NHK World | Membangun Kembali Surga Bawah Laut: Barrang Lompo, SOD dan Kiprah Syahrul Harijo

  • Whatsapp
Syahrul Harijo (Sangkarrang Ocean Dive)
  • Apa yang dilakukan warga Barrang Lompo menunjukkan bahwa masa depan lautan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau teknologi canggih, tetapi juga oleh tangan-tangan masyarakat kecil yang peduli.
  • Dengan semangat gotong royong, mereka mengubah puing karang menjadi taman laut baru, mengoreksi kesalahan masa lalu, dan memberi hadiah berharga bagi generasi mendatang.

PELAKITA.ID – Pelakita.ID mendapat kiriman video yang inspiratif yang menggambarkan sebuah inisiatif mulia dari Pulau Barrang Lompo, tentang konservasi terumbu karang dan harapan baru setelah karang luluh lantak oleh pemboman ikan. Video itu diproduksi oleh NKH Jepang.

Disebutkan, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan terumbu karang terbesar di dunia. Sayangnya, kekayaan ini selama puluhan tahun terancam oleh praktik penangkapan ikan yang paling merusak: pengeboman ikan.

Meski telah dilarang sejak 2004, ledakan bom ikan masih terdengar di sejumlah wilayah pesisir, meninggalkan jejak kehancuran berupa hamparan karang patah dan lautan yang seolah kehilangan kehidupan.

Namun harapan belum padam. Dari sebuah pulau kecil bernama Barrang Lompo, di Selat Makassar, sekelompok warga bangkit untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan generasi mereka sendiri.

Menikmati manfaat konservasi karang di Pulau Barrang Lompo

Jejak Kerusakan di Negeri Seribu Karang

Ledakan bom ikan mungkin hanya berlangsung hitungan detik, tetapi dampaknya bertahan puluhan tahun. Terumbu karang yang mestinya menjadi rumah bagi ribuan spesies laut hancur menjadi puing-puing.

Wilayah yang sebelumnya penuh warna, kini tampak seperti padang tandus di dasar laut.
Dengan populasi lebih dari 5.000 jiwa, sekitar 80 persen warga Barrang Lompo menggantungkan hidup pada perikanan dan pengolahan hasil laut. Ketika terumbu karang rusak, bukan hanya ekosistem yang terancam, tetapi juga sumber penghidupan mereka.

Lahirnya Komunitas Penjaga Karang ‘Sangkarrang Ocean Dive’

Melihat kehancuran lingkungan yang semakin parah, Syahrul Harijo mengambil langkah berani. Lima tahun lalu, bersama 10 warga lainnya, ia mendirikan sebuah organisasi restorasi terumbu karang bernama Sangkarrang Ocean Dive atau SOD.

Tujuannya sederhana tetapi besar: memulihkan apa yang sudah rusak akibat pengeboman ikan. “Sebagai orang pulau, saya merasa bertanggung jawab,” ujarnya di video itu.

Memulai penanaman karang

“Terumbu karang penting bagi lingkungan, tetapi juga penting bagi masa depan mata pencaharian kami.”

Komunitas ini menggunakan teknologi sederhana namun efektif yang disebut reef star—kerangka besi berbentuk bintang berdiameter sekitar 90 cm, dirancang untuk menjadi tempat tumbuhnya fragmen karang muda.

Setiap minggu, para anggota kelompok menyelam ke lokasi restorasi untuk merawat dan mengevaluasi perkembangan karang. Reef star dipasang sedikit terangkat dari dasar laut agar nutrien dapat mengalir bebas dan sinar matahari lebih mudah dijangkau karang muda.

Dengan cara ini, pertumbuhan karang meningkat hingga 1,5 kali lebih cepat dari kondisi normal.

Setelah mencapai ukuran tertentu, fragmen karang dipotong dan ditempelkan pada reef star lain yang sudah disiapkan, memperluas area restorasi sedikit demi sedikit. Setiap kerangka dapat menampung hingga 15 fragmen karang.

Perlahan, fondasi terumbu buatan tercipta di atas kawasan yang sebelumnya hancur oleh bom. Sebulan sekali, kelompok ini membersihkan karang dari alga atau serpihan yang bisa menghambat pertumbuhan.

Menurut pakar karang Universitas Hasanuddin, Dr Syafyudin Yusuf, reef star adalah metode ideal untuk wilayah yang rusak akibat pengeboman.

Penampakan hasil konservasi karang Reef Star

“Kerangka besi ini memberikan struktur stabil untuk karang tumbuh. Celah-celahnya juga menjadi tempat persembunyian ikan dan area pemijahan,” jelasnya.

Pendekatan ini tidak hanya memulihkan karang, tetapi juga membantu membangun kembali proses-proses ekologis yang mendukung keseluruhan rantai makanan laut.

Kisah Kiky: Dari Bom Ikan ke Penjaga Karang

Di antara para penyelam restorasi, ada satu sosok yang membawa kisah paling menggetarkan: Kiky. Ia berhenti sekolah pada usia 10 tahun untuk membantu keluarganya sebagai nelayan. Ketika itu, salah satu cara tercepat mendapatkan ikan adalah dengan bom.

Namun setelah larangan diterapkan dan melihat banyak nelayan celaka akibat salah waktu melempar bom, ia berhenti. Kini ia bekerja menangkap dan mengolah teripang. Namun rasa bersalah akan kerusakan yang pernah ia timbulkan mendorongnya untuk bergabung dalam program restorasi.

Dr Syafyuddin Yusuf (FIKP Unhas)

“Saya ingin menebus kerusakan yang saya buat dulu,” katanya. “Generasi kami sudah cukup merusak lingkungan. Ini saatnya memperbaiki.”

Dan hasilnya mulai terlihat. Reef star yang dipasang lima tahun lalu kini hampir tertutup sepenuhnya oleh karang baru. Ikan-ikan pun kembali berenang dalam jumlah besar, menghidupkan kembali ekosistem yang pernah mati.

Membangun Masa Depan, Satu Reef Star pada Satu Waktu

Hingga kini, organisasi tersebut telah memasang 200 reef star, mencakup area sekitar 0,8 hektare—setara dengan satu lapangan sepak bola.

Upaya mereka yang konsisten menunjukkan bahwa ekosistem yang rusak parah sekalipun dapat pulih dengan kolaborasi, ketekunan, dan ilmu pengetahuan.

“Kami ingin memulihkan seluruh terumbu karang yang hancur,” tegas Shafru. “Itulah mimpi kami, dan kami akan terus bekerja untuk mewujudkannya.”

Dedikasi mereka menyentuh banyak orang, termasuk ilmuwan dan pegiat lingkungan di berbagai negara. Reef star terbukti efektif tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Australia dan Arab Saudi—menandakan bahwa model pemulihan ini memiliki potensi global.

Apa yang dilakukan warga Barrang Lompo menunjukkan bahwa masa depan lautan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau teknologi canggih, tetapi juga oleh tangan-tangan masyarakat kecil yang peduli.

Dengan semangat gotong royong, mereka mengubah puing karang menjadi taman laut baru, mengoreksi kesalahan masa lalu, dan memberi hadiah berharga bagi generasi mendatang.

Satu reef star mungkin terlihat kecil. Namun jika disatukan, ia adalah simbol harapan bahwa ekosistem laut Indonesia dapat kembali pulih—setahap demi setahap, dari dasar laut hingga masa depan.

Sumber narasi https://www.youtube.com/watch?v=rirzfz0SrUA

Editor Denun