Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menentukan: bagaimana sebuah masyarakat bergerak dari kemiskinan menuju kemakmuran, dan adakah jalan lain selain komunisme?
PELAKITA.ID – Ketika Walt Whitman Rostow menerbitkan karyanya The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto pada tahun 1960, ia tidak sekadar menawarkan teori ekonomi.
Lebih dari itu, ia menghadirkan sebuah senjata politik di tengah Perang Dingin, sekaligus kerangka pikir yang kelak menjadi salah satu tonggak paling berpengaruh — dan kontroversial — dalam sejarah studi pembangunan.
Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menentukan: bagaimana sebuah masyarakat bergerak dari kemiskinan menuju kemakmuran, dan adakah jalan lain selain komunisme?
Jejak Pemikiran Rostow
Muncul di puncak rivalitas ideologis antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, karya Rostow dengan jelas menempatkan pembangunan sebagai antitesis dari komunisme.
Subjudulnya, A Non-Communist Manifesto, adalah pernyataan tegas mengenai niat politiknya. Rostow bukan hanya akademisi ekonomi, ia juga penasihat kebijakan di Washington.
Teorinya pun menjadi cetak biru bagi strategi luar negeri Amerika Serikat: dari Marshall Plan di Eropa pascaperang, hingga program bantuan pembangunan di Dunia Selatan yang bertujuan membendung pengaruh Soviet melalui modernisasi ekonomi.
Lima Tahap Pertumbuhan Ekonomi
Rostow menawarkan sebuah model universal dan linear, di mana setiap bangsa diyakini harus melewati tahap-tahap berikut untuk mencapai modernitas:
-
Masyarakat Tradisional
Perekonomian masih bertumpu pada pertanian subsisten, produktivitas rendah, teknologi minim, dan struktur sosial kaku. -
Prasyarat Lepas Landas (Preconditions for Take-Off)
Pengaruh luar, seperti perdagangan, kolonialisme, atau transfer teknologi, mulai mengubah wajah masyarakat. Investasi infrastruktur, pendidikan, dan kapasitas negara membuka jalan bagi industrialisasi. -
Lepas Landas (Take-Off)
Periode pertumbuhan pesat yang ditandai industrialisasi, mekanisasi, dan investasi yang meningkat (minimal 10% dari pendapatan nasional). Sektor-sektor unggulan, seperti tekstil atau baja, menjadi mesin pendorong momentum ekonomi. -
Menuju Kedewasaan (Drive to Maturity)
Teknologi menyebar ke berbagai sektor, ekonomi makin terdiversifikasi, produktivitas meningkat, dan ekspor meluas. Kompleksitas dan daya tahan sosial-ekonomi berkembang. -
Era Konsumsi Massa Tinggi (Age of High Mass Consumption)
Fokus ekonomi beralih dari produksi kebutuhan dasar ke layanan dan konsumsi massal. Urbanisasi, sistem kesejahteraan, dan budaya konsumsi menjadi dominan. Bagi Rostow, Amerika Serikat dan Eropa Barat adalah wujud nyata dari tahap akhir ini.
Warisan dalam Wacana Pembangunan
Model Rostow dengan cepat menjadi tulang punggung teori modernisasi di dekade 1950–1970-an. Pengaruhnya merembes ke dunia akademik, lembaga internasional, dan kebijakan luar negeri:
-
Fondasi Teori Modernisasi
Rostow meyakini bahwa semua bangsa dapat — bahkan seharusnya — mengikuti jalur yang sama menuju modernitas ala Barat. Universalitas inilah yang membentuk imajinasi pembangunan selama beberapa dekade. -
Inspirasi Kebijakan
Gagasan Rostow memberi dasar bagi inisiatif bantuan Amerika, seperti Alliance for Progress di Amerika Latin, sekaligus mengilhami nasihat pembangunan Bank Dunia dan IMF. -
Senjata Ideologis Perang Dingin
Jika Marx merumuskan sejarah sebagai jalan dari feodalisme menuju kapitalisme lalu sosialisme, Rostow menawarkan peta alternatif: menuju demokrasi kapitalis dan masyarakat konsumtif.
Namun, tak lama kemudian kritik pun bermunculan. Model Rostow dianggap:
-
Euro-sentris dan ahistoris, karena menjadikan pengalaman Barat sebagai acuan universal.
-
Menutup mata pada ketimpangan dan ketergantungan, khususnya akibat kolonialisme dan struktur global.
-
Deterministik, seolah pembangunan adalah proses linear yang tak terhindarkan, alih-alih pergulatan sosial yang penuh tarik-menarik.
Pada dekade 1970-an, teori ketergantungan (Andre Gunder Frank, Samir Amin) dan teori sistem-dunia (Immanuel Wallerstein) muncul sebagai tandingan, menantang optimisme Rostow.
Mengapa Rostow Masih Relevan
Meskipun reputasinya di kalangan akademisi meredup, model Rostow tetap menjadi rujukan sejarah. Ia sering disebut sebagai titik awal wacana pembangunan pasca-Perang Dunia II.
Gaung teorinya masih terdengar hingga kini dalam bahasa kebijakan: negara “sedang mengejar ketertinggalan,” “pasar yang sedang tumbuh,” atau “naik kelas menuju status berpendapatan menengah.”
Bahkan ada yang membaca perjalanan Tiongkok dengan kacamata Rostow: “lepas landas” dianggap terjadi sejak reformasi Deng Xiaoping akhir 1970-an, sementara diversifikasi ekonomi kini mencerminkan “kedewasaan.”
***
The Stages of Economic Growth bukan sekadar teori ekonomi; ia adalah manifestasi ideologi yang membingkai pembangunan sebagai perjalanan universal menuju modernitas Barat. Meski penuh kelemahan — dari bias Euro-sentris hingga determinisme — warisannya tak terbantahkan.
Ia meninggalkan dua pelajaran utama: pertama, pembangunan kerap dibayangkan sebagai tahapan yang dapat diprediksi; kedua, wacana pembangunan tak pernah netral, selalu berkelindan dengan politik global. Hingga kini, dalam diskusi tentang globalisasi, negara berkembang, atau istilah “mengejar ketertinggalan,” gema manifesto non-komunis Rostow masih terasa.









