- Prabowo pernah menyatakan bahwa kita harus berani memberantas korupsi dengan perbaikan sistem, penegakan hukum tegas, dan digitalisasi.
- Semua ini baru 10 bulan. Bayangkan apa yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan. Strategi “memancing” ini butuh waktu. Karena itu kata kuncinya adalah bersabar, biarkan proses berjalan, dan kita lihat hasilnya.
PELAKITA.ID – Redaksi menonton konten Youtube Astronacci yang dibagikan oleh sahabat semasa di Smansa Makassar, Zainal Ibrahim. Astronacci adlaah akun ber-subscrive 939 ribuan.
Pembaca sekalian, video ini nampak asik, rasional dan karena itu tidak ada salahnya direkomendasikan untuk ditonton.
Host-nya bernama Gema Goeyardi, di Linkedin bernama lengkap Dr.Gema Goeyardi,ATP, CAT,CFTe,MFTA, Asst. Prof
Gema bercerita: Indonesia telah mencapai usia 80 tahun. Selamat ulang tahun dan selamat hari merdeka. Pertanyaannya, Indonesia sudah 80 tahun, tapi masyarakatnya bisa apa? Inilah yang selalu menjadi perdebatan, bahkan kerap menjadi hinaan dan cacian dari masyarakat.
Terlebih di usia ke-80 ini, kita punya presiden baru, yakni Pak Prabowo Subianto. Masalah bagi sebagian orang muncul setelah 10 bulan beliau menjabat.
Pertanyaannya, sejauh mana janji-janji kampanye sudah dijalankan? Hari ini saya akan membongkar info A1 tentang apa yang sebenarnya dilakukan Pak Prabowo di pemerintahan, dan saya akan memberikan penjelasan yang fair agar masyarakat bisa melihat gambaran nyata kepemimpinan presiden, meskipun mungkin belum banyak yang mengetahuinya.
Saya juga akan menyampaikan kritik, sebab banyak kondisi di lapangan yang merugikan rakyat dan mungkin belum sampai ke telinga presiden.
Kembali ke pembahasan inti, saya ingin mengenalkan istilah Prabowonomics: The Fishing Time.
Mengapa disebut begitu? Karena Pak Prabowo adalah seorang jenderal yang dikenal sebagai ahli strategi. Gerakan politiknya sulit dipahami orang awam. Strategi pemerintahan yang dijalankannya di periode pertama mengutamakan trust dan trial mission—memberi kesempatan kepada orang untuk bekerja.
Banyak yang menilai jabatan yang dibagikan adalah titipan, tapi prinsip beliau sederhana: selama orang itu bisa bekerja, dia akan diberi kesempatan. Setelah kesempatan diberikan, barulah permainan “memancing” dimulai.
Jangan buru-buru menilai. Banyak yang bilang selama 10 bulan masyarakat makin sengsara.
Padahal, siapa pun presidennya, kalau masyarakat sendiri tidak mau meningkatkan keterampilan, tetap hidup dalam pola lama, mereka akan tetap menderita. Namun, saya juga tidak menutup mata: kritik tetap perlu disampaikan.
Mari kita lihat hasil fishing time. Pertama, terkait pemberantasan korupsi. Banyak yang bilang korupsi makin merajalela. Faktanya, justru makin banyak pejabat yang ditangkap KPK. Itu artinya ada perintah dan dukungan dari atas.
Pak Prabowo sendiri pernah menyatakan bahwa kita harus berani memberantas korupsi dengan perbaikan sistem, penegakan hukum tegas, dan digitalisasi.
Data menunjukkan dalam 10 bulan, lebih dari 80 nama terseret kasus korupsi, termasuk Wakil Menteri Tenaga Kerja. Kasus besar seperti timah juga terbongkar. Ini menunjukkan komitmen nyata.
Kedua, gerakan GAK (Gerakan Anti Korupsi) dengan strategi cutting budget. Pemangkasan anggaran membuat para oknum panik, sehingga aksi korupsi mereka makin mudah terlacak.
Dengan cara ini, KPK dan Kejaksaan bisa menindak lebih banyak pelaku. Prediksi saya, jumlah tersangka akan mencapai 130–150 nama dalam 1–2 tahun mendatang. Hingga kini, Indonesia bahkan sudah berhasil menghemat ratusan triliun rupiah dari pemangkasan anggaran.
Ketiga, program MBG (Makan Bergizi). Meski menuai kritik karena pelaksanaannya belum sempurna, program ini telah menciptakan 290 ribu lapangan kerja dan melibatkan lebih dari 1 juta petani, nelayan, dan peternak.
Banyak vendor dan UMKM yang ikut terbantu. Memang hasilnya belum besar, tetapi ini langkah awal yang signifikan.
Keempat, keberanian menghadapi sembilan naga. Untuk pertama kalinya setelah era Soeharto, sembilan naga dipanggil ke istana. Presiden meminta mereka berkontribusi langsung bagi negara, bukan sebaliknya. Ini langkah berani dan tidak mudah dilakukan.
Kelima, masalah harga beras. Presiden mengakui harga beras masih tinggi. Karena itu, ia melanjutkan konsen Pak Harto untuk swasembada pangan, meski hasilnya belum terlihat. Sementara ini, pemerintah membagikan beras 10 kilogram kepada 16 juta rakyat miskin.
Semua ini baru 10 bulan. Bayangkan apa yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan. Strategi “memancing” ini butuh waktu. Karena itu kata kuncinya adalah bersabar, biarkan proses berjalan, dan kita lihat hasilnya.
Meski begitu, bukan berarti pemerintah tanpa kekurangan. Ada masalah serius yang harus segera ditangani, yakni pajak dan abusive power.
Arogansi lembaga pajak, bea cukai, dan aparat lain sangat dirasakan rakyat. Jika tidak segera dibenahi, maka program bagus pun bisa tercederai. Dengan UMR yang masih rendah, rakyat kesulitan hidup, apalagi jika pajak terus dinaikkan.
Saya menghargai strategi Presiden, tapi saya juga menekankan: jangan sampai rakyat justru makin terbebani. Inilah kritik yang saya harap bisa didengar, agar fishing time benar-benar membawa hasil yang adil bagi bangsa.
Sumber:









