Di pojok salah satu ruang antara Jalan Kalimantan dan Seram, seorang nenek bernama Nenek Raba setiap malam berjualan ubi goreng, pisang goreng, dan sarabba, dengan pelanggan berjubel.
PELAKITA.ID – Hujan menyelimuti kawasan Kampung Pecinan ketika pada suatu siang aku berbincang dengan seorang pramuniaga di sebuah toko di bilangan Jalan Kalimantan, Kota Makassar.
Toko itu bernama Toko Kalimantan. Pada awal tahun tujuh puluhan, toko ini khusus berjualan penganan ringan dan berbagai jenis permen (gula-gula), serta melayani pembeli “partei”, atau lazim disebut toko grosir, yang hanya melayani pembeli para penjual eceran maupun pemakai dalam jumlah besar.
Aku sengaja duduk berlama-lama di toko tersebut—tentu dengan izin pemiliknya—sekadar menatap Pasar Butung dari seberang jalan di celah-celah hujan, mengais-ingatku ke beberapa puluh tahun lampau di tempat ini.
Sepanjang Jalan Kalimantan, di emperan Pasar Butung, adalah tempatku bermain layangan di sore hari.
Selain itu, aku juga bermain di anjungan salah satu blok dari lima blok yang ada di Pasar Butung, dan sesekali di bubungan lantai tiga rumah salah seorang sahabatku yang beretnis Tionghoa.

Ingatanku takkan lekang dari kawasan ini, khususnya Pasar Butung, kataku pada seorang pemuda yang setia menjaga tokonya di tempatku duduk. Di sinilah masa kanakku hingga remaja, yang kukecap dengan beribu dinamika kehidupan.
Bila malam tiba, di pojok itu—sementara aku menunjuk sebuah sudut di persimpangan Jalan Seram dan Jalan Kalimantan—itulah tempat favoritku bermain bersama kawan-kawanku.
Apalagi ketika Walikota Daeng Patompo melakukan perbaikan jalan “Ring Way”, atau jalan lingkar dari Jalan Veteran Selatan yang berdekatan dengan Pasar Pabbaeng-baeng hingga ke ujung paling utara di bilangan Jalan Bandang, kemudian berkelok ke Jalan Seram dari timur ke barat dengan dua jalur dan penerangan yang terang benderang.
Setiap malam minggu, kami berkompoi atau bergerombol dari berbagai kampung, bersepeda mengitari jalan-jalan baru tersebut dengan suasana riang gembira.
Hal ini membuatku bertanya-tanya: mengapa dulu, di masa kanakku, kami kerap berkumpul dari berbagai kampung tanpa pernah terdengar keributan, apalagi tawuran antar-kampung seperti sekarang, yang begitu mudah tersulut oleh alasan sepele.
Kompoi sepeda pada setiap malam minggu saat itu diikuti ratusan orang dari berbagai tempat dan kampung.
Bila sudah dimulai dari sepanjang jalan, barisan sepeda saling terhubung hingga beratus meter. Semangat solidaritas, perkawanan, dan persahabatan muncul dari situ.
Betapa indahnya kehidupan bermain kala itu. Coba bandingkan dengan sekarang, ketika perselisihan antar kelompok bisa meledak hanya karena hal yang ringan.
Jalan-jalan yang bermandikan cahaya itu ramai dengan anak-anak sebayaku bermain di emperan jalan dengan berbagai permainan. Kendaraan bermotor kala itu masih bisa dihitung jari melintasinya, dan jalan yang cukup luas memungkinkan ruang-ruang bermain yang tersebar di mana-mana.
Kesederhanaan inilah yang mengantar anak-anak bertumbuh dengan kesibukan dan keasyikan bermain, sehingga pikiran terbuka untuk melakukan hal-hal positif.
Di pojok salah satu ruang antara Jalan Kalimantan dan Seram, seorang nenek bernama Nenek Raba setiap malam berjualan ubi goreng, pisang goreng, dan sarabba, dengan pelanggan berjubel.

Aku kerap membantunya mencuci piring bila sedang tidak bermain. Imbalannya tentu aku bisa menikmati ubi dan pisang goreng beserta sarabba panasnya. Bila keuntungan Nenek Raba di atas rata-rata, aku juga mendapat upah berupa uang jajan.
Begitulah kataku pada anak muda penjaga toko, yang entah serius mendengar ceritaku atau tidak. Kawasan ini terlalu indah bagiku, ujarku lagi.
Hujan masih tak hendak berlalu ketika aku meninggalkan Toko Kalimantan, bergegas menyusuri los-los yang sumpek beraroma pengap di Pasar Butung.
Tak ada lagi setitik pun di dalamnya yang bisa mengundang nostalgia bermain riang di pasar tua dan bersejarah ini.
Setelah menyusuri jalan-jalan sempit dan pengab di pasar, akhirnya aku tiba di pintu bagian selatan, persis berhadapan dengan Masjid Mubarak di Jalan Butung.
Menumpang payung dari seorang pedagang, aku menyeberangi jalan menuju masjid, memenuhi panggilan azan yang mendayu-dayu, terhalau derasnya hujan. Kubasuh tangan, kaki, dan wajah—“bersuci” hendak menemui-Nya. Serempak takbir bergema, membesarkan nama-Nya.
___
Penulis Abdul Rasyid Idris
Makassar, September 2013–2025









