Program 3 Juta Rumah: MBR Jadi Prioritas, Sulsel Siapkan Diri Menyambut Peluang

  • Whatsapp
Program 3 Juta Rumah: MBR Jadi Prioritas, Sulsel Siapkan Diri Menyambut Peluang

PELAKITA.ID – Program 3 juta rumah yang digagas Presiden Prabowo menjadi harapan besar bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang selama ini menjadi kelompok paling rentan terhadap krisis hunian.

Isu ini mengemuka dalam Ardev Talk yang digelar pada Grand Opening Ardev Hub: Coffee & Space, Sabtu (27/9/2025).

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Provinsi Sulawesi Selatan, Nining Wahyuni, menegaskan bahwa backlog perumahan masih menjadi persoalan serius di Sulsel.

“Kita menyadari sebagian besar kebutuhan rumah berasal dari kelompok MBR. Karena itu, provinsi siap untuk mengambil peran dalam mendukung penuh program nasional ini,” ujarnya.

Ketua DPD REI Sulsel, Mahmud Lambang, menambahkan bahwa peluang besar ini juga harus dibarengi dengan upaya serius mencairkan hambatan-hambatan klasik dalam pengembangan perumahan.

“Ketersediaan lahan, regulasi, dan perizinan masih jadi kendala. Tanpa menyelesaikan itu, program sebesar apa pun bisa tersendat,” katanya.

Sementara itu, Sayidatul Lutfiah, peneliti Ardev Institute, menyoroti aspek kualitas. Menurutnya, pembangunan rumah tidak boleh hanya mengejar angka.

“Rumah layak adalah hak setiap warga negara. Program 3 juta rumah jangan sampai hanya melahirkan perumahan massal tanpa memperhatikan standar kelayakan dan kenyamanan,” ujarnya.

Dari sisi pembiayaan, Ketua DPW APSI Sulsel, Muh Akram P, menawarkan alternatif berbasis syariah. “Skema syariah bisa menjadi pilihan yang lebih ramah bagi masyarakat kecil, terutama yang kesulitan mengakses kredit konvensional,” jelasnya.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi strategis, tetapi juga memperlihatkan semangat kolaborasi.

Ardev Talk mendapat dukungan dari IKA Arsitektur Unhas, Forum A20, dan AWK, yang ikut menguatkan peran komunitas profesional dalam menjawab tantangan pembangunan perumahan.

Diskusi ini menggambarkan bahwa program 3 juta rumah bukan sekadar agenda pembangunan fisik, melainkan juga soal keadilan sosial. Sebab, yang paling membutuhkan rumah bukanlah mereka yang sudah mapan, melainkan masyarakat kecil yang selama ini hanya bisa bermimpi memiliki hunian layak.