Dalam diri sang anak, laut itu menjelma bukan sebagai petualangan fisik, melainkan sebagai ketenangan batin—tenang, luas, dan menerima.
Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif
PELAKITA.ID – Bagi Denun—sang ayah—kebahagiaan itu bernama Intan Marina. Sebuah nama yang sejak awal membawa aroma laut.
Marina adalah potret kecil dari jiwa maritim ayahnya: jiwa yang akrab dengan laut, pulau-pulau, dan garis pantai Nusantara, serta belajar dari ombak tentang arti kesabaran.
Dalam diri sang anak, laut itu menjelma bukan sebagai petualangan fisik, melainkan sebagai ketenangan batin—tenang, luas, dan menerima.
Seorang ayah yang hidup bersama laut tahu bahwa tidak semua hari akan cerah. Ada pasang, ada surut. Ada angin yang ramah, ada badai yang datang tanpa undangan.
Dari sanalah ia belajar menerima kenyataan. Pelajaran itu tak selalu disampaikan lewat nasihat panjang, tetapi hadir dalam sikap sehari-hari: bagaimana tetap berdiri ketika rencana berubah, bagaimana tersenyum saat hasil tak sempurna, dan bagaimana terus melangkah meski arah terasa samar.
Makna seorang anak bagi ayah sering kali tak dapat dijelaskan dengan kata-kata panjang. Anak adalah alasan ayah memperlambat langkahnya.
Ia membuat ayah lebih berhati-hati dalam bersikap, lebih lembut dalam menilai, dan lebih jujur dalam mencintai. Anak mengajarkan tentang takut yang sehat—takut kehilangan, sekaligus keberanian untuk berharap.
Anak menjadi cermin tempat ayah meninjau ulang hidupnya, dengan ego yang dilunakkan dan harapan yang disederhanakan.
Sebaliknya, bagi anak, ayah adalah rasa aman. Ia mungkin tak selalu tahu jawaban, tak selalu tampak kuat, bahkan tak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Namun kehadirannya adalah kompas.
Dari ayah, anak belajar bahwa dunia boleh luas dan mimpi boleh jauh, tetapi pulang selalu punya alamat.
Bahwa keberanian untuk berlayar harus dibarengi keberanian untuk kembali, untuk mengakui lelah, dan untuk meminta pelukan.
Di hari ulang tahun anak, seorang ayah biasanya diam lebih lama. Ia mengenang langkah-langkah kecil yang pernah digandeng, tawa yang tumbuh perlahan, dan malam-malam ketika doa dipanjatkan tanpa suara.
Kebahagiaan itu bukan semata tentang usia yang bertambah, melainkan tentang kepercayaan: bahwa anaknya tumbuh dengan caranya sendiri, dengan nilai yang dijaga, dan cahaya yang tak padam.
Pada titik ini, ayah memahami bahwa tugasnya bukan membentuk anak sesuai kehendaknya, melainkan menemani proses tumbuhnya.
Seperti pelaut yang menghormati laut, ayah belajar menghormati pilihan anak—tanpa kehilangan peran untuk menjaga.
Selamat untuk Denun, ayah yang berbahagia merayakan ulang tahun anaknya. Selamat ulang tahun, Intan Marina—simbol kekuatan alam yang tetap bersinar dalam suasana apa pun.
Teruslah berlayar dengan tenang, dengan hati yang lapang dan langkah yang jujur. Jika suatu hari laut terasa terlalu luas dan sunyi, ingatlah: selalu ada ayah dan ibu yang menjadi dermaga—menunggu dengan doa yang tak pernah surut.
Makassar, 27 Desember 2025









