Oleh: Rustan Rewa
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemda Tolitoli, Sulawesi Tengah
Makassar selalu punya cara untuk membuat hati bergetar. Kota ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang penuh kenangan bagi saya yang dulu datang dari Butta Turatea untuk menuntut ilmu. K
ini, sebagai seorang ASN yang bertugas di Kabupaten Tolitoli, kembali ke Makassar ibarat menjemput rindu yang lama terpendam.
Selama hampir sepekan berada di sini, saya menemukan kembali denyut kehidupan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan muda saya. Suasana kota, hiruk-pikuk jalanannya, hingga obrolan hangat di warkop, semuanya menghadirkan rasa yang tak tergantikan.
Pertemuan yang Membekas
Makassar mempertemukan saya dengan banyak wajah lama sekaligus tokoh-tokoh yang memberi inspirasi baru. Ada teman kuliah dan rekan seperjuangan di dunia aktivisme, para influencer yang berkiprah di ruang publik, hingga pejabat yang menjadi panutan.
Saya berkesempatan bersua dengan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa di ruangannya di Lantai 8 Rektorat Unhas, sosok yang selalu memberi teladan tentang kepemimpinan akademik. Prof JJ berasal dari rumpun yang sama Keluarga Agrokompleks. Saya alumni Pertanian, beliau alumni Perikanan.

Hari ini Sabtu 30 Agustus 2025, masih pagi, terasa begitu istimewa karena saya bisa bertemu langsung dengan Kapolda Sulsel di masanya Irjen (Purn) Burhanuddin Andi atau biasa disapa Puang Bur di Warkop Daeng Anas, Panakkukang — sebuah momen sederhana tapi penuh makna.
Di sela perjalanan, saya beruntung bisa bertemu sosok seperti Dr. Chaerul Amir, alumni FH Unhas yang berpengalaman panjang di Kejaksaan. Om Jak, begitu sapaannya adalah karateka handal dan baru saja menyabetv medali di Kejuaran Karateka di Kobe Jepang. Beliau juga aktif di IKA Unhas Jabaodetabek, PP IKA Unhas dan IKA Smansa Makassar terutama bidang olahraga.
Lalu bisa bersua Om Boer atau Muhammad Burhanuddin, juga alumni FH Unhas. Dia sahabat sekaligus pengacara di ibu kota yang kini memimpin Garuda Astacita Nusantara.
Kemudian ada Dr. Hasrullah, pakar komunikasi Unhas; hingga aktivis perempuan dan HAM Sulsel, Ema Husain. Tidak ketinggalan pula tokoh-tokoh Sulsel lain yang selalu menginspirasi, mulai dari Wakil Bupati Selayar hingga mantan Wali Kota Makassar dua periode, Ilham Arief Sirajuddin.
Dan itu semua terwujud saat bertemu mereka di acara Ulang Tahun Kabar Makassar ke-16.
Antara Hiruk Pikuk dan Kerinduan
Menariknya, perjalanan ini berlangsung di tengah riuh demonstrasi mahasiswa di depan Kampus UNM Makassar pada 29 Agustus 2025.
Meski suasana kota sempat menegang, semangat saya untuk hadir dan bersilaturahmi tidak surut. Justru dari situ saya belajar kembali tentang dinamika kehidupan, tentang suara generasi muda, dan tentang pentingnya berdialog.
Makassar, bagi saya, bukan sekadar kampung halaman kedua. Ia adalah ruang pertemuan, tempat kenangan berpadu dengan harapan. Setiap pertemuan dengan sahabat, senior, dan tokoh-tokoh inspiratif di kota ini menjadi pengingat bahwa hidup selalu memberi kesempatan untuk belajar dan berbagi.

Sepekan di Makassar bukan hanya tentang melepas rindu, melainkan juga mengikat kembali benang silaturahmi, mengambil inspirasi, dan membawa pulang semangat baru untuk dibagi bersama masyarakat di Tolitoli.
Makassar, meskipun mengalami tragedi yang memirikan pada 29 Agustus 2025 iyu, tetap hadir dengan segala denyutnya, tetap akan menjadi rumah bagi rindu, tempat saya selalu ingin kembali.
Penulis Rustan Rewa
Panakukang, 30 Agustus 2025









