Program PEDULI: Practice to Protect untuk Siswa Penyandang Disabilitas Netra di SLB-A Yapti Makassar

  • Whatsapp
Program PEDULI: Practice to Protect untuk Siswa Penyandang Disabilitas Netra di SLB-A Yapti Makassar

PELAKITA.ID – Makassar, 30 Agustus 2025 – Untuk memperkuat pemahaman siswa penyandang disabilitas netra mengenai strategi perlindungan diri, mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Hasanuddin melaksanakan Program PEDULI (Pengembangan Dukungan dan Resiliensi Diri) melalui kegiatan Practice to Protect.

Program ini berfokus pada pelatihan respons dalam mengenali situasi aman dan tidak aman terkait potensi pelecehan seksual.

Kegiatan berlangsung dalam dua pertemuan, yaitu pada 7 dan 20 Agustus 2025, pukul 13.00–15.30 WITA, di SLB-A Yapti Makassar. Program ini dirancang interaktif dengan memadukan permainan kartu dan simulasi peran (role play) agar siswa tidak hanya memahami konsep secara teori, tetapi juga mampu menerapkan strategi perlindungan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Tim Pelaksana

Program ini didampingi oleh Dr. Indra Fajarwati Ibnu, SKM., MA. serta lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas dari berbagai departemen. Mereka adalah:

  • Andi Magfirah Ramadhani Asfar (Epidemiologi) – Ketua Tim

  • Nasywa Salsabila Nasaruddin (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

  • Desinta Rahmawati (Epidemiologi)

  • SQA Dinda Chairunnisa (Epidemiologi)

  • Indri Sri Handayani (Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku)

Program ini mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual di kalangan siswa penyandang disabilitas netra.

Pertemuan Pertama: Belajar Mengenali Situasi

Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep pelecehan seksual dan diskusi interaktif mengenai perbedaan antara situasi aman dan tidak aman.

Peserta kemudian dikenalkan dengan permainan kartu berisi skenario sosial yang dirancang dalam bentuk braille dan kartu suara berbasis gawai agar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Setiap peserta diminta menilai apakah situasi dalam kartu tergolong aman atau tidak, lalu mendiskusikan alasannya dalam kelompok kecil.

Pertemuan Kedua: Melatih Respons Aman

Pada sesi berikutnya, siswa berlatih melalui metode role play dengan menghadirkan skenario nyata terkait potensi pelecehan seksual, baik di sekolah maupun di rumah.

Peserta memainkan peran sebagai pihak yang menghadapi situasi tersebut, lalu menunjukkan respons aman sesuai strategi yang dipelajari.

Setelah simulasi, dilakukan diskusi bersama untuk mengevaluasi respons yang paling tepat, diikuti dengan sesi tanya jawab untuk memperkuat pemahaman siswa.

Hasil Program

Keberhasilan program diukur melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test. Rata-rata nilai pre-test peserta adalah 45, sedangkan rata-rata nilai post-test meningkat signifikan menjadi 100.

Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang sangat baik mengenai strategi perlindungan diri setelah mengikuti kegiatan.

Dengan demikian, tahap ketiga Program PEDULI melalui Practice to Protect dinilai berhasil mencapai indikator yang ditetapkan: meningkatnya pengetahuan siswa penyandang disabilitas netra dalam mengenali sekaligus merespons situasi berpotensi pelecehan seksual dengan cara yang aman.

Penulis: Andi Magfirah Ramadhani Asfar