PELAKITA.ID – Ada saat dalam shalat ketika semesta seakan berhenti bernafas. Waktu berhenti di antara dua sujud. Tubuhmu tidak sepenuhnya merunduk, tidak pula tegak berdiri. Engkau seperti terombang-ambing di antara dua samudera: samudera fana dan samudera baka, samudera kelahiran dan samudera kematian.
Di situlah engkau duduk—duduk sejenak, namun hakikatnya engkau sedang menyingkap rahasia panjangnya perjalanan jiwa.
Lafaz yang keluar bukan sekadar doa, melainkan nyanyian fakir. “Rabbighfir li.” Engkau memohon ampunan, sebab engkau tahu dirimu hanya sebutir debu yang terperangkap dalam badai dosa. Ampunan itu bagaikan angin yang membersihkan kegelapan, agar hatimu kembali jernih seperti cermin yang memantulkan wajah Tuhan.
Setelah itu engkau berkata “warhamni.” Oh, betapa indah! Karena ampunan hanyalah sapuan, sedang rahmat adalah pelukan. Ampunan membersihkan noda, rahmat menumbuhkan bunga.
Kemudian kau mengadu, “wajburni.” Tutupilah celah-celah hatiku yang retak, tambalilah dinding jiwaku yang bolong. Engkau tahu, manusia bukanlah bangunan yang sempurna, ia penuh luka, penuh cacat. Allah adalah Sang Penambal, Sang Jabbār, yang menutup segala retakan dengan kasih-Nya.
Setelah itu engkau mohon “warfa‘ni.” Angkatlah aku, ya Allah, bukan ke singgasana dunia, tetapi ke maqām di mana ruhku bisa bernafas dalam cahaya-Mu.
Lisanmu bergetar dengan “warzuqni.” Rezeki di sini bukan sekadar butir nasi di meja, tetapi percikan cahaya di hati, teman yang setia, ilmu yang membuka jalan, amal yang kau titipkan untuk hidup setelah mati. Namun engkau sadar, rezeki bisa menjadi racun tanpa arah. Maka engkau memohon lagi “wahdini.”
Bimbinglah aku, ya Allah, agar kakiku tidak salah jalan, agar nikmat yang Kau titipkan tidak menyeretku ke jurang.
Tak berhenti di situ, engkau berkata “wa‘afini.” Sehatkan aku, ya Allah. Karena tubuh adalah perahu, dan jiwa adalah penumpangnya.
Bagaimana mungkin perahu yang rapuh mengantar jiwa berlayar menuju samudera-Mu? Dan akhirnya, dengan suara paling lirih, engkau bisikkan “wa‘fu ‘anni.” Maafkanlah aku. Di situlah engkau menangis, sebab sadar bahwa engkau hanyalah hamba yang selalu jatuh, selalu tersandung, selalu salah, dan selalu butuh maaf.
Duduk di antara dua sujud adalah isyarat halus: engkau lahir dari tanah, lalu akan kembali ke tanah.
Satu sujud adalah kelahiranmu, satu sujud berikutnya adalah kematianmu. Sedang duduk di antaranya adalah dunia: sebentar saja, sesingkat hembusan angin, sesenyap bayangan yang melintas. Dunia hanyalah duduk sejenak di antara kelahiran dan kematian. Maka, siapa yang lalai, ia duduk tanpa doa. Siapa yang sadar, ia duduk dengan air mata.
Wahai jiwa, duduk itu bukan dudukmu. Itu adalah duduknya kefakiran di hadapan Kekayaan.
Duduknya kekosongan di hadapan Keabadian. Duduknya hamba yang tahu diri di hadapan Tuhannya yang tiada banding. Duduk itu adalah puisi yang tak tertulis, musik yang tak terdengar, getar cinta yang hanya bisa dirasakan hati yang pasrah.
Jika engkau benar-benar duduk, maka engkau akan merasa kecil seperti setitik embun di ujung daun, yang siap jatuh kapan saja, namun tetap berkilau karena memantulkan cahaya matahari.
Duduk itu adalah kerendahan sekaligus kemuliaan. Kerendahan karena engkau hampa, kemuliaan karena engkau disapa Allah lewat doa.
Dan tahukah engkau? Duduk di antara dua sujud adalah latihan mati. Engkau berbaring dalam sujud pertama, lalu duduk sejenak di dunia, lalu kembali ke sujud kedua: pulang ke tanah, pulang ke Allah.
Seluruh shalat adalah perjalanan kosmik, dan duduk di antara dua sujud adalah jeda yang mengingatkanmu: jangan lupa, dunia hanya sebentar, bekalmu hanya doa, dan harapanmu hanya ampunan.
Wahai hamba, duduklah di antara dua sujud dengan hati yang pecah, dengan jiwa yang menangis, dengan cinta yang menetes. Karena di situlah engkau paling jujur, paling fakir, paling manusiawi. Dan di situlah Allah paling dekat. Dudukmu adalah doa, doamu adalah tangisan, tangisanmu adalah kunci. Kunci menuju pintu kasih Allah yang tak pernah terkunci.
Muliadi Saleh,
Alumnus Pesantren IMMIM
Ketua DKM Masjid Fatimah, Bukit Baruga Makassar









