PELAKITA.ID – Penulis mengenal ‘beliau’ Christovel Rotinsulu saat bekerja di Proyek Coral Reef Rehabilitation and Management Program tahun 1999 di Selayar.
Nama Chris disebut saat sejumlah warga dari Kepulauan Taka Bonerate Selayar studi banding ke Desa Blongko Sulawesi Utara terkait pengelolaan daerah perlindungan laut. Chris disebut sebagai salah satu sosok yang berjasa dalam desain DPL itu melalui skema Proyek Pesisir USAid.
Pembaca sekalian, di tengah kompleksitas persoalan laut dunia—mulai dari perubahan iklim hingga tekanan industri perikanan—nama itu muncul lagi dan penulis termukan di sejumlah rilis dokumenn Coral Triangle Initiative (CTI).
Siapa Chris? Yang pasti, penulis mengingatnya sebagai sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan, namun menghasilkan dampak besar bagi keberlanjutan wilayah maritim paling penting di dunia. Di sejumlah kegiatan DPP Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia sejak bertahun silam, dia aktif menyuarakan pentingnya peran alumni Kelautan se-Indonesia untuk membangun potensi maritim NKRI.
Pria bernama lengkap Christovel R. S. “Chris” Rotinsulu adalah Deputy Executive Director for Program Services di Sekretariat Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), ia adalah salah satu aktor kunci yang menjaga masa depan kawasan laut yang menjadi rumah bagi 76% spesies karang dunia.
Chris adalah figur yang mampu menjembatani tiga dunia penting: ilmu pengetahuan, kebijakan, dan masyarakat pesisir.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang ecosystem-based management, pengelolaan kawasan konservasi, hingga co-management perikanan, ia telah menjadi rujukan bagi negara-negara anggota CTI-CFF dalam merancang kebijakan yang berbasis bukti sekaligus berpihak pada masyarakat lokal.
Pendidikannya mengukuhkan kemampuan tersebut: Dia adalah Sarjana Ilmu dan Teknologi Kelautan dari Universitas Sam Ratulangi Peraih Master Biodiversity Management – Italia dan Doktor Marine Affairs – University of Rhode Island lewat beasiswa Fulbrigh.
Perpaduan ini membentuk dirinya sebagai ilmuwan sekaligus birokrat konservasi yang matang.

Peran Sentral di CTI-CFF
CTI-CFF adalah organisasi kerja sama enam negara—Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Solomon Islands, dan Timor Leste—yang bertujuan melindungi kawasan Coral Triangle, pusat biodiversitas laut dunia.
Dalam struktur ini, Chris memainkan peran strategis, bukan hanya sebagai teknokrat, tetapi juga sebagai regional diplomat.
Pada 2023–2024, ia bahkan dipercaya menjadi Acting Executive Director, memimpin sekretariat di masa transisi. Di tangan Rotinsulu, program-program berjalan dengan stabil, memastikan konsistensi arah strategi konservasi, tata kelola, dan hubungan antarnegara anggota.
Kontribusi Utama: Dari MPA hingga Diplomasi Kawasan
Menguatkan Jejaring Kawasan Konservasi Laut (MPA)
Di bawah kepemimpinannya, CTI-CFF terus memperkuat standar dan efektivitas pengelolaan Coral Triangle Marine Protected Area System (CTMPAS). Sistem empat kategori penilaian efektivitas MPA—yang menjadi rujukan internasional—berhasil memberikan ukuran nyata keberhasilan konservasi.
Langkah ini penting bagi kawasan seperti Raja Ampat, Wakatobi, hingga kawasan prioritas di Filipina dan Malaysia yang menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati laut dunia.
Di tangan Chris, CTMPAS tidak hanya menjadi daftar kawasan konservasi, tetapi berkembang menjadi alat manajemen kawasan yang dapat mengukur kinerja, mendeteksi kelemahan, dan mendorong peningkatan tata kelola di negara-negara anggota.
Ia memastikan bahwa standar pengelolaan tidak berhenti pada tingkat deklarasi, tetapi diimplementasikan melalui monitoring berkelanjutan, peningkatan kapasitas pengelola MPA, serta harmonisasi kebijakan antarnegara.
Upaya ini membuat CTMPAS menjadi model platform regional yang mampu menghubungkan sains, kebijakan, dan praktik lapangan dalam satu siklus manajemen yang lebih responsif terhadap perubahan ekologi dan sosial.
Selain itu, pendekatan Rotinsulu dalam memperkuat CTMPAS memberikan kontribusi besar pada diplomasi lingkungan kawasan Coral Triangle. Ia mendorong komitmen bersama antarnegara anggota untuk menjadikan MPA bukan hanya ruang perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga instrumen ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi berbasis ekosistem. Dengan demikian,
CTMPAS berkembang menjadi pilar strategis yang memiliki nilai ekologis sekaligus nilai geopolitik. Banyak negara dan organisasi internasional kini menganggap CTI-CFF sebagai model kerja sama multilateral yang efektif karena kemampuan Rotinsulu menjaga arah strategis, konsistensi implementasi, serta mengintegrasikan kepentingan ekologi dan kesejahteraan manusia secara seimbang.
Mempercepat Agenda Blue Economy
Rotinsulu menjadi salah satu pengusung kuat gagasan ekonomi biru: pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan pentingnya inovasi pembiayaan, seperti skema pendanaan berkelanjutan, blue carbon, hingga debt-for-nature swaps untuk mendukung konservasi jangka panjang.

Pendekatan ini menjadikan konservasi bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga peluang ekonomi bagi negara-negara anggota.
Salah satu warisan terpentingnya adalah dorongan kuat pada CTI-CFF Youth Ambassador Program, sebuah program lintas nasional yang ditujukan mencetak generasi muda pemimpin laut.
Dengan melibatkan anak muda, Rotinsulu menggeser konservasi dari isu teknis menjadi gerakan sosial lintas generasi.
Chris tampil sebagai representasi CTI-CFF dalam berbagai pertemuan internasional: membahas target 30×30, perubahan iklim, hingga pengelolaan perikanan berkelanjutan. Dalam forum-forum tersebut ia menyuarakan pentingnya kerja sama lintas negara, karena kesehatan laut di Coral Triangle tidak mengenal batas politik.
Melalui pendekatannya yang tenang namun tegas, ia memperkuat posisi kawasan sebagai aktor penting dalam percaturan global isu kelautan.
Mendorong Advokasi dan Antisipasi Krisis Iklim dan Tekanan Industri
Meski banyak capaian, tantangan kawasan Coral Triangle tidak berkurang. Pemanasan laut, polusi plastik, perikanan berlebih, dan lemahnya pendanaan konservasi masih menjadi ancaman nyata.
Chris Rotinsulu ikut mendorong upaya-upaya seperti peningkatan pendanaan konservasi melalui inovasi pembiayaan, penegakan standar pengelolaan MPA yang lebih kuat, integrasi riset sains dalam kebijakan konservasi, partisipasi masyarakat pesisir dalam pengambilan keputusan.
Dia adalah lulusan ‘Kelautan’ yang punya visinya jelas: konservasi harus memberikan manfaat langsung bagi ekosistem dan kesejahteraan manusia.
Tidak berlebihan jika penulis menyebut sebagai pemimpin dari arena sunyi namun pengaruhnya melampaui jabatan.
Pembaca sekalian, Christovel Rotinsulu bukan tipe alumni atau dia yang selalu =mencari panggung. Ia bekerja di balik layar, memastikan roda konservasi berjalan dengan baik, para pemangku kepentingan terhubung, dan kebijakan regional memiliki arah yang jelas.
Warisan pentingnya bukan hanya dokumen kebijakan, tetapi ecosystem of leadership—jaringan ilmuwan, teknokrat, pejabat publik, pemimpin lokal, dan generasi muda yang dia dorong untuk terlibat aktif menjaga Coral Triangle.
Dalam lanskap konservasi laut Indonesia dan kawasan, Chris Rotinsulu adalah figur yang memadukan kompetensi akademik, pengalaman lapangan, kemampuan diplomasi, dan komitmen personal yang kuat untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan.
___
Sorowako, 21 November 2025









