Mengenal Substansi dan Kompetensi ‘Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)’ di Unhas

  • Whatsapp
Ilustrasi K3

PELAKITA.ID – Di banyak ruang kerja, keselamatan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah otomatis terjamin. Padahal, di balik setiap mesin, tangga, kabel listrik, hingga ruang kantor yang terlihat aman, selalu ada potensi risiko yang bisa memicu kecelakaan.

Kesadaran inilah yang melahirkan pentingnya sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

K3 amat penting

Sertifikasi K3 bukanlah sekadar selembar kertas resmi dari lembaga pemerintah atau pelatihan. Ia adalah tanda bahwa seorang pekerja, pengawas, atau manajer telah dibekali dengan pemahaman, keterampilan, dan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dirinya dan orang lain.

Di Indonesia, sertifikasi ini biasanya mengacu pada regulasi dari Kementerian Ketenagakerjaan dan menjadi bagian dari standar wajib di banyak industri.

Kita sering mendengar kasus kecelakaan kerja yang berujung pada kehilangan nyawa atau cacat permanen. Di titik ini, sertifikasi K3 hadir sebagai upaya pencegahan, bukan penyesalan setelah musibah terjadi. Ia menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh aktivitas industri. Mesin memang bisa diganti, proyek bisa ditunda, tetapi kehidupan manusia tidak bisa diulang.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti melihat sertifikasi K3 sebagai kewajiban administratif belaka. Sebaliknya, kita perlu merayakannya sebagai bagian dari komitmen moral—bahwa di tempat kerja, semua orang berhak pulang ke rumah dengan selamat.

Pakar Unhas

Pelakita.ID melakukan riset online mengenai siapa saja atau nama-nama yang berkaitan dengan skop K3 di FKM Unhas.

Di Universitas Hasanuddin (Unhas), khususnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) mendapat perhatian besar. FKM Unhas memiliki sejumlah pakar dan spesialis yang mendedikasikan keahliannya untuk mengembangkan ilmu, riset, dan praktik K3, baik di ranah akademik maupun lapangan.

Salah satu nama yang menonjol adalah Prof. Dr. dr. Muhammad Syafar yang selama ini dikenal sebagai dosen dan peneliti dengan fokus pada kesehatan kerja.

Ia banyak terlibat dalam kajian risiko kerja, pencegahan kecelakaan, serta promosi kesehatan di tempat kerja. Kepakarannya bukan hanya dalam ruang kelas, tetapi juga ditunjukkan melalui keterlibatannya dalam proyek-proyek pendampingan industri dan komunitas pekerja.

Lalu ada nama Prof. Yahya Thamrin, SKM., M.Kes.,MOHS.,Ph.D, menempuh pendidikan sarjana di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada bidang Kesehatan Masyarakat dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2000.

Setelah itu, beliau melanjutkan studi magister di dua institusi berbeda. Pertama, di Universitas Hasanuddin pada bidang Epidemiologi (2000–2002). Kedua, beliau memperluas wawasan internasionalnya dengan menempuh program magister di The University of Adelaide, Australia (2008–2009) dengan fokus pada Occupational Health and Safety.

Komitmennya terhadap pengembangan ilmu berlanjut hingga jenjang doktoral. Pada tahun 2012–2016, beliau kembali ke The University of Adelaide untuk menempuh program Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang Occupational Health and Safety.

Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman internasional, Prof. Dr. Yahya Tamrin dikenal sebagai salah satu akademisi yang konsisten mengembangkan bidang kesehatan masyarakat, khususnya pada aspek epidemiologi dan keselamatan serta kesehatan kerja.

Selain itu, terdapat Dr. Kusrini, SKM., M.Kes, yang juga dikenal luas di lingkup K3, khususnya dalam manajemen risiko kesehatan lingkungan kerja.

Ia aktif membimbing mahasiswa dan menjadi rujukan dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan ergonomi, kesehatan kerja perempuan, serta perlindungan pekerja dari dampak paparan di lingkungan kerja.

Di sisi lain, Dr. Hasnawati Amqam, SKM., M.Kes ikut memperkuat jajaran akademisi K3 dengan fokus pada aspek psikososial dan kesejahteraan pekerja. Kontribusinya tampak dalam riset-riset yang menghubungkan stres kerja, produktivitas, dan kesehatan mental dengan keselamatan kerja secara keseluruhan.

Tidak kalah penting adalah Prof. Dr. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH., PhD, yang meskipun dikenal luas dalam bidang administrasi kebijakan kesehatan, juga banyak mendorong integrasi kebijakan kesehatan kerja dalam tata kelola sektor publik maupun swasta.

Perannya memberi perspektif makro tentang bagaimana K3 harus ditempatkan sebagai bagian integral pembangunan kesehatan nasional.

Dengan keberadaan para pakar ini, FKM Unhas tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai laboratorium pengetahuan dan advokasi yang mempertemukan teori dengan realitas di lapangan.

Keahlian mereka memastikan bahwa isu K3 tidak sekadar menjadi bahan ajar, melainkan bagian dari upaya nyata menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.

Profil lulusan

Seorang mahasiswa K3 FKM Unhas, setelah melewati perkuliahan yang penuh teori dan praktik, bukan hanya lulus dengan gelar sarjana, tetapi juga membawa seperangkat kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Mereka memahami bagaimana mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja, melakukan analisis risiko, hingga merancang strategi pencegahan kecelakaan.

Bayangkan seorang lulusan K3 yang bekerja di industri migas di lepas pantai. Ia bertugas memastikan seluruh prosedur keselamatan dipatuhi, mulai dari penggunaan alat pelindung diri hingga perencanaan evakuasi darurat.

Kehadiran mereka bisa menentukan apakah sebuah operasi berjalan aman atau justru berpotensi menimbulkan bencana.

Ada juga lulusan yang memilih jalur akademik dan riset. Mereka meneliti dampak jangka panjang paparan zat kimia di pabrik, mengkaji pola penyakit akibat kerja, atau mengembangkan model intervensi berbasis masyarakat agar pekerja sektor informal tidak terabaikan.

Di sisi lain, tak sedikit pula lulusan yang berkiprah di sektor pemerintahan. Mereka bekerja di Kementerian Ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan, atau Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menyusun regulasi dan program yang menjamin hak-hak pekerja atas keselamatan kerja.

Bahkan, ada pula lulusan yang menjadi konsultan independen. Mereka mendampingi perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3, melakukan audit keselamatan, serta memberikan pelatihan kepada karyawan agar budaya kerja aman tumbuh kuat di setiap level organisasi.

Dengan demikian, luaran mahasiswa K3 FKM Unhas dapat berwujud profesional lapangan, peneliti, birokrat, pendidik, maupun konsultan. Semuanya bermuara pada satu tujuan: menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

___
Pembaca sekalian, artikel ini adalah hasil pendalaman online, jika ada masukan, silakan dikirim ke pelakitamedia@gmail.com