‘Booming’ Nikel dan Ketimpangan Regional: Membaca Peta Pertumbuhan Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Faktor tambahan adalah basis ekonomi yang kecil: karena ekonominya relatif kecil, proyek industri berskala besar membuat tingkat pertumbuhan melonjak secara tidak proporsional. Namun, kisah sukses ini juga menimbulkan kekhawatiran.

PELAKITA.ID – Sebuah infografik terbaru produksi GoodStats-BPS beredar di sejumlah WAG tentang pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Indonesia pada triwulan II 2025 yang memberikan gambaran menarik tentang bagaimana kemakmuran tersebar secara tidak merata di seluruh nusantara.

Ketimpangan ini terlihat jelas.

Maluku Utara berada jauh di atas provinsi lain dengan tingkat pertumbuhan luar biasa sebesar 32,09%, disusul Sulawesi Tengah dengan 7,95%, sementara sebagian besar provinsi lainnya berkisar antara 4–6%.

Di sisi bawah, beberapa provinsi bahkan mengalami pertumbuhan negatif, seperti Papua Barat (–0,82%) dan Papua Tengah (–9,83%).

Pola yang timpang ini memberi tiga pelajaran.

Pertama, ketergantungan pada sumber daya sangat memengaruhi pertumbuhan regional. Provinsi-provinsi yang memiliki industri ekstraktif—tambang nikel, peleburan, dan energi—mengalami lonjakan ekspansi, sedangkan provinsi yang bertumpu pada pertanian, jasa, atau birokrasi tumbuh lebih moderat.

Kedua, ketidakseimbangan regional tetap bertahan. Jawa, meski berpenduduk besar dan menjadi basis industri utama, tumbuh stabil sekitar 5% tanpa gejolak seperti di kawasan timur Indonesia.

Ketiga, grafik ini menyoroti risiko konsentrasi berlebihan: ketika pertumbuhan bergantung pada satu komoditas, ledakan bisa dramatis, tetapi kemunduran bisa sama menyakitkannya.

Mengapa Maluku Utara Melaju Pesat

Pertumbuhan luar biasa Maluku Utara sebagian besar didorong oleh hilirisasi nikel. Provinsi ini telah menjadi episentrum ledakan nikel Indonesia, menampung investasi besar di Kawasan Industri Halmahera (IWIP) dan Kawasan Industri Pulau Obi (Grup Harita).

Proyek-proyek tersebut menarik miliaran dolar modal asing, terutama dari perusahaan-perusahaan Tiongkok yang ingin mengamankan pasokan untuk industri baterai kendaraan listrik (EV).

Permintaan global terhadap nikel—yang penting dalam produksi baterai EV—telah mendongkrak PDRB provinsi ini jauh di atas rata-rata nasional.

Faktor tambahan adalah basis ekonomi yang kecil: karena ekonominya relatif kecil, proyek industri berskala besar membuat tingkat pertumbuhan melonjak secara tidak proporsional. Namun, kisah sukses ini juga menimbulkan kekhawatiran.

Meski pertumbuhannya mencengangkan, manfaat ekonomi seringkali terpusat di kawasan industri, dengan efek limpahan yang terbatas bagi masyarakat lokal.

Sulawesi Tengah dan Tenggara: Menunggangi Gelombang Nikel

Provinsi dengan pertumbuhan tercepat kedua, Sulawesi Tengah (7,95%), juga menunggangi gelombang serupa. Kawasan industri Morowali dan Konawe telah mengubah daerah ini menjadi pusat pengolahan nikel global.

Di sini pun, perusahaan-perusahaan Tiongkok mendominasi, memproduksi nickel pig iron dan produk olahan lain untuk rantai pasok EV.

Demikian pula, Sulawesi Tenggara (5,89%) mendapat keuntungan dengan hadirnya PT Vale Indonesia serta sejumlah smelter nikel. Bersama-sama, Malut, Sulteng, dan Sultra menggambarkan geografi ekonomi baru Indonesia: mereka yang memiliki cadangan nikel dan menjadi tuan rumah industri hilirisasi berada di garis depan pertumbuhan.

PT Vale di Luwu Timur sebagai tambahan, telah membuat kabupaten ini satu dari tiga teratas di Sulsel yang HDI atau Gini Rationya sangat baik.

Mengapa Sulawesi Selatan Lebih Moderat

Di sisi lain, sebaliknya, Sulawesi Selatan (4,99%) menunjukkan jalur pertumbuhan yang lebih tradisional dan beragam. Provinsi ini merupakan pusat regional untuk pertanian, perikanan, perdagangan, dan jasa, dengan Makassar sebagai simpul utama perdagangan, pendidikan, dan konektivitas di Indonesia timur.

Ekonominya bertumpu pada sektor pangan, kakao, rumput laut, dan perunggasan—stabil tetapi tidak secepat ledakan nikel di provinsi tetangganya.

Diversifikasi ini membuat pertumbuhan Sulawesi Selatan lebih stabil dan kurang bergejolak. Tidak seperti Malut atau Sulteng, provinsi ini tidak mengalami injeksi besar investasi hilirisasi mineral.

Akibatnya, pertumbuhannya lebih dekat dengan rata-rata nasional: tidak melonjak tajam, tapi juga tidak terpuruk drastis. Perlu program-program stimulus untuk menggerakkan pertanian, perkebunan hingga peternakan dan perikanan.

Nikel, Pertumbuhan, dan Ketimpangan

Melihat peta secara keseluruhan, pola yang jelas muncul: provinsi-provinsi teratas—Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara—semuanya adalah provinsi nikel.

Kinerja mereka terkait langsung dengan kebijakan industri hilirisasi nikel Indonesia, yang mengubah bijih mentah menjadi produk bernilai tambah seperti feronikel dan prekursor baterai.

Namun, ini menimbulkan pertanyaan penting. Apakah pertumbuhan Indonesia semakin bergantung pada rantai pasok global EV? Apa yang akan terjadi jika permintaan melambat atau penolakan lingkungan meningkat? Bagi provinsi kaya sumber daya, ledakan saat ini bisa dengan mudah berubah menjadi kemerosotan. Sementara itu, provinsi yang tidak memiliki “bonus mineral” berisiko tertinggal, memperdalam ketimpangan regional.

Pembaca sekalian, data pertumbuhan Q2 2025 menegaskan peluang sekaligus kerentanan dari strategi pembangunan Indonesia.

Maluku Utara menjadi contoh nyata janji hilirisasi, dengan pertumbuhan dua digit yang didorong oleh nikel dan permintaan global EV. Sulawesi Tengah dan Tenggara menyusul di jalur yang sama, meraih manfaat industrialisasi berbasis sumber daya.

Sulawesi Selatan, sebaliknya, menunjukkan stabilitas ekonomi yang terdiversifikasi, kurang gemerlap tapi nampaknya lebih tangguh. Semoga.

Pada akhirnya, Indonesia menghadapi tantangan keseimbangan yang rapuh. Ledakan nikel memang nyata dan transformatif, tetapi tanpa pengelolaan yang hati-hati, ia dapat memperkuat ketimpangan, risiko lingkungan, dan ketergantungan ekonomi.

Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dapat lebih merata—lintas wilayah, lintas sektor, dan lintas generasi.

Editor Kamaruddin Azis