Riset ini bertujuan membantu Gen Z mengenal potensi dirinya dan merancang karier yang lebih terarah agar tidak terjebak dalam ketidakpastian pekerjaan.
Nur Siti Rahma, mahasiswi Ilmu Ekonomi 2023 Universitas Hasanuddin.
PELAKITA.ID – Generasi Z (Gen Z) yang kini mulai mendominasi dunia kerja menghadirkan tantangan baru bagi keberlanjutan tenaga kerja di Indonesia.
Sebagai generasi digital yang dinamis dan penuh ide, Gen Z dikenal memiliki semangat tinggi untuk bekerja sesuai minat. Namun, di sisi lain, mereka kerap berpindah-pindah pekerjaan (job hopping) tanpa arah karier yang jelas.
Fenomena ini menjadi perhatian sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).
Mereka melakukan penelitian untuk memahami bagaimana kepribadian (Big Five Personality), keyakinan diri (Self-Efficacy), dan ekspektasi karier (Outcome Expectations) berperan dalam membentuk tujuan pribadi (Personal Goals) Gen Z di dunia kerja.
“Riset ini bertujuan membantu Gen Z mengenal potensi dirinya dan merancang karier yang lebih terarah agar tidak terjebak dalam ketidakpastian pekerjaan,” ungkap Nur Siti Rahma, mahasiswi Ilmu Ekonomi 2023 Universitas Hasanuddin.
Tim riset ini terdiri atas Amelda Sari (Ekonomi Pembangunan 2023), Nurul Mutmainna (Ekonomi Pembangunan 2023), Meysa Dwi Andini (Psikologi 2024), dan Adelia Rizqina Sadalia (Statistika 2022), di bawah bimbingan Insany Fitri Nurqamar, S.E., M.M.
Penelitian berjudul “Decoding Gen Z Career Mindset: Studi Big Five Personality Menggunakan Pendekatan Social Cognitive Career Theory dan Interpretative Phenomenological Analysis” ini dilaksanakan pada Juli–Oktober 2025 menggunakan metode campuran (mixed methods) terhadap 400 responden, serta dilengkapi wawancara mendalam kepada enam informan.
“Temuan kami menunjukkan bahwa kepribadian tidak secara langsung menentukan arah karier. Justru self-efficacy menjadi faktor paling berpengaruh dalam membentuk personal goals Gen Z,” jelas Adelia.
Hasil wawancara memperlihatkan cara Gen Z memaknai karier secara personal. Banyak informan menilai bahwa pekerjaan ideal bukan semata soal gaji, tetapi lebih pada kenyamanan, keseimbangan hidup, dan makna pribadi.
“Yang penting saya nyaman dan merasa pekerjaan ini bermakna,” ungkap salah satu informan.
Selain itu, pengalaman hidup, dukungan sosial, dan figur teladan juga disebut berperan penting dalam membentuk keyakinan diri Gen Z.
Dari temuan tersebut, tim menyimpulkan bahwa self-efficacy tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian, tetapi juga oleh pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan inspirasi dari tokoh panutan. Hasil riset ini kemudian melahirkan sebuah model baru bernama Career Self-Regulation Model (CSRM), yang mendorong Gen Z untuk merencanakan karier secara reflektif dan adaptif.
Dosen pendamping Insany Fitri Nurqamar, S.E., M.M. menuturkan bahwa hasil riset ini diharapkan dapat menjadi strategi praktis bagi generasi muda dalam menghadapi dunia kerja.
“Model ini tidak hanya membantu Gen Z mengatur arah kariernya, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri, ketahanan mental, dan kemampuan beradaptasi di tengah disrupsi ekonomi,” ujarnya.
Melalui riset ini, tim berharap Generasi Z lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan.
TIM GENCAR: Decode the Mindset, Decode the Future.









