Di sinilah saya belajar: seringkali bukan harga yang jadi soal, tapi cerita yang belum tersampaikan.
PELAKITA.ID – Pagi itu saya membawa beberapa kilo ikan kering khas Pulau Taka Bonerate. Dengan penuh semangat, saya berjalan memasuki kompleks Perumahan Hati Damai.
Dari jauh saya berseru, “Ikan, ikan, ikan kering khas Taka Bonerate! Masih baru. Mari…”
Seorang ibu keluar dari teras rumahnya. Saya tawarkan ikan kering seharga Rp13 ribu per kilo. Ia tersenyum, tapi kemudian berkata, “Wah, agak mahal ya.”
Sekilas, komentar itu mungkin membuat hati ciut. Namun justru di situlah letak pelajaran berharga dari langkah pertama menjual produk: harga bukan sekadar angka, melainkan cermin bagaimana orang memandang nilai dari apa yang kita tawarkan.
Penjualan Pertama = Ujian Pasar
Setiap transaksi pertama adalah ujian nyata. Saat ada yang membeli, berarti ada yang percaya produk kita punya nilai. Saat ada yang mengomentari harga, itu adalah bentuk umpan balik pasar—bukan penolakan, tapi data berharga untuk kita renungkan.
Harga, Persepsi, dan Cerita
Mengapa ibu di kompleks itu merasa Rp13 ribu per kilo “mahal”? Mungkin karena ia membandingkan dengan ikan kering di pasar yang dijual Rp10 ribu. Atau bisa jadi ia belum tahu bahwa ikan yang saya bawa benar-benar segar, dijemur dengan cara tradisional, dan khas dari pulau yang jauh.
Di sinilah saya belajar: seringkali bukan harga yang jadi soal, tapi cerita yang belum tersampaikan.
Branding, cara menjelaskan manfaat, hingga kemasan—semua berperan dalam bagaimana orang menilai wajar atau tidaknya harga sebuah produk.
Bagaimana Menyikapinya?
Daripada terburu-buru menurunkan harga, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
-
Dengarkan dan tanyakan balik: “Menurut Ibu, biasanya beli ikan kering di harga berapa?” Dari situ kita tahu posisi kita di pasar.
-
Eksperimen kecil: Bisa dengan paket lebih kecil, bonus tambahan, atau variasi kualitas untuk melihat respons.
-
Tonjolkan nilai: Ceritakan bahwa ikan ini khas Taka Bonerate, dijemur alami, dan rasanya lebih gurih.
-
Segmentasi pelanggan: Ada yang mengejar murah, ada yang mencari kualitas. Keduanya bisa kita layani dengan strategi berbeda.
Mindset yang Perlu Dijaga
Komentar tentang harga tidak berarti produk kita salah.
Itu hanyalah data awal. Semua pebisnis besar pun melalui fase ini—mengatur ulang strategi, menyesuaikan harga, memperbaiki cara bercerita, hingga menemukan formula yang pas.
Kesimpulan
Dari pengalaman sederhana menjual ikan kering Rp13 ribu per kilo, saya belajar satu hal penting: harga adalah percakapan, bukan tembok.
Ia membuka ruang untuk mendengar, menjelaskan, dan memahami bagaimana orang lain menilai produk kita.
Jadi, lain kali ada yang berkomentar soal harga, jangan buru-buru kecewa. Anggap saja itu sebuah kompas—yang bisa membantu kita menemukan arah bisnis yang lebih tepat.
Penulis Denun









