Akademisi Unhas, Adi Suryadi Culla: Munafri–Aliyah Bangun Makassar dengan Pendekatan Humanis

  • Whatsapp
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Pakar Politik Dr. Adi Suryadi Culla dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun 2025 di Novotel Grand Shayla, Rabu (17/12) - (CelebesMedia/ist)

Kebijakan (Munafri-Aliyah) menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun manusia sebagai subjek utama pembangunan—sebuah aspek yang kerap terpinggirkan ketika pembangunan terlalu berorientasi pada proyek fisik.

Dr Adi Suryadi Culla, Akademisi Fisip Unhas

PELAKITA.ID – Momentum Refleksi Akhir Tahun Pemerintah Kota Makassar 2025 menjadi ajang penting untuk menimbang sekaligus mengapresiasi arah kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.

Forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang laporan kinerja, tetapi juga arena dialog kritis mengenai masa depan tata kelola kota.

Kegiatan yang mengangkat tema “Menakar Capaian Kinerja Kolektif dan Komitmen Memperbaiki Tata Kelola Pemerintah Kota Makassar” tersebut berlangsung di Hotel Novotel Makassar, Rabu (17/12/2025).

Sejumlah akademisi dan pengamat hadir memberikan pandangan objektif terhadap perjalanan pemerintahan pasangan yang akrab disebut MULIA.

Salah satu pemapar utama, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik dan Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Dr. Adi Suryadi Culla, menilai kepemimpinan Munafri–Aliyah telah memperlihatkan orientasi pembangunan yang tidak berhenti pada aspek fisik semata tapi bersifat humanis.

Menurutnya, pendekatan yang diambil mulai menempatkan dimensi sosial dan kemanusiaan sebagai fondasi utama pembangunan kota.

Adi menekankan bahwa kota ideal harus dibangun dengan pemahaman mendalam terhadap warganya.

Ia mengurai konsep kota sebagai civitas—komunitas manusia dengan dinamika sosialnya—dan urbs—bentuk fisik serta infrastruktur yang menopang kehidupan.

Sejarah, kata dia, mencatat bahwa kota bisa lahir, tumbuh, bahkan runtuh, baik akibat bencana alam maupun karena kegagalan moral dan tata kelola. Di titik inilah peran kepemimpinan menjadi penentu arah.

Adi menjelaskan bahwa pembangunan kota setidaknya harus dilihat dari tiga dimensi.

Pertama, dimensi praktis-spasial yang berkaitan dengan pengaturan ruang. Kedua, dimensi representasi ruang sebagai hasil dari perencanaan dan kebijakan.

Ketiga, dimensi ruang representasional yang mencerminkan pengalaman hidup, aspirasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.

Dimensi terakhir inilah yang menurutnya paling krusial, sekaligus mulai tampak dalam gaya kepemimpinan Pemerintah Kota Makassar saat ini.

Dalam konteks tersebut, Adi menyoroti kebiasaan Wali Kota Munafri Arifuddin yang aktif turun langsung ke lapangan untuk mendengar keluhan warga.

Ia menilai langkah ini sebagai praktik kepemimpinan yang melampaui prosedur administratif semata. Kehadiran pemimpin di tengah warga, menurutnya, menghadirkan empati dan membuat tata kelola benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan Adi terhadap terobosan Pemerintah Kota Makassar melalui pemilihan RT dan RW secara langsung oleh warga. Kebijakan ini dinilainya sebagai lompatan penting dalam memperkuat demokrasi partisipatif dari level paling dasar.

Ketika warga terlibat langsung memilih pemimpinnya, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kontrol sosial tumbuh secara alami.

Menurut Adi, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun manusia sebagai subjek utama pembangunan—sebuah aspek yang kerap terpinggirkan ketika pembangunan terlalu berorientasi pada proyek fisik.

Selain tata kelola pemerintahan, Adi turut mengapresiasi capaian Pemerintah Kota Makassar di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, infrastruktur, pengelolaan sampah, hingga pengendalian banjir.

Kata dia, kebijakan pendidikan gratis untuk jenjang SD dan SMP dinilainya sebagai langkah strategis dalam pemenuhan hak dasar warga. Terlebih, program ini dinilai inovatif karena mampu melibatkan dunia industri secara partisipatif di luar mekanisme anggaran formal.

“Pendidikan adalah hak asasi manusia. Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar sudah berada di jalur yang tepat dan sekali lagi menegaskan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya dikutip dari Celebesmedia, Rabu, 17 Desember 2025.

Menutup pemaparannya, Adi menyatakan optimisme terhadap arah kepemimpinan Munafri–Aliyah ke depan. Ia melihat adanya kematangan dalam pengambilan kebijakan, keberanian menghadapi risiko, serta konsistensi dalam membangun Makassar sebagai kota yang maju sekaligus beradab.

“Yang kita saksikan hari ini adalah bukti bahwa kepemimpinan yang berpihak pada suara masyarakat akan melahirkan kota yang lebih hidup. Dengan modal ini, kita patut optimistis menatap masa depan Makassar,” pungkasnya.