenek yang mengunyah sirih dan pinang sebagaimana yang dulu sering saya saksikan semasa kecil. Bahkan setelah saya dewasa, tradisi itu semakin jarang dijumpai, bergeser oleh zaman dan gaya hidup baru.
Dahulu, sirih dan pinang bukan sekadar tanaman konsumsi, melainkan simbol adat dan penghormatan.
Dalam tradisi perkawinan, misalnya, sirih dan pinang menjadi bagian penting dari bawaan pengantin laki-laki saat hendak melaksanakan akad nikah. Istilah yang digunakan pun sangat jelas: “Membawa Sirih Pinang.” Dalam Bahasa Makassar, tradisi ini dikenal dengan sebutan ᨕᨂᨙᨑ ᨒᨙᨀᨚ (Angngerang Leko’), yang berarti mengantar sirih.
Ironisnya, kini istilah itu masih dipakai, tetapi wujud sirih dan pinangnya justru sering absen. Sebuah paradoks budaya: nama tetap hidup, sementara substansinya perlahan hilang.
Dalam Bahasa Makassar, kebiasaan mengunyah sirih dan pinang disebut ᨕᨄᨂᨍᨕᨗ (appangngajai). Ada dugaan bahwa kata ini berakar dari ᨕᨄᨂᨙᨍᨕᨗ (appangngejai), yang berarti “memerahkan”.
Dugaan ini masuk akal, sebab mengunyah sirih dan pinang membuat bibir tampak merah, seolah-olah mengenakan lipstik alami. Namun, kebenaran etimologinya tidak saya ketahui secara pasti—wallahu alam. Selain itu, ada pula keyakinan lama bahwa mengunyah sirih dan pinang dapat memperkuat gigi dan menjaga kesehatan mulut.
Bagi kami, para cucu yang masih kecil kala itu, sirih dan pinang bahkan menyimpan aura menakutkan. Ada ancaman khas orang tua zaman dulu: jika nakal, maka akan disemprot ᨄᨂᨍᨕᨗ oleh Dato’ Karaeng So’na.
Sosok Dato’ Karaeng So’na—nenek dari ibunda ibu saya—adalah figur yang masih saya dapati mengunyah sirih dan pinang. Ingatan tentang beliau, lengkap dengan aroma sirih dan warna merah di bibirnya, melekat kuat sebagai potongan kecil sejarah keluarga dan budaya.
Sejujurnya, saya tidak banyak mengetahui manfaat ilmiah dari tanaman sirih dan pinang. Namun, ada pengalaman personal yang membuat saya semakin menghargainya. Pernah suatu waktu saya menanam keduanya di halaman BBrG. Beberapa tahun kemudian, pinang itu berbuah lebat.
Dengan iseng, buah-buahnya saya taburkan, dan ternyata tumbuh menjadi tanaman baru.
Justru di situlah kebingungan muncul: saya harus mencari tempat yang tepat agar tanaman-tanaman itu bisa tumbuh besar dan berbuah kembali, agar kelak sirih dan pinang tetap dikenal, tidak sekadar sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai tanaman legendaris yang masih hidup.
Sirih dan pinang mungkin tampak sederhana, bahkan dianggap kuno. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan jejak sejarah, nilai simbolik, dan memori kolektif yang kaya.
Merawatnya—baik secara fisik dengan menanam, maupun secara kultural dengan mengingat dan menceritakannya kembali—adalah salah satu cara kecil untuk menjaga agar warisan itu tidak benar-benar punah ditelan zaman.
___
Penulis Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto
Tamalanrea, 30 Desember 2025









