Menggagas KKN Tematik Perubahan Iklim: Solusi Lokal di Tengah Tantangan Global

  • Whatsapp
Muliadi Saleh, Esais Reflektif, Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL

Muliadi  Saleh
Esais Reflektif dan Kolomnis Pelakita

PELAKITA.ID – Perubahan iklim hari ini bukan lagi sekadar topik seminar atau laporan lembaga dunia. Ia telah menjelma menjadi realitas sehari-hari yang paling jelas terasa di desa-desa: musim yang makin sulit ditebak, curah hujan yang tak beraturan, kekeringan yang memanjang, hingga ancaman gagal panen yang membebani ekonomi keluarga petani.

Dalam konteks ini, KKN Tematik Perubahan Iklim bukan hanya program pengabdian; ia adalah upaya membangun ketangguhan desa dalam menghadapi tantangan global yang menuntut solusi lokal.

Kekuatan KKN sesungguhnya terletak pada jarak yang dekat antara mahasiswa dan warga. Mahasiswa hadir bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai jembatan: menghubungkan ilmu kampus dengan kearifan lokal, menggabungkan teknologi sederhana dengan pengalaman panjang para petani, nelayan, dan ibu rumah tangga yang telah lama berhadapan dengan perubahan alam.

Langkah pertama yang paling penting adalah membaca realitas desa secara lebih jernih.

Mahasiswa perlu melakukan pemetaan awal—semacam Climate Village Assessment sederhana.

Mereka bisa menggali cerita petani tentang perubahan musim, memetakan titik banjir, kawasan rawan kekeringan atau longsor, serta mengidentifikasi sumber daya desa yang bisa diperkuat.

Mengumpulkan informasi tentang pola tanam, sumber air, pengelolaan sampah, dan energi rumah tangga akan membantu merumuskan program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Dari sana, KKN dapat diarahkan untuk mengangkat kearifan lokal sebagai basis adaptasi. Banyak praktik tradisional sesungguhnya adalah teknologi lingkungan yang telah teruji zaman: sistem pengelolaan air melalui sumur tua atau embung kecil, varietas tanaman lokal yang tahan terhadap cuaca ekstrem, hingga pranata mangsa atau pengetahuan waktu tanam yang diwariskan turun-temurun.

Mahasiswa dapat menghubungkan semua itu dengan informasi modern—misalnya mengintegrasikan pranata mangsa dengan data BMKG, atau menguatkan teknik tanam lokal dengan metode mulsa organik dan kompos cepat.

Program yang dikembangkan tidak perlu mahal atau rumit. Justru yang paling berdampak adalah inisiatif kecil yang mudah direplikasi.

Misalnya: kebun pangan rumah tangga untuk menambah ketahanan pangan keluarga; sistem penampungan air hujan sederhana; pelatihan kompos dan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga; demonstrasi tanam varietas tahan kering; atau kampanye edukasi sederhana tentang mengapa musim menjadi tidak menentu.

Program seperti ini dapat dikerjakan mahasiswa, dipahami warga, dan meninggalkan dampak jangka panjang.

Namun, KKN tidak boleh berjalan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi: antara mahasiswa dan pemerintah desa, antara mahasiswa dan penyuluh pertanian, BPBD, sekolah, atau komunitas lingkungan setempat. Di sinilah mahasiswa benar-benar berperan sebagai penggerak, bukan hanya tamu yang tinggal beberapa minggu.

Agar warisan program lebih terstruktur, mahasiswa sebaiknya menghasilkan keluaran konkret: Profil Risiko Iklim Desa, Peta Aksi Iklim 1–3 tahun, prototipe kecil seperti komposter, kebun adaptif, atau bak penampung air hujan, serta materi edukatif yang bisa digunakan ulang oleh warga.

Jika KKN Tematik Dilaksanakan di Kota

Tidak semua krisis iklim hanya berdiam di desa. Kota pun merasakan hantaman yang sama, hanya dalam bentuk yang berbeda: gelombang panas yang makin ekstrem, banjir kilat akibat drainase tak memadai, konsumsi energi berlebih, polusi udara yang mengikat langit dengan warna kelabu, hingga persoalan sampah yang menggunung.

Karena itu, KKN Tematik Perubahan Iklim di kawasan perkotaan membutuhkan pendekatan yang berbeda namun sama pentingnya.

Mahasiswa dapat mengawali dengan Urban Climate Assessment: memetakan titik banjir langganan, kawasan “panas perkotaan” (urban heat island), pola sampah rumah tangga, ruang terbuka hijau yang menyusut, atau perilaku konsumsi energi masyarakat.

Kearifan lokal kota pun ada, meski tidak selalu bernama tradisi. Ia muncul dalam bentuk komunitas-komunitas urban: kelompok bank sampah, penggiat sepeda, komunitas hidroponik, penggerak taman bacaan atau taman kota, hingga UMKM yang mulai mempraktikkan ekonomi sirkular.

Mahasiswa dapat memperkuat semua ini melalui pendampingan, riset mini, atau inovasi kecil yang langsung menyentuh kebutuhan warga.

Program adaptasi di kota dapat menginisiasi kegiatan berupa pembuatan taman resapan di halaman sekolah, masjid, atau kantor RW; pengembangan kebun hidroponik di ruang sempit; kampanye transportasi rendah emisi; edukasi pengurangan sampah plastik; demoplot atap hijau (green roof) atau pot bertingkat; pengukuran area panas untuk mendorong penghijauan berbasis bukti.

Kota adalah ruang kompleks, tetapi justru di sanalah inovasi cepat bisa tumbuh. Mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dengan menghubungkan warga, komunitas, dan pemerintah kelurahan untuk menciptakan lingkungan yang lebih adaptif dan sadar iklim.

Pada akhirnya, KKN Tematik Perubahan Iklim yang digelar oleh perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin hingga perguruan tinggi swasta di Sulawesi Selatan—baik di desa maupun di kota—adalah bentuk nyata kontribusi kampus dalam menyiapkan masyarakat menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Desa mungkin berada jauh dari pusat kebijakan global, namun ia menyimpan banyak jawaban praktis. Kota mungkin bising dan padat, tetapi ia adalah laboratorium perubahan sosial yang dinamis.

Perubahan iklim memang tantangan besar, tetapi seperti sering dikatakan para tetua, “jawaban atas masalah besar seringkali justru lahir dari hal-hal kecil yang dikerjakan bersama.”

KKN menjadi ruang bagi kita untuk membuktikan hal itu, di manapun mahasiswa ditempatkan—di ladang yang retak oleh kemarau, atau di gang kota yang panas oleh gedung-gedung dan asap.

Makassar, 25 November 2025