Geopolymer, Material Ramah Lingkungan untuk Breakwater hingga Rumah Ikan

  • Whatsapp
Penulis bersama tim BRIN, PT Huady Nickel Alloy dan Perseroda Bantaeng, Perseroda Provinsi, dan Bupati Bantang Muhammad Fathul Fauzy Nurdin dalam rangka MoU pemanfaatan peluang penggunaan slag nikel (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Ada perkembangan menarik. Meski semen konvensional telah lama menjadi bahan utama dalam konstruksi modern, ternyata di balik keunggulannya, industri semen menyumbang emisi karbon yang luar biasa besar.

Itu menjadikannya salah satu penyumbang utama gas rumah kaca global. Situasi ini mendorong berbagai pihak, termasuk akademisi, peneliti, dan praktisi konstruksi, untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu inovasi yang kini semakin dilirik adalah beton geopolimer. Teknologi ini menawarkan orientasi dan aplikasi yang potensial untuk menggantikan semen konvensional maupun semen hijau yang masih menyisakan jejak emisi signifikan.

Menurut penelusuran penulis, sejumlah penelitian di berbagai negara telah mencoba memanfaatkan limbah industri dan pertanian sebagai bahan substitusi semen. Beberapa temuan penting di antaranya:

Fly Ash, ini adalah limbah hasil pembakaran batu bara ini dapat digunakan sebagai pengganti hingga 15 persen dari berat semen. Penggunaannya terbukti meningkatkan kuat tekan beton sekaligus menekan emisi CO₂.

Lalu yang kedua adalah Semen Slag. Produk samping dari industri baja dan besi ini mampu menggantikan 70–80 persen semen. Beton dengan slag memiliki durabilitas tinggi serta permeabilitas rendah, menjadikannya lebih tahan lama.

Kemudian ada Silica Fume. Abu halus dari produksi silikon atau ferro-silicon dapat menggantikan 7–12 persen semen. Hasilnya, beton lebih awet karena permeabilitasnya menurun.

Masih ada Abu Daun Jagung. Penelitian juga menunjukkan potensi limbah pertanian ini sebagai pengganti semen dalam pembuatan mortar, sekaligus menambah nilai guna bahan organik yang biasanya terbuang.

Beton Geopolimer

Beton ini menggunakan fly ash sebagai bahan utama, beton geopolimer mampu menekan emisi karbon secara signifikan. Lebih dari itu, sifat mekaniknya tidak kalah dari beton berbasis semen konvensional.

Temuan-temuan tersebut memberi gambaran bahwa masa depan konstruksi tidak lagi harus bergantung pada semen konvensional. Inovasi material berbasis limbah industri maupun pertanian, ditambah perkembangan beton geopolimer, membuka jalan menuju konstruksi yang lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Meski demikian, riset lanjutan masih diperlukan untuk menemukan komposisi optimum dan memastikan aplikasi praktis dari setiap alternatif pengganti semen. Tantangan implementasi di lapangan meliputi ketersediaan bahan, biaya produksi, serta penerimaan industri konstruksi terhadap teknologi baru.

Masa depan industri konstruksi ada pada keberanian berinovasi. Beton geopolimer dan berbagai alternatif pengganti semen lainnya bukan hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga kontribusi nyata terhadap upaya global menekan emisi karbon. Jika dikembangkan dengan serius, teknologi ini dapat menjadi tonggak penting dalam mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan, kuat, dan berkelanjutan.

Apa yang dipaparkan di atas menjadi inspirasi untuk memanfaatkan seperti slag untuk menggantikan penggunaan semen konvensional dan semen hijau yang emisi karbonnya luar biasa digantikan dengan semen geopolymer dalam konstruksi beton.

Apa yang dipaparkan di atas itu mencuat saat penulis mendampingi tim BRIN, Huady Alloy dan Perseroda Bantaeng, Perseroda Provinsi audiens bertemu bapak Bupati Bantang Muhammad Fathul Fauzy Nurdin dalam rangka MoU pemanfaatan peluang penggunaan slag nikel.

Slag nikel sebagai bahan composite block dalam pemanfaatannya untuk konstruksi breakwater termasuk untuk substrat tempelan karang atau rumah ikan.

Penulis: Arif Kusdiat (BRAVE Bantaeng)