PELAKITA.ID – Meski masih berproses atau masih menunggu kepastian hukum tetap, kabar mengejutkan datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ebenezer, nama ini asik, artinya ‘Batu Penolong’ dari bahasa Ibrani, sosok yang dikenal sebagai aktivis vokal dan pegiat sosial, ditangkap dalam operasi tangkap tangan. Bak petir di siang bolong menghunjam ke nama top pria yang akrab disapa Noel itu.
Hari ini, sejak petang, ramai berseliweran video yang menggambarkan iring-iringan barang bukti OTT seperti moge atau motor gede hingga mobil semakin menempatkan Ebenezer sebagai korup.
“Gilak, motor gedenya banyak banget, ada mobilnya pulak!” kata seorang kawan.
Sebagai renungan, pembaca sekalian, OTT itu lebih dari sekadar kasus hukum, peristiwa ini menjadi fenomena sosial-politik yang layak dicermati: bagaimana seorang figur publik yang selama ini dianggap idealis bisa terseret dalam pusaran praktik transaksional.
Ebenezer bukan sekadar nama. Ia seorang aktivis yang sering muncul di publik, membangun citra tegas dan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Satu waktu dia berapi-api melawan praktik korupsi bahkan dengan gagah berani ‘kalau perlu dihukum mati’. Kita berdecak kagum, keren ini orang.
Jejak digitalnya dipenuhi pernyataan moral, kampanye sosial, dan kritik terhadap ketidakadilan. Sungguh luar biasa.
Tapi kata kawan saya, jangan mudah terharu. Itu terbukti, ada realitas yang kini terbuka memperlihatkan kontradiksi antara kata-kata dan tindakan.
Figur yang kita kenal sebagai pejuang idealisme ini ternyata juga berada dekat dengan lingkar kekuasaan—sebuah hubungan yang selalu rawan godaan kompromi.
Perilaku yang Menarik Dicermati
Kasus Ebenezer membuka mata kita pada perilaku publik figur yang kerap “menjual moralitas” di ruang publik, sementara praktik keseharian mereka kadang jauh dari idealisme yang mereka usung.
Lencana, badge, pin, dan segala macam yang disematkan di dada hingga bagian perut ternyata pesannya berkebalikan, dia masuk perangkap tipu-tipu dunia, harta, uang. Dia disebut di-OTT karena pemerasan.
Kita jadi tahu, kedekatan dengan kekuasaan dan jaringan politik membuat batas antara advokasi sosial dan kepentingan pribadi menjadi tipis.
Kita pun perlu bertanya: apakah konsistensi sikap seorang aktivis cukup kuat ketika dihadapkan pada godaan kuasa dan materi? Bagaimana kita kelak jika dapat peluang jabatan, dan sikap seperti apa yang harus dilakonkan saat goda dunia sungguh meninabobo?
Ebenezer yang gagah perkasa itu menggambarkan contoh fenomena buzzer dan tim sukses sering menjadi jalan pintas bagi figur publik untuk meraih pengaruh, akses, dan keuntungan. Namun, risiko besar mengikuti langkah ini: independensi mudah terkikis, idealisme diganti pragmatisme, dan godaan transaksional semakin nyata.
Ebenezer adalah contoh nyata bagaimana aktivis yang masuk pusaran politik praktis bisa terseret ke masalah hukum.
Ketika integritas dipertaruhkan demi akses atau materi, batas etika dan hukum cepat kabur. Aktivis yang “bermain” di ranah politik praktis menghadapi risiko besar: dari sekadar kompromi kecil hingga kasus hukum yang mengubah citra mereka selamanya.
Pola ini bukan unik: dari aktivisme menuju pragmatisme politik, banyak figur publik tergelincir ketika kepentingan pribadi mengalahkan prinsip.
Hikmah untuk Kita Semua
Kasus ini menjadi pelajaran penting. Aktivisme sejati menuntut konsistensi, bukan sekadar sorotan publik. Kritis terhadap kekuasaan boleh, tapi jangan terjebak menjadi bagian dari transaksi politik. Integritas dan transparansi harus dijaga, dan peran advokasi sosial harus jelas berbeda dari kepentingan politik praktis.
Publik belajar bahwa figur paling vokal pun tetap manusia biasa: bisa tergoda, bisa jatuh. Maka, daripada membangun kultus individu, kita harus membangun sistem yang sehat.
OTT KPK terhadap Ebenezer menjadi cermin betapa rapuhnya moralitas publik ketika dihadapkan pada kuasa dan uang. Kita pun bisa bertanya, jangan-jangana memang tabiat itu sudah sering dilakukan tapi baru kali ini terendus indra penciuman hukum?
Sosodara, kasus ini menantang kita untuk bertanya: apakah kita belajar dari jatuhnya figur ini, atau hanya menunggu kasus serupa terjadi pada tokoh serupa, seperjuangan, se-buzzer berikutnya?
___
Denun
Tamarunang, 21 Agustus 2025









