Muara Amarah: Dari Air Mata Affan ke Gelombang Demonstrasi

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

“Ketika tragedi di jalan raya menjadi simbol duka dan luka bangsa yang mencari keadilan”

Penulis: Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Mata air sejarah bangsa ini pernah bening. Dari sumur perjuangan yang jernih lahirlah cita-cita kemerdekaan: tanah air yang adil, rakyat yang sejahtera, dan pemimpin yang bijak.

Dari sumber yang murni itu, mengalir sungai panjang bernama Indonesia—melewati sawah yang menghijau, kebun yang berbuah, pabrik yang berasap, sekolah yang ramai, rumah ibadah yang teduh, hingga gedung-gedung mewah yang menjulang. Semua tersentuh oleh alirannya.

Namun, waktu berjalan, dan sungai itu mulai keruh. Ada yang melempar sampah kemunafikan, ada yang menebar limbah keserakahan, ada pula yang menabur racun ketidakadilan. Anak-anak negeri yang dulu mandi di sungai cita-cita kini tercebur dalam arus penuh busa kebohongan. Air yang seharusnya menyegarkan justru membuat dahaga tak pernah padam.

Malam 28 Agustus 2025, Jakarta menyaksikan bagaimana keruhnya aliran itu pecah di muara.

Di depan gedung parlemen, di jalan yang pernah menjadi saksi reformasi, Affan Kurniawan—seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun—tewas dilindas kendaraan taktis Barracuda milik aparat. Ia bukan provokator, bukan agitator. Ia hanyalah anak muda yang sedang bekerja, berjuang mengantar pesanan, menanggung harapan keluarga. Namun ia pulang bukan dengan senyum, melainkan dalam keranda.

Video tragedi itu menyebar secepat arus deras, melintasi jagat maya, menimbulkan gelombang duka sekaligus amarah.

Jeritan di tengah demonstrasi menjelma menjadi elegi nasional: apakah demokrasi ini masih punya hati, ataukah ia telah berubah menjadi roda besi yang tega melumat nyawa rakyat kecil?

Affan adalah wajah jutaan anak bangsa yang bekerja di jalan, menggantungkan hidup pada aplikasi, bersandar pada keringat, bukan privilese.

Ketika ia pergi dengan cara tragis, yang runtuh bukan hanya raganya, tetapi juga keyakinan banyak orang pada keadilan. Sebab, apa arti demokrasi bila ia menjelma menjadi mesin yang menumbalkan darah rakyat kecil demi menjaga kursi kekuasaan?

Gelombang demonstrasi malam itu adalah luapan dari muara amarah yang telah lama menumpuk. Ada pajak yang mencekik, janji yang tak ditepati, korupsi yang tak kunjung usai, dan kesenjangan yang semakin melebar. Dari kampung kumuh hingga jalan raya ibu kota, rakyat kecil merasakan sungai kehidupan mereka makin keruh, makin sulit, makin tak memberi harapan.

Muara amarah itu kini berjumpa dengan gelombang lain: gelombang mahasiswa, gelombang buruh, gelombang rakyat yang letih. Mereka bersatu di jalan-jalan, menyatu dalam teriakan. Dan ketika darah Affan menetes di aspal, muara itu menemukan simbolnya. Air mata seorang anak bangsa yang gugur menjelma bagian dari arus besar ketidakpuasan.

Namun bangsa ini tak boleh hanya tenggelam dalam amarah. Api yang menyala di jalanan bisa membakar rumah kita sendiri bila tak dikelola dengan bijak. Kita memang marah, tetapi harus ingat: bangsa ini bukan hanya tentang luka hari ini, melainkan juga tentang harapan esok pagi.

Kita butuh pemimpin yang meneteskan empati, bukan sekadar menebar kata maaf. Kita butuh negara yang mau menunduk mendengar rakyat, bukan negara yang menjulang dengan arogansi.

Kita butuh keadilan yang nyata, bukan sekadar santunan. Cinta rakyat hanya akan kembali bila pemerintah berhenti berjarak.

Affan telah pergi. Air matanya telah jatuh ke muara bangsa. Namun tugas kita yang masih hidup adalah menjaga agar muara itu tidak menjadi lautan kebencian tanpa ujung. Kita harus merawatnya agar berubah menjadi telaga keteduhan, tempat semua luka bisa dipulihkan.

Bangsa ini lahir dari pengorbanan: dari darah pahlawan, air mata rakyat kecil, jerit ibu-ibu yang kehilangan anak, hingga peluh petani yang menanam padi di tanah sendiri.

Karena itu, pengorbanan Affan tak boleh sia-sia. Tragedi ini harus menjadi pengingat bahwa sungai bangsa ini harus kembali jernih, dan muaranya harus kita jaga bersama.

Ketika fajar menyingsing esok, kita harus tetap percaya: matahari akan kembali menghangatkan sungai Indonesia. Harapan harus tetap tumbuh. Cinta harus terus dirawat.

Amarah boleh bergemuruh di muara, tetapi cinta dan persaudaraanlah yang akan menjaga agar bangsa ini tidak karam di tengah badai.