Kasepuhan Ciptagelar, Lanskap Keberdayaan dalam Lensa Amartya Sen

  • Whatsapp
Suasana di Ciptagelar Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ZLQ90PUv0SY

Mereka tidak sekadar bertahan karena tradisi, melainkan karena tradisi tersebut memberi ruang kebebasan dan pilihan hidup yang autentik. Inilah inti dari pendekatan kapabilitas Sen: manusia berhak menentukan kehidupannya sendiri, sesuai dengan nilai yang dianggap bermakna.

PELAKITA.ID – Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, adalah salah satu komunitas adat Sunda yang hingga kini tetap menjaga tradisi leluhur.

Ciri khas utamanya adalah ketaatan terhadap siklus padi sebagai pusat kehidupan, di mana setiap aspek sosial, budaya, dan ritual berkelindan erat dengan penghormatan pada alam dan kesakralan padi.

Di tengah modernisasi, Ciptagelar menjadi contoh nyata bagaimana sebuah komunitas adat tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang melalui perpaduan antara kearifan lokal dan selektifitas terhadap inovasi.

Ciptagelar memandang padi bukan sekadar komoditas pangan, melainkan entitas sakral yang menopang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Upacara adat seperti Seren Taun, penyimpanan padi di leuit (lumbung tradisional), hingga larangan menjual padi hasil panen, memperlihatkan orientasi komunitas pada keberlanjutan dan ketahanan pangan.

Praktik ini sekaligus memperkuat solidaritas sosial, karena setiap orang dipastikan memiliki akses pada pangan.

Sumber referensi yanng apik

Kapabilitas dalam Lensa Amartya Sen

Amartya Sen, ekonom dan peraih Nobel, memperkenalkan Capability Approach (Pendekatan Kapabilitas) yang menekankan bahwa kesejahteraan tidak semata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuan nyata individu dan komunitas untuk mewujudkan “fungsi-fungsi” yang mereka nilai penting dalam hidup.

Dengan kata lain, kapabilitas adalah kebebasan untuk menjalani kehidupan yang dianggap bermakna.

Jika ditarik ke Ciptagelar, keberlanjutan komunitas ini dapat dipahami melalui lensa kapabilitas:

Kapabilitas dalam Pangan: Ciptagelar tidak bergantung pada pasar global, tetapi menjamin akses pangan melalui leuit dan aturan adat. Ini menunjukkan kemampuan komunitas untuk menghindari kerentanan pangan.

Kapabilitas dalam Sosial-Budaya: Tradisi yang dijaga memberi identitas dan makna hidup. Masyarakat merasa memiliki kontrol atas kehidupannya, bukan semata menjadi objek modernisasi.

Kapabilitas dalam Adaptasi Teknologi: Uniknya, Ciptagelar tidak menolak teknologi modern. Mereka menggunakan listrik dari mikrohidro, mengoperasikan televisi dan radio komunitas, serta memanfaatkan internet untuk memperkenalkan budaya mereka ke dunia luar. Selektivitas ini memperluas kapabilitas tanpa merusak nilai adat.

Mengapa Ciptagelar Bisa Bertahan?

Ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan ketahanan komunitas ini. Filosofi Adat yang Fleksibel: Tradisi bukanlah beban, tetapi kerangka hidup yang adaptif. Mereka mampu menerima teknologi sejauh tidak mengganggu esensi budaya.

Ketahanan Kolektif: Solidaritas sosial yang kuat membuat setiap anggota komunitas merasa terlindungi. Distribusi pangan yang adil adalah contoh nyata.

Kepemimpinan Adat: Keberadaan Abah Anom dan penerusnya sebagai pemimpin spiritual-adat menjadi pengikat otoritas moral dan arah komunitas.

Kapabilitas Ekonomi Alternatif: Meski tidak fokus pada kapitalisme pasar, Ciptagelar mampu menciptakan sumber ekonomi berbasis wisata budaya, pertanian, dan energi mandiri.

Kearifan Lokal sebagai Modal Sosial

Dalam konteks pembangunan, Ciptagelar membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi modal sosial yang memperkuat daya tahan komunitas terhadap tekanan eksternal, baik dari modernisasi maupun perubahan lingkungan.

Mereka tidak sekadar bertahan karena tradisi, melainkan karena tradisi tersebut memberi ruang kebebasan dan pilihan hidup yang autentik. Inilah inti dari pendekatan kapabilitas Sen: manusia berhak menentukan kehidupannya sendiri, sesuai dengan nilai yang dianggap bermakna.

Pelajaran bagi Dunia Modern

Ciptagelar adalah simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya.

Di saat banyak komunitas adat tercerabut dari akar tradisinya akibat tekanan ekonomi pasar, Ciptagelar mampu menunjukkan alternatif pembangunan yang berpusat pada manusia, bukan sekadar angka pertumbuhan.

Dengan menjaga kapabilitas mereka—dalam pangan, budaya, dan sosial—komunitas ini justru menjadi lebih tangguh.