PELAKITA.ID – Di sebuah sudut Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda, aroma harum gula aren menyeruak semalam. Tepatnya pada 19 Agustus 2025, Pak Dusun Habir Wakka kembali melanjutkan tradisi yang sudah lama melekat di kampung: membuat gula aren.
Hasil olahan tangan Pak Dusun kali ini mencapai sekitar 10 kilogram, berbentuk bulatan setengah lingkaran yang tersusun rapi di atas tampah bambu. Dengan warna cokelat pekat berkilau, gula aren itu terlihat sederhana, namun menyimpan nilai penting bagi kehidupan warga.
Pembuatan gula aren bukan perkara singkat. Sejak kemarin, Pak Dusun telah menyiapkan nira dari pohon aren yang tumbuh subur di sekitar dusun. Nira segar ditampung, lalu dimasak perlahan di atas tungku hingga mengental.
Proses memasak ini bisa memakan waktu berjam-jam, sembari diaduk tanpa henti agar hasilnya rata dan tidak gosong.
Begitu nira mengental, cairan manis itu dituang ke dalam cetakan berbentuk setengah bola. Malam tadi, gula yang mulai mengeras dilepas dari cetakannya, menghasilkan bentuk khas yang siap dipasarkan atau dipakai sendiri oleh warga.
Hasil yang Jadi Kebanggaan
Gula aren Balambano bukan sekadar bahan pemanis alami. Ia merepresentasikan kerja keras, ketekunan, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari satu malam kerja keras Pak Dusun Habir Wakka, lahirlah 10 kilogram gula aren yang bisa menjadi bahan masakan, campuran minuman, bahkan komoditas bernilai ekonomi.
“Bagi masyarakat Balambano, gula aren adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Rasanya manis alami, tanpa bahan tambahan, menjadikannya produk yang sehat sekaligus memiliki potensi pasar yang luas,” kata fasilitator desa Yahyuddin kepada Pelakita.ID, 19 Agustus 2025.
Kini, kata Yahyuddin, potensi gula aren Balambano semakin terbuka lebar. “Dari tangan Pak Dusun kini semakin banyak warga bisa ikut mengembangkan usaha ini,” kata Yahyuddin.

“Rumah produksi yang dibantukan PT Vale Indonesia siap menjadi etalase utama bagi produk ini. Kapasitas rumah produksi tersebut telah diperkuat setelah adanya studi banding ke Desa Malimbu, Sabbang,” tambah Yahyuddin.
Menurut Habir, pelatihan yang diikutinya difasilitasi oleh PPM SDGs PT Vale.
“Pengalaman belajar dari desa lain ini berbuah hasil, kualitas produksi gula aren Balambano semakin terjamin, dengan dukungan peralatan dan manajemen yang lebih baik,” kaya Habir saat ditemui Pelakita, pekan lalu di depan rumah produksinya.
Rumah produksi ini bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga simbol transformasi—dari produksi tradisional untuk kebutuhan sehari-hari menjadi produksi yang berorientasi pasar.
“Dengan dukungan fasilitas ini, gula aren Balambano punya peluang lebih besar menembus pasar lokal, regional, bahkan nasional,” kata Jumardi Lanta, program manager the COMMIT Foundation saat berkunjung ke Balambano.
Menjaga Tradisi, Membangun Ekonomi
Di tengah arus modernisasi, pembuatan gula aren seperti yang dilakukan Pak Dusun adalah contoh nyata bagaimana tradisi bisa tetap hidup dan memberi manfaat nyata.
Bila dikelola lebih serius, gula aren Balambano berpeluang menjadi produk unggulan desa—baik sebagai identitas budaya maupun sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Malam itu, di bawah cahaya lampu sederhana, butiran gula aren tersusun rapi di atas tampah.
Sebuah simbol bahwa di balik manisnya gula, ada kerja keras, ada dedikasi, ada dukungan kolaboratif, dan ada harapan untuk masa depan desa.
Penulis Denun









