PELAKITA.ID – Di Sulawesi Selatan, nama Prof Anwar Makkatutu memiliki tempat tersendiri, harum mewangi dalam sejarah pendidikan dan kesehatan.
Tak hanya dikenang melalui nama sebuah rumah sakit daerah di Bantaeng, keluarga ini juga menorehkan prestasi akademik yang jarang terjadi: tiga bersaudara sekaligus menyandang gelar Guru Besar di Universitas Hasanuddin (Unhas), universitas kebanggaan masyarakat Indonesia Timur.
Mereka adalah Prof. Dr. dr. Anis Irawan Anwar, Sp.KK(K), Prof. Dr. Anas Iswanto Anwar, M.Si, dan Prof. Dr. Ayub Irmadani Anwar, drg., M.Med.Ed., FISDPH.
Hari Selasa, jika tiada aral melintang, Anas Iswanto Anwar Makkatutu akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis di Lantai 2 Rektorat Unhas, 23 September 2025.
Pembaca sekalian, dagi masyarakat akademik Unhas, nama ketiga profesor ini bukan asing. Namun ketika disatukan dalam bingkai keluarga, kisah mereka menjadi inspirasi tersendiri: sebuah bukti bahwa pendidikan, disiplin, dan pengabdian dapat diwariskan lintas generasi.
Jejak Prof. Anis Irawan Anwar: Memahami Kulit, Menyentuh Kemanusiaan
Sebagai anak sulung dari keluarga, Prof. Anis Irawan Anwar menapaki jalannya di Fakultas Kedokteran Unhas. Ia memilih spesialisasi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, bidang yang tak hanya berurusan dengan estetika, tetapi juga dengan stigma sosial yang sering dialami pasien.
Di ruang praktik dan ruang kuliah, Prof. Anis dikenal sebagai pengajar yang telaten, berusaha membangun empati pada calon dokter agar melihat pasien secara utuh, bukan sekadar dari sisi klinis.
Publikasi ilmiahnya banyak menyoroti penyakit kulit tropis dan isu kesehatan masyarakat yang relevan dengan kondisi Indonesia.
Di luar kampus, ia kerap terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, memberikan penyuluhan tentang kesehatan kulit, penyakit menular seksual, dan pentingnya edukasi publik.
Sosoknya menunjukkan bahwa ilmu kedokteran bisa menjadi jembatan antara dunia akademik dan realitas sosial, sebuah pendekatan yang sejalan dengan misi universitas: ilmu untuk kemanusiaan.
Penulis menyaksikan ketokohannya dalam memimpin keluarga alumni SMA Negeri I Makassar angkatan 81 yang beranggotakan tokoh-tokoh Sulawesi Selatan mulai dari Prof Abdul Kadir, Wali Kota Makassar dua periode, hingga Fatimah Kalla.
Angkatan ini disebut paling aktif, paling kolosal dalam berkegiatan dan solidaritasnya jadi model bagi angkatan lain.
Prof. Anas Iswanto Anwar: Ekonomi dan Dinamika Global
Berbeda jalur dengan sang kakak, Prof. Anas Iswanto Anwar mengabdikan dirinya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas. Fokus kajiannya ada pada ekonomi moneter dan internasional, bidang yang menuntut ketelitian analitis sekaligus pemahaman konteks global.
Karya-karyanya membahas kebijakan moneter, integrasi pasar, serta tantangan perekonomian negara berkembang di tengah arus globalisasi.
Sebagai akademisi, ia turut membimbing mahasiswa, mendorong lahirnya generasi ekonom muda yang kritis terhadap dinamika pasar dan kebijakan pemerintah.
Dia disebut aktif membangun jejaring alumni, mengakselerasi berfungsinya organisasi alumni Ilmu Ekonomi, bahkan didapuk sebagai alumni Smansa Makassar ’bagai api nan tak kunjung padam’ karena keaktifannya membesarkan organisasi alumni IKA Smansa Makassar bersama kolega seangkatannya di angkatan 1982, Agus Arifin Nu’mang. Kedekatan mereka laksana pinang dibelah dua, bukan tiga apalagi empat.
Dalam berbagai forum akademik, Prof. Anas kerap menekankan pentingnya menghubungkan teori ekonomi dengan realitas sosial dan tantangan perkembangan informasi teknologi global.
Menurutnya, ilmu ekonomi bukan sekadar angka-angka, tetapi juga alat untuk memahami kesejahteraan dan keadilan. Pandangan itu membuatnya dekat dengan mahasiswa sekaligus dihormati sebagai pakar di kalangan profesional.
Untuk itu, dia aktif merintis dan membesarkan organisasi-organisasi keuangan mulai dari koperasi hingga Bank Perkreditan Rakyat, dari Tanah Sulawesi hingga Papua.
Prof. Ayub Irmadani Anwar: Senyum Sehat dari Ilmu Kedokteran Gigi
Nama terakhir, Prof. Ayub Irmadani Anwar, memperkuat kiprah keluarga Anwar di dunia kesehatan. Ia adalah guru besar di Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, dengan fokus pada bidang promosi kesehatan gigi dan pencegahan penyakit mulut.
Ayub menekankan pentingnya pendidikan kesehatan gigi sejak dini, karena kesehatan mulut seringkali dipandang sepele padahal berdampak besar terhadap kualitas hidup.
Ia aktif meneliti pola perilaku masyarakat terkait kesehatan gigi, serta merancang program promotif yang menyentuh langsung komunitas, mulai dari sekolah dasar hingga desa-desa terpencil.
Dalam kapasitasnya sebagai pendidik, Prof. Ayub mendorong mahasiswa kedokteran gigi untuk tidak hanya menguasai keterampilan klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial.
Dengan begitu, lulusan FKG Unhas dapat menjadi dokter gigi yang lengkap: ahli dalam tindakan medis, sekaligus komunikatif dalam mengedukasi masyarakat.
Jika Anis, Anas alumni Smansa Makassar, maka Ayub juga alumni Smansa. Jika penulis tak keliru alumni Smansa angkatan 1986.
Makkatutu: Warisan Nama dan Dedikasi
Nama Makkatutu bukanlah nama asing bagi warga Bantaeng. Di sana berdiri RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu, sebuah rumah sakit daerah yang mengambil nama dari figur penting keluarga ini.
Bagi masyarakat lokal, nama itu melambangkan dedikasi keluarga Anwar dalam bidang kesehatan dan pelayanan publik.
Dengan lahirnya tiga guru besar dari keluarga yang sama, warisan itu kian bermakna. Tak hanya berhenti pada level pelayanan medis, keluarga Makkatutu kini juga menorehkan jejak intelektual yang mendunia. Kontribusi mereka menghubungkan Bantaeng, Makassar, hingga jejaring akademik internasional.
Tiga Bersaudara, Tiga Jalan Ilmu
Kisah tiga bersaudara ini mengajarkan kita tentang keragaman jalur akademik yang tetap berpangkal pada nilai yang sama: pendidikan sebagai tangga perubahan. Anis memilih kulit dan kelamin, Anas mendalami ekonomi moneter, Ayub fokus pada kesehatan gigi.
Perbedaan bidang itu justru memperlihatkan keluasan spektrum keilmuan yang dapat tumbuh dari satu keluarga. Sebuah rumah yang menanamkan disiplin, nilai kerja keras, dan komitmen pada masyarakat dapat melahirkan cendekiawan di berbagai lini.
Lebih dari itu, ketiganya menjadi teladan bahwa gelar akademik tertinggi bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan titik untuk memberi manfaat lebih besar.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Dalam dunia akademik, kisah tiga guru besar bersaudara ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi masih menjadi jalan mulia untuk mengabdi.
Di tengah era serba cepat dan pragmatis, capaian keluarga Anwar Makkatutu menunjukkan bahwa dedikasi jangka panjang dalam riset, pengajaran, dan pengabdian tetap relevan.
Bagi mahasiswa Unhas, nama mereka bukan sekadar tercantum di papan pengumuman pengajar, melainkan juga terpatri sebagai contoh nyata bahwa ilmu dan keluarga bisa berjalan beriringan menuju puncak.
Keluarga Anwar Makkatutu telah mewariskan lebih dari sekadar nama besar. Mereka membuktikan bahwa pendidikan dapat mengangkat martabat keluarga sekaligus memberi dampak luas pada masyarakat. Dengan tiga gelar guru besar yang kini disandang Anis, Anas, dan Ayub, keluarga ini bukan hanya kebanggaan Bantaeng dan Unhas, tetapi juga inspirasi nasional.
Dari ruang kuliah, laboratorium, hingga desa-desa tempat mereka mengabdi, pesan yang mereka bawa sama: ilmu untuk kemanusiaan, dan keluarga sebagai fondasi utama untuk menumbuhkannya.
___
Penulis Denun, Founder Pelakita.ID,









