Humaniora | Pasara’ Cinayya

  • Whatsapp
Jejak-jejak di Kawasan Pasara' Cinayya (dok: Abdul Rasyid Idris)

Lokasinya berada di hamparan Jalan Bacan, selajur di sisi timur Jalan Sulawesi, memanjang dari Jalan Sangir di utara hingga Jalan Lembeh di selatan. Aktivitas jual beli di pasar ini berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.

Oleh: Abdul Rasyid Idris | Penikmat sepeda dan pegiat literasi kebudayaan

PELAKITA.ID – Sepulang sekolah, biasanya aku menggantikan ibuku sejenak untuk menjaga tiga petak kedai (lodz) jualan ayah. Ibuku pada saat itu sibuk mempersiapkan hidangan makan siang keluarga. Namun, pada hari Rabu ini, tak kutemui ayah di kedainya.

Saat kutanya, ibuku menjelaskan bahwa beliau sedang ke pasara’ cinayya untuk menemui kawannya yang berjualan di sana.

Pekan depan, sebuah kapal besar akan berlabuh di Pelabuhan Sukarno. Seperti biasanya, kapal-kapal langganan ayahku membutuhkan pasokan sayur-mayur, buah-buahan, dan rempah-rempah untuk ransum perjalanan selanjutnya.

Karena itu, ayah menemui kawannya di pasara’ cinayya untuk memesan sebagian kebutuhan yang akan dipasok. Permintaan dari kapal langganan kadang cukup besar, sekali pengangkutan bisa mencapai satu truk penuh.

Menjelang makan siang, ayah tiba dengan wajah sumringah. “Alhamdulillah, persiapan pesanan sudah beres semua. Kawanku di pasara’ cinayya sudah siap membantu menyediakan barang tambahan yang kita perlukan,” ujarnya penuh syukur.

Ibuku, dari balik tirai yang memisahkan lapak jualan, ruang tamu, dan dapur, ikut membalas dengan ucapan syukur.

Beberapa pedagang sayur dan rempah di pasara’ cinayya memang kawan lama ayahku. Mereka kerap saling membantu bila ada permintaan besar dari langganan.

Kadang, saat senggang, mereka pun berkunjung ke Pasar Butung tempat ayahku berjualan. Silaturahmi di antara mereka telah terjalin sejak lama.

Pasar di Tengah Pecinan

Pasara’ cinayya adalah pasar yang menyerupai pasar kaget atau pasar darurat.

Lokasinya berada di hamparan Jalan Bacan, selajur di sisi timur Jalan Sulawesi, memanjang dari Jalan Sangir di utara hingga Jalan Lembeh di selatan. Aktivitas jual beli di pasar ini berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.

Secara harfiah, pasara’ cinayya berarti “pasarnya orang Cina” atau pasar yang diperuntukkan bagi komunitas Tionghoa. Namun, kenyataannya mayoritas pedagang di sana justru berasal dari etnis Bugis-Makassar, meskipun ada beberapa pedagang Tionghoa dan Toraja.

Mereka biasanya menjajakan barang-barang tertentu, seperti daging babi atau hewan lain yang tidak dikonsumsi mayoritas muslim, seperti kodok, biawak, ular, dan penyu.

Penamaan pasara’ cinayya agaknya berkaitan dengan lokasinya yang berada di kawasan pecinan. Pasarnya tidak permanen seperti pasar besar lainnya.

Para pedagang membuka lapak di badan jalan, mulai dari pagandeng sayur-mayur dan buah-buahan yang kebanyakan berasal dari Gowa dan Takalar, hingga pagandeng ikan dari pesisir Makassar.

Pagandeng dan Gerobak

Pagandeng adalah pedagang keliling yang menjajakan sayur, buah, atau ikan dengan sepeda. Mereka menggandeng wadah di boncengan untuk membawa dagangan, lalu menjualnya berpindah-pindah atau mangkal di lokasi tertentu, seperti di pasara’ cinayya.

Selain pagandeng, pasar ini juga dipenuhi toko kecil dan gerobak aneka rupa. Uniknya, di pasar ini ibaratnya pedagang yang “mendekati” pembeli.

Hal ini karena para pembeli tinggal di sekitar pasar yang memang padat, dengan mayoritas warga Tionghoa. Letaknya pun tak jauh dari Pasar Sentral dan Pasar Butung yang jauh lebih besar dan ramai.

Asal-Usul Pasar

Dalam makan siang keluarga, aku sempat bertanya kepada ayah tentang asal-usul pasara’ cinayya. Beliau tidak tahu pasti kapan pasar ini mulai “permanen” menjadi tempat transaksi rutin.

Menurutnya, mungkin awalnya hanya para pagandeng dan pedagang gerobak yang berkeliling di kawasan pecinan, lalu ada yang memilih mangkal di Jalan Bacan. Lama-kelamaan mereka terbiasa berkumpul hingga akhirnya terbentuk pasar harian.

Ayah menambahkan, salah satu sebab pasar itu bertahan adalah karena Jalan Bacan relatif pendek dan sepi dari lalu lintas. Karena itu, warga tidak keberatan bila jalan digunakan untuk lapak jualan.

Justru mereka merasa diuntungkan, sebab kebutuhan sehari-hari bisa diperoleh tanpa harus jauh-jauh ke Pasar Sentral atau Pasar Butung yang riuh, penuh sesak, dan melelahkan.

Demikianlah penjelasan ayahku yang sederhana. Usai membantu ibu menjaga kedai dan menyantap makan siang, aku kembali pada kebiasaan masa kecilku: bermain bersama kawan-kawan sebaya, menikmati warna-warni kehidupan kampung.

Kampung di Atas Bukit, Agustus 2014–2025