Oleh Muhd Nur Sangadji, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
PELAKITA.ID – Bisakah konsep ini mengubah pandangan pragmatisme kita dari sekadar berperan simbolik prestisius ke idealisme manfaat fungsional prestatif?.
Ada yang beri komentar. Dahulu, kampus merdeka . Karena merdekanya, maka orang bebas bikin apa saja. Akibatnya, mantan Menterinya dikurung di tahanan. Jadi, tidak merdeka lagi.
Sekarang, berubah jadi kampus berdampak. Kawan-kawan bertanya. Konsep apa pula ini ? Orang juga bertanya apa indikatornya? Maka, sibuklah kita merumuskan standar yang mau dijadikan ukuran.
Biasalah begitu sejak dahulu, kalau kaum cerdik pintar membuat konsep. Tapi, terkadang rumitnya rumusan indikatornya hingga untuk mencapainya sulit sekali. Indikatornya indah di awan-awan. Tidak menyentuh bumi.
Begitulah kalimat singkat yang pernah saya dengar dari profesor Wada Nuboyaki. Guruku asal Jepang yang mengajari dan mendampingi kami selama kurang lebih tiga tahunan.
Itu, untuk program pemberdayaan masyarakat. Kerja sama antara Bappenas dan Jica (Japanis Internasional Corporation Agensi). Ini, terjadi sekitar tahun 2003-2005.
***
Wada San memberi analogi ketika bicara tentang kemiskinan sebagai contoh. Beliau bilang begini. Semakin banyak kriteria dan indikator dibuat orang untuk mengukur kemiskinan. Membikin orang menjadi makin tidak miskin.
Wada memberi pandangan. Dahulu kala, Penjajah datang ke Papua. Kemudian bilang, “kamu miskin”. Orang Papua bilang, ‘kami tidak miskin”. Kami hanya tidak punya uang “cash”. Dan, tidak punya uang cash dan miskin, adalah dua hal yang berbeda.
Kini, setelah era kampus merdeka selesai. Kita sibuk lagi bikin kampus berdampak.
Bagi penulis, kampus berdampak itu sederhana sekali. Untuk, agar kita bisa mengukur. Juga, agar ukuran kita sama dengan yang dirasakan oleh masyarakat.
Maka, selain melakukan hal rutin yang menjadi tupoksi perguruan tinggi. Mesti ada hal lain yang menunjukkan bahwa kehadiran kampus itu terasa di kalangan stakeholders. Stakeholders itu artinya semua. Masyarakat, Pemerintah dan dunia usaha. Tiga komponen yang esensial saat kita bicara tentang partisipasi.
Secara sederhana itu artinya, institusi kampus dan atau individu warga kampus berperan aktif di berbagai kehidupan masyarakat.
Kehadiran kita dan lembaga kita dirasakan. Terlihat secara langsung maupun terkabarkan melalui media. Baik cetak maupun elektronik. Baik off line maupun on line. Pokoknya all out, semua untuk semua.
Semua dalam konsep kebangsaan itu adalah ipoleksosbudhankamnas (Idiologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional).
***
Tapi, mungkinkah peran kampus seluas itu ? Jawabannya, mungkin. Karena, kampus adalah satu-satunya lembaga di bumi ini yang mengumpulkan para cendekia dari hampir semua bidang kehidupan.
Sudah itu, mereka juga dibekali dengan instrumen metodologi dan peralatan laboratorium. Terdapat juga sejumlah pusat studi yang mengkaji berbagai bidang strategik.
Sekarang, tinggal semua harus berbenah. Tindakan-tindakan yang meskipun kecil tapi berefek. Indikator kinerja utama (IKU) adalah instrumen yang sudah bagus. Tinggal implementasinya yang perlu diberi bobot.
Misalnya, tidak lagi menjadikan publikasi internasional sebagai panglima. Mengapa kita tidak hargai publikasi nasional kita.
Ketika riset kita berposisi kualitas satu atau Q1, kita pasti bangga dan membanggakannya kepada semua kalangan.
Tidak perduli manfaatnya apa, pada ilmu pengetahuan dan pada kemaslahatan kehidupan. Juga tidak perduli, berapa banyak orang yang membaca publikasi tersebut.
Serta, berapa biaya untuk agar bisa terbit. Coba baca banyak artikel terkait. Misalnya, artikel berjudul ; “Profesor, No Body Read You”
Artikel tersebut mengungkapkan bahwa tidak cukup 10 orang yang membaca tulisan terpublikasi ilmiah tersebut.
Sementara itu, kita terus saja berlomba untuk dapatkan posisi prestisius transaksional tersebut. Dunia intelektual kita tidak berdaya menghadapi serbuan “academic capitalism” ini.
Maka, kita berharap, konsepsi kampus berdampak ini memberikan pengaruh pada kesadaran kolektif kaum intelektual untuk mengukur diri dan mengukur peran kampusnya. Agar, lebih bermanfaat fungsional dari pada sekedar simbolik.
Semoga…!









