PELAKITA.ID – Belajar bisa dilakukan di mana saja. Itulah yang tampak dari keseharian Muh Abil Faiz, murid kelas 1B SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
Setiap selesai sekolah, Abil tidak langsung pulang ke rumah. Ia lebih dulu singgah ke kantin sekolah, tempat ibunya, Ariati, berjualan.
Lahir di Makassar pada 26 Juni 2019, Abil sudah terbiasa menjadikan kantin sekolah sebagai ruang belajarnya. Masih dengan seragam putih-merahnya, ia kerap membuka buku dan memperlihatkan pelajaran yang baru dipelajari. Bila ada pekerjaan rumah (PR), Abil langsung mengerjakannya dengan bimbingan ibunya.
Sambil melayani pembeli, Ariati sabar menuntun anaknya. Ia pun membuat aturan sederhana untuk menanamkan disiplin.
“Nanti kalau PR-nya sudah rampung, baru boleh pegang HP,” kata Ariati.
Aturan itu diberlakukan agar Abil tidak menunda mengerjakan PR dan tidak terlalu leluasa bermain gawai.
Abil adalah anak kedua. Kakaknya, Nur Aliyah Islamiah, alumni SD Negeri Borong, kini duduk di kelas 1 SMA.
Ariati masih ingat, putri sulungnya itu pernah mendapat bantuan biaya pendidikan dari H. Adam Muhammad, ST, M.Si, anggota DPRD Sulsel periode 2019–2024. Bantuan itu sangat membantu, meski kini sang legislator tidak lagi terpilih pada pemilu 2024.

“Semoga ke depan Abil juga bisa dapat bantuan pendidikan atau beasiswa. Itu akan sangat membantu,” harap Ariati.
Sang ayah, Sampara Daeng Tinri, bekerja sebagai satpam di Mal Panakkukang (MP). Sebelumnya, ia bertugas di kompleks perumahan. Keluarga ini tinggal di Borong, dekat Pasar Mandiri.
Ariati mulai berjualan di SD Negeri Borong pada 2022, melanjutkan usaha orang tuanya yang dulu berjualan bakso di sekolah yang beralamat di Jalan Borong Raya Nomor 8 itu.
Sehari-hari, ia membuka kantin sejak pukul 07.00 pagi hingga sekitar pukul 16.00 sore.
“Awalnya Bapak yang jualan di sini. Setelah beliau wafat tahun 2021, adik saya sempat menggantikan. Tapi akhirnya saya yang melanjutkan,” cerita Ariati, yang kini berusia 33 tahun.
Sejak sebelum masuk TK, Abil sudah akrab dengan kantin sekolah. Ia sering menemani ibunya berjualan, bahkan kini, saat sudah bersekolah, kebiasaan itu masih berlanjut.
“Abil suka main bola. Di belakang rumah ada tanah kosong, biasanya dia main di sana dengan teman-temannya,” tambah Ariati.
Saat ditemui Kamis, 18 September 2025, Abil sempat memperlihatkan buku catatan Bahasa Indonesia dan Matematikanya. Ibunya berkomentar, tulisan Abil masih belum rapi, kadang tidak tepat mengikuti garis buku. Namun, di halaman buku itu jelas terlihat tanda tangan guru dengan tinta merah dan nilai 100.
Senyum bangga pun tersirat di wajah Ariati.









