Nadiem yang terbiasa berlari, dipaksa berjalan terseok di jalan berlumpur birokrasi. Lebih tragis lagi, jalan itu penuh ranjau: jebakan regulasi, permainan anggaran, dan kepentingan politik yang tak kasat mata.
Oleh Mustamin Raga
*Penulis Buku Suara Dari Pelukan Kabut
PELAKITA.ID – Sejarah kadang berlaku kejam pada mereka yang terlalu percaya bahwa sistem bisa diubah hanya dengan semangat muda dan kecerdasan.
Nama Nadiem Makarim pernah harum sebagai simbol kebaruan: pendiri Gojek, anak muda kosmopolitan lulusan sekolah terbaik, yang berhasil mengubah wajah transportasi dan ekonomi digital Indonesia.
Ia datang membawa aura inovasi, keyakinan bahwa masalah pelik dapat diurai dengan logika teknologi, serta semangat generasi baru yang berlari lebih cepat dari mesin birokrasi.
Namun roda nasib berputar dengan cara yang tak pernah ia bayangkan. Dari simbol harapan, ia akhirnya tampil di hadapan publik dengan tangan terborgol, mengenakan rompi merah muda khas Kejaksaan—atribut dingin yang menandai status tersangka.
Dari panggung gagasan, ia jatuh ke ruang tuduhan. Dari simbol kebebasan, ia terseret dalam simbol pengekangan.
Apakah ini sekadar nasib pribadi? Ataukah cermin dari sebuah sistem yang sakit?
Ketika pertama kali menerima tawaran menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Jokowi, Nadiem adalah sosok kejutan.
Ia datang dari luar lingkaran politik, tanpa partai, bahkan kerap dianggap terlalu muda. Namun justru itulah daya tariknya: seorang inovator digital yang dipercaya mampu memberi napas baru bagi dunia pendidikan yang kaku.
Ia meluncurkan Merdeka Belajar, mengguncang pola pikir pendidikan yang terlalu sentralistik. Ia berbicara dengan bahasa anak muda, membawa diksi teknologi, membangkitkan imajinasi akan perubahan. Tetapi birokrasi bukanlah aplikasi yang bisa diperbarui dengan sekali update.
Ia adalah rimba penuh jebakan, di mana logika sering tunduk pada kepentingan, dan kecepatan inovasi hancur di tangan prosedur panjang.
Nadiem yang terbiasa berlari, dipaksa berjalan terseok di jalan berlumpur birokrasi. Lebih tragis lagi, jalan itu penuh ranjau: jebakan regulasi, permainan anggaran, dan kepentingan politik yang tak kasat mata.
Tatkala publik melihat Nadiem mengenakan rompi pink, simbol itu lebih menusuk daripada sekadar berita kriminal. Ia adalah tanda kejatuhan seorang anak muda brilian, yang mungkin jika waktu dapat diputar, tak akan pernah mau menerima jabatan menteri.
Rompi pink itu bukan sekadar kain, melainkan metafora ironi:
Anak muda digital yang bebas berkreasi, kini dibatasi jeruji.
Sang inovator dari dunia tanpa batas, kini terjebak dalam batas hukum.
Sang pembaharu yang ingin melawan konservatisme, kini menjadi korban dari sistem yang ia masuki.
Di balik borgol itu, ada pertanyaan yang bergetar: apakah benar ia bersalah, atau hanya korban dari mesin politik yang lebih besar darinya?
Albert Camus pernah menulis, “Manusia bukanlah masalah; sistemlah yang menjadikan manusia bermasalah.”
Dalam kerangka ini, kejatuhan Nadiem bukan semata tragedi individu, melainkan refleksi betapa rapuhnya sistem pemerintahan kita. Indonesia, dengan segala kerumitan politiknya, adalah medan berbahaya bagi siapa pun yang masuk tanpa bekal politik yang kuat. Inovasi tak selalu cukup; kecerdasan pun tak selalu menyelamatkan.
Ada bom waktu dalam setiap kursi kekuasaan, yang bisa meledak kapan saja.
Nadiem mungkin tak sepenuhnya menyadari bahwa di pemerintahan, niat baik tak selalu berbuah baik. Terkadang justru menjadi jebakan yang menyeret ke labirin tuduhan.
Andai waktu bisa ditarik mundur, barangkali ia akan tetap bersama Gojek, membawa aplikasinya melesat ke pasar global, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan tetap dikenang sebagai ikon inovasi.
Ia mungkin tak akan rela menukar kebebasan kreatifnya dengan meja birokrasi yang penuh berkas dan intrik.
Namun sejarah tak mengenal kata “seandainya”. Ia hanya mencatat kenyataan bahwa kini seorang anak muda brilian harus menanggung beban rompi pink, dan namanya tergores oleh noda yang barangkali sulit terhapus.
Kisah Nadiem adalah pelajaran pahit bagi generasi muda Indonesia: bahwa memasuki pemerintahan bukan sekadar membawa ide, melainkan juga kesiapan menghadapi rimba kepentingan yang dapat menelan siapa saja.
Tragedinya adalah tragedi kita bersama: negeri ini masih belum aman bagi anak-anak muda brilian untuk berinovasi dalam sistem. Sistem itu sendiri adalah jebakan.
Dan mungkin, ketika kita memandang rompi pink itu, sesungguhnya kita sedang bercermin: apakah kita rela membiarkan negeri ini terus menjadi kuburan bagi mimpi-mimpi muda? Atau berani mengubah sistem, agar yang brilian tak lagi jatuh tragis di tangan kekuasaan?
___
Gerhana Alauddin sebelum Salat Subuh, 5 September 2025









