Kita sempat memfasilitasi forum musyawarah mahasiswa pada 2023. Saya hadir langsung, menyaksikan bagaimana mahasiswa berdebat untuk menentukan arah. Tetapi, setelah forum itu, progres kembali melambat.
Wakil Rektor 2 Unhas, Prof Muhammad Ruslin
PELAKITA.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan salah satu wadah penting bagi mahasiswa untuk berlatih kepemimpinan, memperkuat jaringan, serta menjadi ruang penyaluran aspirasi. Di berbagai perguruan tinggi besar di Indonesia—seperti UI, UGM, ITB, maupun Undip—BEM hadir sebagai simbol sekaligus motor gerakan mahasiswa.
Hal tersebut diakui Wakil Rektor 2 Unhas, Prof Muhammad Ruslin saat menjadi pembicara pada Diskusi yang digelar oleh IKA Unhas Makassar berjudul Quo Vadis BEM Unhas di Warkop Aspirasi Makassar, Sabtu, 23/8/2025.
Selain dihadiri WR 2 Unhas Prof Ruslin, hadir pula Prof Andi Arsunan Arsin, aktivis Unhas tahun 80-an dan Niimatullah Rahim Bone Ketua Senat Mahasiswa Universitas Hasanuddin di tahun 90-an awal. Acara dipandu jurnalis Tribun Timur, alena beliau Almukarram A.S Kambie.
Prof Ruslin menyatakan, Universitas Hasanuddin (Unhas) pun memiliki sejarah panjang dalam dinamika organisasi mahasiswa ini.
Namun, kata dia, beberapa tahun terakhir, geliat BEM di tingkat universitas mengalami pasang surut.

”Kepengurusan terakhir sempat berjalan pada periode 2021–2022 di bawah Presiden BEM saudara Imam, tetapi perjalanan itu tidak mudah. Saya sendiri, ketika masih menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, ikut mendampingi proses pembentukan BEM tersebut yang waktu itu berlangsung dengan penuh semangat di Malino,” ungkap Ruslin.
Sayangnya, kata Ruslin, dalam perjalanan, dinamika internal membuat soliditas perlahan memudar. Sejumlah pengurus fakultas mulai melemah keterlibatannya, hingga akhirnya roda organisasi tersendat.
”Kita sempat memfasilitasi forum musyawarah mahasiswa pada 2023. Saya hadir langsung, menyaksikan bagaimana mahasiswa berdebat untuk menentukan arah. Tetapi, setelah forum itu, progres kembali melambat. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap tahun kepengurusan BEM di fakultas juga berganti, sehingga kesinambungan tidak selalu terjaga,” ujarnya.
Studi Banding: Belajar dari Kampus Lain
Untuk mencari format kelembagaan yang lebih tepat, pada 2023 Unhas membentuk tim lintas organ: Rektorat, Senat Akademik, dan Majelis Wali Amanat (MWA).
”Kami melakukan studi banding ke beberapa kampus besar: UI, UGM, ITB, dan Undip. Hasilnya, memang ada pola kelembagaan yang berbeda di masing-masing tempat. Beberapa perguruan tinggi, misalnya, memisahkan peran BEM sebagai lembaga eksekutif mahasiswa dengan representasi mahasiswa di MWA,” ucapnya.
Ruslin menyebut, ada model Pergantian Antar Waktu (PAW) sehingga representasi mahasiswa di MWA bisa berkesinambungan selama periode kepemimpinan rektor (empat tahun). Dengan begitu, suara mahasiswa tetap hadir tanpa terikat pada periode pendek kepengurusan BEM yang biasanya hanya satu tahun.
Inilah yang membuat kita perlu hati-hati. Statuta Unhas saat ini berbeda dengan kampus lain, sehingga hasil studi banding tidak bisa serta-merta diterapkan. Perlu sinkronisasi regulasi, termasuk kemungkinan revisi statuta setelah pemilihan rektor mendatang.
Mahasiswa Juga Belajar
Selain tim pimpinan universitas, pihak Unhas juga mengirim delegasi mahasiswa BEM fakultas untuk melakukan studi tiru. Tujuannya agar mereka juga menyerap perspektif baru, melihat langsung bagaimana BEM dan representasi mahasiswa bekerja di kampus lain.
Dengan begitu, kata Ruslin, bukan hanya universitas yang belajar, tetapi mahasiswa pun memiliki bahan refleksi untuk merancang format kelembagaannya sendiri.
”Bagi kami di rektorat, pendampingan ini penting, tetapi tetap dengan prinsip tidak mengintervensi. Mahasiswa perlu tumbuh melalui dinamika mereka sendiri. Tugas kami adalah memfasilitasi forum, membuka ruang dialog, dan memastikan bahwa mereka tidak kehilangan arah,” ucap Ruslin.
Menurut Ruslin, kini, pihaknya sudah melihat tanda-tanda positif. Sebelas BEM fakultas sudah mulai intens berkumpul dan mengerucutkan pola.
”Ada rencana membentuk tim formatur atau panitia khusus untuk menyusun konsep kelembagaan baru. Kami mendorong agar desain ini matang, bukan sekadar reaktif,” kata Ruslin.
Masalah klasik, seperti masa jabatan yang pendek, hubungan antara BEM dan MWA, hingga kebutuhan regulasi yang jelas, harus segera dicarikan solusinya.
”Saya percaya, ke depan sistem yang lebih kokoh akan terbentuk. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya punya ruang ekspresi, tetapi juga posisi strategis dalam struktur universitas,” sebutnya.
Pembaca sekalian, BEM Unhas masih punya harapan besar. “Mahasiswa kita memiliki energi, idealisme, dan semangat kebersamaan yang tinggi. Dinamika yang ada justru bagian dari proses pendewasaan. Yang terpenting, kita menyiapkan sistem yang kuat, regulasi yang jelas, dan ruang yang sehat bagi mahasiswa untuk berkembang,” sebut Ruslin.
”Saya optimis, dengan dukungan semua pihak, kejayaan BEM Unhas akan bangkit kembali. Dan ketika itu terjadi, ia bukan sekadar organisasi, melainkan cermin dari semangat kolektif mahasiswa Universitas Hasanuddin: cerdas, kritis, dan berdaya,” pungkasnya.
Mari simak video selengkapnya.
Redaksi









