40 Gigawatt Potensi EBT di Regional Sulawesi

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Bayangkan, satu megawatt (MW) listrik bisa menerangi sekitar 30.000 rumah tangga di Indonesia. Sekarang, kalikan dengan seribu. Itulah satu gigawatt (GW).

Jadi, jika Sulawesi memiliki potensi energi terbarukan sebesar 40 gigawatt (GW), itu berarti setara dengan pasokan listrik untuk sekitar 1,2 miliar rumah tangga, tergantung tingkat konsumsi per rumah.

Untuk membayangkannya lebih nyata, PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan memiliki kapasitas sekitar 126 MW. Artinya, potensi 40 GW itu 317 kali lebih besar.

Dibandingkan dengan PLTB Sidrap yang berkapasitas 75 MW, maka 40 GW 533 kali lipat lebih besar.

Bahkan, jika disandingkan dengan PLTU Suralaya di Banten — salah satu pembangkit listrik terbesar di Indonesia dengan kapasitas 4.000 MW (4 GW) — maka total potensi energi terbarukan Sulawesi setara dengan sepuluh kali PLTU Suralaya. Energi sebesar ini juga sekitar 40 kali lebih besar dari total kebutuhan listrik kota Makassar saat ini.

Secara global, 40 GW setara dengan seluruh kapasitas tenaga surya Australia pada tahun 2024.

Jika seluruh potensi itu dikonversi menjadi tenaga surya, maka dibutuhkan sekitar 160 juta panel surya standar. Sedangkan jika dikonversi menjadi tenaga bayu (angin), maka diperlukan sekitar 10.000 turbin angin besar.

Namun, penting diingat bahwa angka 40 GW ini belum sepenuhnya terpasang — ini adalah potensi teknis total dari gabungan sumber daya alam di Sulawesi: matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa.

Potensi luar biasa ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan dan investasi yang tepat, Sulawesi dapat menjadi pusat energi bersih Indonesia Timur, bahkan memiliki peluang mengekspor listrik ke pulau-pulau lain melalui jaringan antarprovinsi di masa depan.

Lebih dari sekadar angka, 40 GW adalah simbol dari masa depan energi hijau Indonesia — masa depan di mana Sulawesi memainkan peran penting dalam mewujudkan transisi energi bersih, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi seluruh negeri.