Kabar dari COP30 Brazil | Trump Absen, Panggung Iklim Dunia Kehilangan Amerika

  • Whatsapp
Suasana pelaksanaan COP30 di Belem Brazil (dok: ABC10)

“Ini memalukan. Presiden Trump telah meninggalkan arena energi bersih. California akan tetap berada di garis depan, terutama dalam bersaing dengan China.”

PELAKITA.ID – Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil tahun ini dibuka dengan catatan penting: Presiden Donald Trump tidak hadir.

Di tengah krisis iklim yang makin parah dan seruan global untuk mempercepat aksi, absennya pemimpin negara dengan ekonomi terbesar di dunia meninggalkan ruang hampa—baik secara diplomatik maupun moral.

Sementara para pemimpin dunia berkumpul di tepian hutan Amazon untuk merundingkan masa depan energi bersih, Amerika Serikat justru diwakili oleh lebih dari 100 pejabat negara bagian: gubernur, wali kota, dan pemimpin lokal.

Ketiadaan Trump di panggung internasional memberi sinyal kuat bahwa kebijakan iklim nasional Amerika sedang tersendat di tingkat pusat, sementara inisiatif daerah berusaha menutup celah.

Newsom Menyerang: “Ini Memalukan”

Gubernur California, Gavin Newsom, menjadi salah satu figur AS yang paling vokal di COP30.

Dalam pidatonya, Newsom menyampaikan kritik tajam terhadap absennya presiden—kritik yang langsung menarik perhatian media global.

Menurut Newsom, ketidakhadiran Trump bukan hanya masalah simbolik, tetapi sebuah pengabaian strategis terhadap masa depan energi dunia.

Ia menegaskan bahwa sementara pemerintah federal “meninggalkan ruang energi bersih”, negara bagian seperti California justru melangkah ke depan. “Ini memalukan. Presiden Trump telah meninggalkan arena energi bersih. California akan tetap berada di garis depan, terutama dalam bersaing dengan China.”

Kalimat itu bukan hanya sindiran, melainkan penegasan bahwa kompetisi energi global kini bukan sekadar soal listrik, tetapi soal kekuasaan ekonomi.

California Mengambil Alih Panggung Internasional

Absennya kepemimpinan federal tampaknya justru membuka ruang bagi negara-negara bagian untuk tampil lebih menonjol.

Newsom menyatakan bahwa California kini menjadi mitra yang lebih “dapat diandalkan” bagi dunia dalam isu energi bersih—sebuah jab yang diarahkan langsung ke Washington. “California memiliki dua hal: komitmen dan konsistensi. Saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk pemerintahan di Washington.”

Di COP30, Newsom juga menandatangani nota kesepahaman baru untuk kerja sama internasional dalam pencegahan dan respon kebakaran hutan. Langkah ini memperkuat posisi California sebagai salah satu aktor iklim paling proaktif di Amerika.

Ketidakhadiran Trump: Apa Dampaknya?

Ketika Trump memilih untuk tidak hadir, pesan yang sampai ke komunitas global cukup jelas:

Amerika Serikat tidak ingin memimpin agenda iklim global.

Geopolitik energi kini dipimpin oleh negara lain, terutama China dan blok ekonomi hijau Eropa.

Negara bagian dan kota-kota akhirnya menjadi diplomat iklim Amerika yang sebenarnya.

Bagi banyak negara, ketiadaan presiden negara beremisi besar seperti AS membuat negosiasi menjadi kurang stabil. Arah kebijakan iklim AS dapat berubah drastis setiap pergantian pemerintahan, sebuah ketidakpastian yang merusak komitmen jangka panjang.

Newsom dan Masa Depan Politiknya

Ketika ditanya tentang ambisi politiknya sendiri, Newsom menjawab dengan diplomatis namun penuh makna: “Jabatan terpenting adalah Office of Citizen—kewargaan aktif. Itu sudah menjadi karunia tersendiri. Tetapi kita lihat saja apa yang terjadi.”

Jawaban itu makin memicu spekulasi: Apakah Newsom sedang membangun panggung untuk masa depan politik nasionalnya?
Kunjungan ke Brasil—bertemu pemimpin dunia, membentuk kerja sama, dan tampil sebagai suara kuat untuk aksi iklim—tentu memperkuat profil internasionalnya.

Apa yang Bisa Dipelajari Dunia dari Absennya AS?

COP30 memperlihatkan satu kenyataan penting: diplomasi iklim modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kepala negara.

Ketika presiden absen, negara bagian, kota, bahkan komunitas bisnis dapat mengisi kekosongan itu. Namun, tanpa komitmen federal, dunia tetap kehilangan salah satu pemain terpenting.

Amerika Serikat tetap menjadi penghasil emisi terbesar kedua dunia dan pemimpin teknologi global. Ketidakhadiran Trump membuat perjuangan global melawan krisis iklim kehilangan sebagian dari momentum strategisnya.

Kesimpulan: Dunia Bergerak, Amerika Terbagi

COP30 menegaskan kontras besar antara dua wajah Amerika: Washington bawah Trump, yang menjauh dari panggung iklim dan Amerika lokal, yang justru bekerja aktif, berkolaborasi, dan ingin mempertahankan keunggulan ekonomi hijau.

Absennya Trump bukan hanya kisah tentang diplomasi yang hilang—ini adalah cermin dari polarisasi Amerika dalam isu terbesar abad ini.

Di tengah panasnya Amazon dan desakan negara-negara berkembang, COP30 meninggalkan satu pertanyaan penting:

Apakah dunia bisa memenangkan perjuangan iklim tanpa kehadiran penuh Amerika?

Source: ABC10