- Stirena merupakan senyawa organik volatil yang banyak digunakan dalam industri plastik, karet sintetis, dan resin. Ia dapat terlepas ke lingkungan dari limbah industri, degradasi plastik akibat panas dan sinar ultraviolet, serta dari tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik.
- Di Asia Tenggara, konsentrasi stirena di sungai dan estuaria dilaporkan dapat mencapai 0,8 miligram per liter, nilai yang jauh melampaui ambang aman air minum menurut standar internasional. Angka ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kondisi nyata yang berpotensi dialami biota perairan tropis.
PELAKITA.ID – Selama ini plastik sering kita bicarakan sebagai sampah yang mengotori pantai, menyumbat sungai, atau mengapung di laut lepas namun jarang disadari bahwa bahaya plastik tidak berhenti pada bentuk fisiknya.
Di balik kantong, styrofoam, dan kemasan sekali pakai, terdapat senyawa kimia yang perlahan terlepas, larut, lalu bekerja secara senyap merusak kehidupan akuatik. Salah satunya adalah stirena, monomer utama pembentuk plastik polistirena.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Universitas Hasanuddin, Institut Pertanian Bogor dan BRIN pada ikan endemik Sulawesi, Oryzias celebensis, membuka tabir gelap dampak stirena terhadap organisme air tawar tropis.
Hasil studi ini diterbitkan oleh Veterinary World, sebuah terbitan bereputasi internasional (Q1) dengan judul Acute styrene exposure induces hepatocellular injury and molecular stress responses in Oryzias celebensis: Evidence for a tropical sentinel species in ecotoxicological monitoring (2025). Studi ini bukan sekadar laporan toksikologi laboratorium, melainkan alarm ekologis yang relevan dengan realitas perairan Indonesia hari ini.
Stirena merupakan senyawa organik volatil yang banyak digunakan dalam industri plastik, karet sintetis, dan resin. Ia dapat terlepas ke lingkungan dari limbah industri, degradasi plastik akibat panas dan sinar ultraviolet, serta dari tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik.
Di Asia Tenggara, konsentrasi stirena di sungai dan estuaria dilaporkan dapat mencapai 0,8 miligram per liter, nilai yang jauh melampaui ambang aman air minum menurut standar internasional. Angka ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kondisi nyata yang berpotensi dialami biota perairan tropis.
Penelitian pada Oryzias celebensis menunjukkan bahwa paparan stirena dalam rentang konsentrasi tersebut, meskipun hanya selama 96 jam, sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan serius pada organ hati ikan.
Hati, sebagai pusat detoksifikasi, metabolisme, dan keseimbangan energi, menjadi medan pertama pertarungan antara tubuh ikan dan racun lingkungan. Ketika hati rusak, seluruh sistem kehidupan organisme ikut terguncang.
Secara histologis, jaringan hati ikan yang terpapar stirena memperlihatkan perubahan dramatis. Sel-sel hati mengalami vakuolisasi, pembengkakan, gangguan struktur, hingga nekrosis atau kematian sel. Infiltrasi sel radang meningkat, menandakan tubuh ikan sedang berada dalam kondisi stres fisiologis akut.
Kerusakan ini tidak terjadi secara acak, tetapi meningkat seiring naiknya konsentrasi stirena, menunjukkan hubungan sebab akibat yang jelas dan terukur.
Yang membuat penelitian ini sangat penting adalah integrasi antara bukti struktural dan bukti molekuler. Para peneliti tidak berhenti pada pengamatan mikroskopis, tetapi menelusuri mekanisme biologis yang mendasarinya.
Mereka menemukan peningkatan tajam ekspresi gen CYP1A1, sebuah penanda klasik aktivasi jalur aryl hydrocarbon receptor, jalur yang dikenal berperan dalam metabolisme senyawa toksik aromatik. Pada konsentrasi tertinggi, ekspresi gen ini melonjak puluhan kali lipat.
Lonjakan tersebut bukan kabar baik. Aktivasi jalur detoksifikasi memang merupakan upaya adaptif organisme, tetapi ia juga menghasilkan metabolit reaktif yang memicu stres oksidatif. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya ekspresi enzim antioksidan seperti katalase dan superoksida dismutase. Artinya, sel-sel hati ikan sedang berjuang keras melawan banjir radikal bebas. Ketika pertahanan ini tidak lagi memadai, kerusakan struktural pun tak terhindarkan.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan peningkatan ekspresi gen TNF, penanda respons inflamasi. Ini berarti stirena tidak hanya merusak sel secara kimiawi, tetapi juga memicu peradangan yang memperparah kehancuran jaringan.
Korelasi yang sangat kuat antara tingkat kerusakan histologis dan aktivasi gen-gen stres memperlihatkan bahwa luka pada hati ikan bukan kebetulan, melainkan hasil dari rangkaian mekanisme biologis yang saling terkait.
Makna bagi Indonesia
Mengapa temuan ini penting bagi Indonesia? Pertama, Oryzias celebensis adalah ikan endemik Sulawesi, simbol keanekaragaman hayati tropis yang tidak dimiliki kawasan lain di dunia. Kerusakan pada spesies ini bukan hanya kehilangan biologis, tetapi juga kehilangan identitas ekologis.
Kedua, ikan ini berpotensi menjadi spesies sentinel, penanda dini kesehatan ekosistem perairan tawar tropis. Jika ikan kecil ini sudah menunjukkan luka di tingkat sel dan gen, kita patut bertanya: apa yang sedang terjadi pada organisme lain, termasuk ikan konsumsi manusia?
Dalam konteks One Health, kerusakan hati ikan akibat stirena memiliki implikasi yang melampaui ekologi. Senyawa ini dapat terakumulasi sepanjang jejaring makanan, berpindah dari air ke ikan, lalu ke manusia. Gangguan metabolik, inflamasi kronis, dan stres oksidatif bukan hanya isu ikan, tetapi juga ancaman kesehatan publik jangka panjang.
Ulasan ini bukan seruan untuk menolak plastik secara simplistis, melainkan ajakan untuk berpikir ulang tentang paradigma produksi dan konsumsi serta pengolahan sampah secara ekologis.
Plastik bukan hanya benda mati; ia adalah sumber molekul aktif yang terus bekerja lama setelah produk itu dibuang. Selama kebijakan pengelolaan limbah plastik dan limbah industri di Indonesia masih lemah, perairan kita akan menjadi laboratorium raksasa bagi eksperimen toksik yang tak kita sadari.
Penelitian ini juga memberi pesan penting bagi dunia ilmu nasional. Indonesia tidak boleh hanya menjadi lokasi pencemaran, tetapi harus menjadi pusat pengetahuan tentang dampaknya. Studi berbasis spesies lokal, dengan pendekatan molekuler dan histopatologis yang kuat, seperti ini, adalah fondasi kebijakan lingkungan yang berbasis bukti.
Luka pada hati Oryzias celebensis adalah luka ekosistem kita. Ia tidak berdarah, tidak berteriak, tetapi berbicara melalui gen, sel, dan jaringan yang rusak.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah stirena berbahaya, melainkan apakah kita bersedia mendengar pesan yang disampaikan ikan kecil dari Sulawesi ini, sebelum luka serupa menjalar ke seluruh sistem kehidupan yang menopang manusia.
___
Penulis: Prof Khusnul Yaqin, Guru Besar FIKP Universitas Hasanuddin









