Mualim, “Fotografer” Cilik di Pantai Losari

  • Whatsapp
Mualim, kanan, bersama penulis di Pantai Losari (dok: Istimewa)

Rusdin Tompo
(Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Sulawesi Selatan)

Om, berdiri ki di sini. Bagus fotonya kalau dari sini ki.”

PELAKITA.ID – Suara seorang anak kecil terdengar dari belakang ketika saya hendak memotret ikon Pantai Losari dengan latar kapal Pinisi dan Masjid Kubah 99 Asmaul Husna.

Saya menoleh. Tampak seorang anak laki-laki berkaos hitam, bercelana pendek, dan bersandal jepit. Ia berdiri tak jauh, sambil menunjuk arah posisinya. Seolah meminta saya mundur beberapa langkah agar hasil foto lebih bagus.

Saya lanjutkan memotret. Anak itu memperhatikan saya beberapa kali menjepret. Lalu ia menawarkan diri.

“Mari saya foto ki, Om,” katanya.

Saya pun menyerahkan smartphone kepadanya. Ia lalu mengarahkan saya berdiri di tengah, kemudian agak menyerong ke kiri, bahkan meminta saya duduk dengan posisi tertentu.

Gerakannya cekatan, seperti sudah hafal betul sudut-sudut menarik untuk memotret landmark Kota Makassar itu.

Ternyata bukan hanya tahu posisi terbaik, ia juga menguasai teknik memotret. Hasil jepretannya mengejutkan: sudut unik, komposisi pas, bahkan efek blur di latar belakang membuat foto lebih dramatis.

“Kenapa bisa tahu posisi bagus untuk foto? Punya kamera kah?” tanya saya penasaran.

Di-shoot oleh Mualim

“Tidak ji, Om. Pake kameranya ji pengunjung,” jawabnya polos.

Saya tersenyum, memuji hasil kerjanya, lalu memberi selembar Rp10.000. Ia kembali mengarahkan saya pindah ke dekat tulisan “Pantai Losari”, agar masjid tampak lebih menonjol di latar. Hasilnya sekali lagi memuaskan.

Hari itu, Ahad sore 24 Agustus 2025, cuaca Makassar bersahabat. Pengunjung Anjungan Pantai Losari tak terlalu ramai.

Ada beberapa turis asing dan wisatawan lokal. Suasana nyaman membuat saya betah memotret sebelum berbagi pengalaman menulis bersama Perempuan PGRI Sulawesi Selatan di atas kapal Pinisi.

Setelah berinteraksi dengan Mualim, saya sempat bertemu tiga mahasiswa Politeknik ATI Makassar yang sedang berfoto. Saya tunjukkan hasil jepretan Mualim. Mereka kagum. Bahkan salah seorang dari mereka memotret saya dengan meniru persis sudut pengambilan ala Mualim.

Mualim, demikian nama anak itu, baru berusia 13 tahun. Ia sudah beraktivitas di Losari sejak duduk di bangku SD, sehari-hari berjualan tisu seharga Rp5.000.  Kini ia duduk di bangku kelas 7 SMP Negeri 4 Makassar. Ia tinggal di Rappokalling, sekitar delapan kilometer dari Losari.

Ibunya bekerja sebagai penjual pisang epe di kawasan yang sama, namun dagangannya bukan milik sendiri, melainkan keluarga. Usai sekolah, sekitar pukul setengah dua siang, Mualim biasanya sudah berada di Losari. Ia bisa bertahan hingga larut malam, bahkan baru pulang pukul satu dini hari.

Losari, Masjid dan Pinisi dalam bingkai Mualim (dok: Istimewa)

“Nanti jam 1 malam baru pulang ka,” ujarnya pelan.

Saat kami berbincang, seorang gadis kecil menghampiri. Ia adalah Nur Alisha, teman Mualim yang juga beraktivitas di Losari sebagai penjual manisan.

Murid kelas 6 SD Negeri Kalukuang itu lebih cerewet dibanding Mualim. Ia bercerita bahwa mereka sering diminta pengunjung untuk membantu memotret.

“Karena tidak semua orang datang dengan temannya,” kata Nur Alisha.

“Supaya kalau rame-rame ki, bisa semua difoto bersama,” timpal Mualim.

Pantai Losasi, kini.

Tak lama kemudian, seorang ibu mencari “fotografer cilik” yang katanya biasa menawarkan jasanya di Losari. Kebetulan Mualim sedang berenang, sehingga saya yang akhirnya diminta memotret, meniru sudut pengambilan ala Mualim.

Menurut Mualim dan Nur Alisha, tak semua orang memberi tip atas jasa mereka. Meski begitu, keduanya tetap senang bisa membantu pengunjung yang ingin mengabadikan momen di Losari.

Apalagi, banyak spot foto yang instagramable untuk dipajang di media sosial sebagai cerita sekaligus kenangan.