Bertemunya Dua ‘Pengembara Cinta’ Samudera Pengabdian

  • Whatsapp
Betremunya Ikky dan Daeng Cambang di Kota Sorong (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Suasana Sorowako sore ini terasa adem. Ajakan keluar jogging oleh Ustaz Jumardi Lanta penulis tolak karena sedang sakit kepala. Efek kopi semalam sungguh menyiksa.

Tiba-tiba masuk di Whatsapp dua lembar foto kiriman sahabat saya Syamsul Bahri alias Cambang. Keduanya nampak gondrong. Wajah tetap sama, sangat namun tersimpan aura kasih-sayang. Asik eh!

Kalau foto Cambang sudah biasa bahkan terasa membosankan ha-ha-ha. Yang aduhai karena dia berfoto dengan Akhmad Rhevqi, adinda petualang yang sedang buang jangkar di Perairan Kota Sorong.

“Baru merapat ini, mampir bersua Om Cambang,” kata Ikky, begitu sapaannya.

Ikky dan Daeng Cambang bersua di Kota Sorong. Bagi penulis, kedua sosok ini adalah petualang sejati.

Keduanya mahir menyelam, berani menerima tantangan kerja di tempat jauh, bahkan nyaris rela terputus dari komunikasi internet.

Daeng Cambang, alumni Kelautan Unhas angkatan 2007 adalah Putra Selayar, daerah yang terkenal karena pengembara lautannya. Sementara Ikky, kelahiran Bulukumba, kawasan di selatan Sulawesi bagian Selatan yang dari rahimnya lahir perahu pinisi.

Maka tak heran jika Ikky kembali ke sana dan ikut perahu pinisi spesialis penyelaman atau wisata bahari ’live-a-board’ pekerjaan yang digelutinya bertahun lalu.

Dengan Ikky, penulis sempat kerja bareng di Oman, tepatnya di Bandar-Ar-Rowdha, selama satu semester. Ikky adalah petualang, dia anak Korpala Unhas dan telah wara-wiri ke sejumlah pesisir dan gunung Indonesia.

Sementara Cambang telah menorehkan pengalaman kerja di pesisir dan pulau-pulau seperti Natuna, Biitung, hingga teranyar di Raja Ampat hingga Sorong.

Sosodara, kisah ini berbicara tentang manusia-manusia yang setia pada jalannya, merawat laut dengan keahlian dan keberanian, serta membangun persahabatan yang melampaui jarak. Sebuah pengingat bahwa Indonesia—terutama di pesisir dan pulau-pulau jauh—ditopang oleh kerja-kerja sunyi orang-orang seperti mereka.

Sore ini, sakit kepala sakit berangsur pulih setelah mendengar cerita mereka melalui video call. Mendengarkan kembalinya Ikky ke kapal itu dan rencana Cambang yang akan ikut kegiatan penguatan kapasitas sebagai spesialis pendata ikan di Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

”Kontrak saya diperpanjang setahun, urusi pendataan ikan, seperti biasanya,” tutupnya.

Daeng Cambang dan Gulam (Kelautan 2004). Silaturahmi di tanah rantau.

Makna pertemuan

Dari kedua kawan kita itu, setidaknya ada beberapa simpulan makna yang bisa ditarik—bukan dalam arti kesimpulan akademik, melainkan hikmah sosial dan kemanusiaan yang mengendap di balik cerita sederhana tersebut:

Pertama, panggilan hidup sering kali berakar pada asal-usul.

Ikky dari Bulukumba—tanah kelahiran pinisi—dan Cambang dari Selayar—negeri para pengembara laut—menunjukkan bahwa identitas geografis dan budaya bukan sekadar latar belakang, melainkan kompas hidup.

Laut bukan hanya ruang kerja bagi mereka, tetapi medan pengabdian yang dipilih secara sadar. Ada kesinambungan antara asal-usul, keahlian, dan jalan hidup.

Kedua, petualangan bukan tentang romantika, melainkan keteguhan.

Kisah ini tidak memuja heroisme berlebihan. Justru yang tampak adalah kesediaan hidup jauh dari kenyamanan: menerima keterbatasan komunikasi, berpindah-pindah pulau, bekerja sunyi, dan setia pada profesi yang jarang disorot.

Petualangan di sini adalah ketahanan mental dan konsistensi pada pilihan hidup.

Ketiga, persahabatan lintas ruang adalah energi yang menyembuhkan.

Satu pesan WhatsApp dan satu panggilan video cukup untuk mengusir sakit kepala, kelelahan, dan jarak.

Relasi antarmanusia—yang dibangun lewat kerja bersama, laut, dan kepercayaan—ternyata punya daya pemulih yang nyata. Solidaritas menjadi obat yang tak tertulis dalam resep medis.

Keempat, kerja sunyi di pinggir negeri punya arti besar.

Pendataan ikan, konservasi, wisata bahari berkelanjutan—semua terdengar teknis dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun justru di situlah masa depan laut dan pesisir dipertaruhkan.

Kisah Cambang dan Ikky memperlihatkan bahwa kontribusi nyata sering lahir dari kerja yang tidak ramai, tetapi berdampak panjang.

Kelima, pulang bukan selalu ke rumah, tapi ke makna.

Ikky “kembali” ke kapal, Cambang melanjutkan kerja pendataan. Tidak ada dramatisasi. Ada penerimaan yang tenang: inilah hidup yang mereka pilih, dan di sanalah mereka merasa utuh.

Sosodara, kisah ini berbicara tentang manusia-manusia yang setia pada jalannya, merawat laut dengan keahlian dan keberanian, serta membangun persahabatan yang melampaui jarak.

Sebuah pengingat bahwa Indonesia—terutama di pesisir dan pulau-pulau jauh—ditopang oleh kerja-kerja sunyi orang-orang seperti mereka.


Denun

___
Sorowako, 20 Desember 2025