PELAKITA.ID – Muhammad Ilman, Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memaparkan latar belakang, strategi dukungan dan kegiatan yang bertemali dengan Kebijakan Ekonomi Biru Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dia menyempaikan itu di depan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Dirjen Perikanan Tangkap Lotharia Latif hingga Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Syahril Abdul Raup dan sejumlah jejaring LSM Kelautan dan Perikanan di Bali, 6 September 2025.
“Merupakan kehormatan bagi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dapat hadir dan berpartisipasi dalam peluncuran program e-logbook yang sangat krusial ini,” ucap Ilman saat membuka paparannya.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi atas langkah nyata Pemerintah, melalui KKP, dalam mewujudkan strategi perikanan berkelanjutan menuju Indonesia yang lestari,” ucapnya.
Inisiatif, lanjut Ilman, bukan hanya menandai kemajuan digitalisasi sektor kelautan, tetapi juga menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengelola sumber daya laut secara bertanggung jawab dan berbasis sains.
Dia menjelaskan program e-logbook merupakan terobosan penting untuk memastikan pengambilan keputusan di bidang perikanan dilakukan berdasarkan data yang akurat dan real-time.
“Fokus utama kita, yaitu perikanan tuna, memiliki nilai strategis luar biasa. Indonesia menyumbang sekitar 19 persen produksi tuna dunia, dengan nilai ekspor yang pada tahun 2023 diperkirakan mencapai satu miliar dolar AS,” ucapnya.
Dikatakan, angka ini bukan hanya mencerminkan potensi ekonomi, tetapi juga keberlangsungan mata pencaharian jutaan nelayan dan pekerja di rantai pasok perikanan nasional.
“Karena itu, sistem pencatatan tangkapan yang presisi menjadi pondasi penting untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing sektor ini di pasar global,” sebutnya.
Sebagai mitra pembangunan pemerintah, YKAN berkontribusi melalui penerapan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang disebut FishFace dalam sistem e-logbook.
FishFace dirancang untuk mengidentifikasi 25 jenis ikan hanya melalui foto, mencakup lebih dari 60 persen volume tangkapan di Indonesia—termasuk kakap, kerapu, dan tuna.
Sejak 2016, YKAN telah mengumpulkan lebih dari delapan juta foto dari berbagai spesies ikan untuk melatih sistem ini.
“Dengan teknologi ini, nelayan cukup mengambil foto hasil tangkapan, dan FishFace akan secara otomatis mengenali spesies, ukuran, serta lokasi tangkapan. Hasilnya, pencatatan menjadi lebih mudah, data lebih akurat, dan sistem ketertelusuran (traceability) meningkat—menjawab tuntutan pasar global yang semakin ketat terhadap transparansi dan keberlanjutan produk perikanan,” terang Ilman.
Selain FishFace, dukungan YKAN terhadap Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP juga diwujudkan melalui beberapa inisiatif strategis lainnya.
“Di antaranya adalah CODRS (Catch Documentation and Recording System) untuk pemantauan stok secara real-time, TURF (Territorial Use Rights for Fishing) yang berfokus pada pengelolaan perikanan skala kecil, serta penyusunan rekomendasi ilmiah terkait pemanfaatan tuna, kakap, dan kerapu,” ungkap Ilman.
“Semua upaya ini bertujuan memperkuat tata kelola perikanan nasional yang transparan, berbasis data, dan berpihak pada keberlanjutan ekosistem laut,” tegasnya.
Disebutkan Ilman, YKAN berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis Pemerintah Indonesia dalam memperkuat kebijakan ekonomi biru.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan laut Indonesia hanya dapat dicapai melalui sinergi antara sains, teknologi, dan tata kelola yang adil. Mari kita pastikan setiap tangkapan dicatat, setiap data dimanfaatkan, dan setiap kebijakan dijalankan untuk satu tujuan bersama: Indonesia Lestari—dengan laut yang sehat, ekonomi yang kuat, dan masyarakat pesisir yang sejahtera,” kuncinya.
___
Editor K. Azis









