Lahan Sawah di Galesong Raya Menyusut Drastis, Masa Depan Pangan Terancam
PELAKITA.ID – Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia menghadapi kenyataan pahit: lahan sawah terus menyusut. Data dari berbagai sumber, mulai dari MapBiomas hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Badan Pusat Statistik (BPS), memang menunjukkan angka yang berbeda, tetapi polanya sama—penurunan signifikan.
Sawah dalam Negara
Pada tahun 2000, luas sawah nasional diperkirakan sekitar 9,2 juta hektare. Namun, pada 2018 angka itu merosot menjadi hanya 7,1 juta hektare. Artinya, dalam kurun kurang dari dua dekade, Indonesia kehilangan sekitar 2 juta hektare sawah atau hampir seperempat dari total awal.
Perbedaan definisi—antara “sawah baku” yang diverifikasi administratif dengan citra satelit MapBiomas—seringkali menghasilkan angka yang tidak sama. Ada yang mencatat sawah pada 2022 justru naik hingga 9,9 juta hektare, tetapi angka administratif BPN/BPS tetap konsisten menunjukkan tren penurunan di kisaran 7,1–7,8 juta hektare.
Fakta ini menegaskan bahwa apa pun definisinya, tekanan terhadap lahan pertanian nyata adanya dan semakin sulit diabaikan.

Sawah Kampung Kami
Website Pemda Takalar menyebutkan Kabupaten Takalar terletak antara 5°031′ sampai 5°0381′ Lintang Selatan dan antara 199°0221′ sampai 199°0391′ Bujur Timur dengan luas wilayah 566,51 Km2.
Terdiri dari kawasan hutan seluas 8.254. Ha (14,57%), sawah seluas 16.436, 22 Ha (29,01%), perkebunan tebu PT. XXXII seluas 5.333,45 Ha (9,41%), tambak seluas 4.233,20 Ha (7,47%), tegalan seluas 3.639,90 Ha (6,47%), kebun campuran seluas 8.932,11 Ha (15,77%), pekarangan seluas 1,929,90 Ha (3,41%) dan lain-lain seluas 7.892,22 Ha (13,93%).
Pembaca sekalian, jika skala nasional menunjukkan gambaran besar, Galesong Raya di Kabupaten Takalar adalah contoh nyata bagaimana penurunan sawah terjadi di tingkat lokal.
Kawasan yang meliputi Galesong Selatan, Galesong, dan Galesong Utara, dulunya dikenal dengan hamparan persawahan di pesisir.
Data BPS Takalar tahun 2010 mencatat, Galesong Selatan memiliki sekitar 2.528 hektare sawah, Galesong 2.803 hektare, dan Galesong Utara 2.316 hektare. Namun, lima tahun kemudian, data Dinas Pertanian Takalar menunjukkan angka lebih rendah: hanya 1.811 hektare di Galesong Selatan, 2.896 hektare di Galesong, dan 1.425 hektare di Galesong Utara. (Sumber Internet)
Perbedaan ini memperlihatkan kenyataan pahit: tidak semua sawah yang tersedia benar-benar ditanami setiap tahun, dan sebagian sudah dikonversi menjadi permukiman, utilitas, atau infrastruktur lain.
Meski masih perlu riset lanjutan, masyarakat setempat mencatat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, hampir 50 persen sawah di kawasan ini hilang.
Bagi banyak keluarga, menjual sawah dianggap lebih realistis. Harga tanah yang terus melonjak membuat sawah lebih bernilai sebagai aset jual, sementara hasil bertani stagnan dan sering kali tidak menutupi biaya produksi. Sawah yang dulu menjadi ruang hidup kini berubah menjadi rumah, ruko, dan jalan raya.
Ancaman bagi Masa Depan Pangan
Fenomena penyusutan sawah di Galesong Raya bukan sekadar kehilangan lahan pertanian. Ia adalah kehilangan identitas sosial dan ekologis. Sawah berfungsi sebagai ruang produksi pangan, resapan air, serta bagian dari lanskap budaya masyarakat pesisir Takalar.
Masalahnya diperburuk oleh regenerasi petani yang terhenti. Mayoritas petani kini berusia di atas 50 tahun, sementara generasi muda lebih memilih bekerja di sektor jasa atau merantau ke kota. Pertanian kian ditinggalkan, sawah kian terpinggirkan.
Instrumen hukum seperti kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan memang ada, tetapi implementasinya lemah.
Konversi sawah berjalan lebih cepat daripada upaya perlindungan, dan pembangunan metropolitan Mamminasata terus mendorong lahan produktif ke titik nadir.

Menjaga Sawah, Menjaga Hidup
Pertanyaan besar pun muncul: apakah kita rela menukar sawah yang memberi makan generasi mendatang hanya demi keuntungan sesaat dari harga tanah?
Ketika harga beras melonjak akibat produksi yang menurun, barulah kesadaran muncul betapa pentingnya sawah sebagai fondasi ketahanan pangan.
Sawah negara adalah statistik yang sering diperdebatkan. Tapi sawah kampung kami di Galesong Raya adalah kenyataan sehari-hari: semakin sempit, semakin langka.
Jika tidak ada upaya serius menjaga yang tersisa, masa depan pangan lokal dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir akan berada di ujung tanduk.
___
Penulis Daeng Nuntung
Tamarunang, 19 September 2025









