Tenas IV Smansa Makassar dan Kebersamaan 91 yang Bikin Cemburu

  • Whatsapp
Sungguh dahsyat (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Pagi ini saya memulai pagi di Sorowako dengan mata perih, betis nyeri, dan tungkai melemah, Semua karena jogging kemarin di tengah rinai rintik yang mengurung pagi.

Suasana bertambah sendu, bikin sesak dan bikin cemburu setelah membaca postingan Tomi Lebang, alumni Smansa 91 terkait arena dan para aktor Tenas IV dari Smansa 91.

Tole, begitu sapaan kami adalah alumi Smansa 91. Saya tidak melihat sosok ini di riuh rendah Tenas IV, sama seperti diriku yang nelangsa di sudut provinsi Sulsel.

Tole menulis:

Entah sebesar apa semangat yang menggerakkan ribuan alumni SMA Negeri 1 Makassar di Sulawesi Selatan datang meluruk kota Yogyakarta, nun jauh di Pulau Jawa, pekan kemarin. Bayangkan: sedikitnya 4.000 orang alumni Smansa Makassar dari lintas generasi berkumpul di Yogyakarta dalam acara kangen-kenganan Temu Nasional IV Smansa Makassar tahun 2025 pada 4-7 September. Pada puncak acara di pelataran Candi Prambanan malam hari, Yogyakarta menjelma jadi Makassar kedua

Teman-teman saya seangkatan, Smansa 91, jauh-jauh hari sudah bersiap untuk acara ini: kaos angkatan dicetak, penginapan ditentukan, tiket perjalanan disiapkan. Seratusan alumni Smansa 91 naik kapal laut dari Makassar menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus hingga Yogyakarta.

Puluhan lainnya datang dari Jakarta dan kota-kota lain dengan kereta api, dari Singapura sampai Inggris.

Khusus Smansa 91, mereka memilih hotel sendiri, Hotel Litto (Little Tokyo Jogja)—sebuah resor bernuansa Jepang yang berdiri di atas tebing perbukitan Dlingo, Bantul. Dari ketinggian hotel ini, Yogyakarta terhampar begitu indah terutama di saat senja dan malam hari.

Dan Litto bukan sekadar hotel. Ia adalah rumah kedua. Kebetulan, pemiliknya adalah Irma Devita, sahabat lama sekaligus alumni Smansa 91. Ini hotel dengan nuansa yang unik. Nuansa Jepang. Kamar-kamarnya bergaya Japanese Zen: simpel, bersih, dengan balkon pribadi untuk menikmati panorama. Restorannya menyajikan menu Jepang, Eropa dan Indonesia. Lengkap sudah: hotel ala Jepang, hangatnya Jawa, dan kisah masa lalu semasa bersekolah di kota Makassar.

Begitulah. Ribuan alumni Smansa Makassar meluruk kota Yogyakarta, akhir pekan kemarin. Mereka menggelar kirab sepanjang Malioboro. Memenuhi pelataran Prambanan dan menyaksikan konser musik bersama di malam hari. Bermain, berceloteh, berbagi cerita, mungkin juga ada rencana untuk berbisnis bersama.

Kawan-kawan saya, Smansa 91 kembali ke Litto selepas kirab dan menggelar acara sendiri. Makan-makan dan bernyanyi. Naik jip menyusur tebing dan sungai. Berpose ala Jepang dan bersantai. Malamnya ditutup dengan pesta kembang api.

Pesta, temu kangen, dan perjalanan jauh ini sudah berakhir. Foto dan video tentang Yogyakarta bertebaran di grup-grup WhatsApp dan media sosial. Ada yang muncul di berita koran dan televisi. Sebagian saya tampilkan di sini.
Reuni sudah berakhir. Kenangannya yang masih tertinggal.

Sumber: FB Tomi Lebang